My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 58



Setelah mendapat suntikan obat bius, Zoey akhirnya bisa memejamkan mata selama hampir 12 jam. Melupakan sejenak rasa sakit pada pinggangnya. Bahkan ia juga lupa dengan kejadian yang membuatnya terbaring di rumah sakit sekarang.


Zoey perlahan membuka mata lalu sedikit demi sedikit ia mengumpulkan kesadaran. Seluruh badannya terasa kaku dan berat. Ia menoleh ke samping dan mendapati seorang laki-laki tertidur sambil memeluknya.


"Sam…" panggil Zoey lirih.


Namun si pemilik nama tak sedikitpun merespon panggilan itu. Cowok tersebut terlelap dengan nyenyak seraya mendekap erat si pasien di hadapannya.


"Samuel…" Zoey kembali membangunkan sang pacar, kali ini dengan sedikit mengguncang badannya. Tetap saja masih bergeming.


Cup!


Zoey mencium kilas kening Samuel. Barulah cowok itu pelan-pelan mengerjapkan matanya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Samuel dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Zoey mengangguk seraya tersenyum. Ia menegakkan sedikit badannya untuk bersandar pada kepala ranjang. Tapi belum juga badan itu berhasil tegak sempurna, tiba-tiba saraf pada pinggangnya mengirimkan sinyal rasa sakit yang teramat sangat.


Seketika pandangan Zoey mengabur dan mulutnya merespon lebih cepat. Ia memekik kesakitan lalu dengan cepat meraba sumber rasa sakitnya.


"Stop!!! Kamu jangan banyak gerak dulu. Tetap berbaring. Biar aku minta orang buat panggil dokter."


Samuel segera melompat dari ranjang dan bergegas menuju pintu. Ia memerintahkan seorang anak buah Ayah Zoey yang berjaga di depan ruangan untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian pintu kamar rawat inap Zoey diketuk. Seorang dokter masuk bersama seorang perawat yang mengekor di belakangnya.


"Pasien sudah sadar?" tanya si dokter ramah. "Saya akan memeriksa tanda-tanda vitalnya."


Sedangkan si perawat hanya berdiri di sisi dinding sambil memperhatikan dokter itu bekerja. Mungkin seperti inilah perbedaan dokter sungguhan dan dokter abal-abal yang hanya bermodal tampang saja.


"Semuanya baik. Pasien hanya perlu beristirahat saja untuk masa pemulihan." kata si dokter sambil memeriksa selang infus Zoey.


Si dokter cantik kemudian memanggil seorang perawat yang menjadi asistennya di ruangan tersebut.


"Terus pantau perkembangan pasien ini dan pastikan obat-obatnya diminum sesuai dosis yang saya berikan."


Perawat itu tersenyum dan mengangguk singkat. "Baik, Dok."


Si dokter beserta perawatnya kemudian beranjak meninggalkan ruangan setelah sebelumnya mereka berpamitan pada si penghuni kamar.


"Kamu mau sesuatu, honey? Biar aku ambilkan." Samuel membantu Zoey merebahkan tubuhnya dan menyelimuti cewek itu sampai sebatas bawah leher.


Zoey menggeleng lemah. Dia kembali memejamkan mata sembari mendekap tangan Samuel ke dalam dadanya. Yang ia rasakan hanya lelah dan sedikit perih pada pinggangnya. Berbicara soal rasa sakit, sontak mengingatkan Zoey dengan kejadian yang dialaminya. Matanya seketika kembali terbuka dan menatap Samuel yang tengah membelai lembut kepalanya.


"Yank, bisa tolong ambilkan handphone ku…"


Samuel lalu meraih sebuah smartphone berwarna burgundy yang tergeletak di atas meja kecil dan mengangsurkannya pada si pemilik.


"Kamu disuruh istirahat malah mainan hp."


Zoey tidak menyahuti gerutuan Samuel. Ia sibuk memeriksa video rekaman cctv dari lokasi kejadian. Sebelumnya cewek itu sudah meretas semua kamera pengintai yang terpasang di seluruh penjuru sekolah. Tujuannya tak lain adalah agar dia dapat memantau setiap sudut tempat tersebut. Berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang mencurigakan.