My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 106



Langit tampak hitam pekat. Sesekali pancaran kilat turun memperlihatkan wajahnya. Menandakan hujan akan segera turun menyentuh tanah.


Di tambah hawa dingin yang terasa sampai menusuk tulang. Bahkan untuk beberapa alasan, angin yang berhembus di tempat itu sanggup membuat bulu tengkuk meremang.


Meski begitu, suasana tersebut tak lantas menyurutkan nyali seorang siswa laki-laki yang saat ini tengah berjalan sendirian di dalam hutan.


Entah apa yang akan ia lakukan di sana. Tapi yang jelas tindakan cowok itu telah berhasil menarik rasa penasaran seseorang.


Dari balik pepohonan yang tinggi menjulang, terlihat seorang wanita muda tengah berjalan dalam keheningan. Dia mengintai si laki-laki yang berjalan lebih dulu di depannya.


Cewek itu merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini. Sehingga dia berniat untuk memastikannya. Bahkan kalau bisa mencegahnya.


SRAAKKK!!!


"Keluar saja. Anda tidak perlu diam-diam mengikuti saya."


Rasanya seperti mendapat kejutan listrik. Tubuh Zoey langsung kaku dan tidak sanggup bergerak selama beberapa saat. Ia tidak menyangka kalau akan ketahuan secepat ini. Oknum 'itu' memang bukan sosok sembarangan.


Setelah berpisah dengan Samuel tadi, Zoey tak sengaja melihat gelagat aneh dari oknum 'itu'. Karena penasaran, Zoey lantas mengikutinya hingga masuk ke dalam hutan. Meskipun tempat tersebut sangat minim pencahayaan, tapi Zoey yakin kalau dirinya tidak membuntuti orang yang salah. 


Kini orang tersebut telah berdiri di hadapannya dengan sikap santai dan tangan yang terlipat ke dada, seolah-olah keduanya sudah berteman dengan akrab. 


"Dari mana kamu tau kalau itu saya?"


Denish tersenyum simpul mendengar nada bicara Zoey yang ketus. "Memang siapa lagi orang yang suka dengan aksi mata-mata selain ibu?" 


Meski Denish menatap Zoey sembari tersenyum, tapi keramahannya tetap saja terasa palsu dan memuakkan. Ingin sekali Zoey merobek wajah bocah itu untuk membongkar kedoknya.


"Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal sama kamu."


"Kamu tau dimana Jasmine sekarang?"


"Apa maksud bu Zoey?" tanya Denish balik dengan tampang sok polos.


"Kalau begitu saya ubah pertanyaannya. Apakah teman kamu itu sekarang masih hidup atau sudah mati?"


"Ya Tuhan… Kejam sekali mulut ibu. Menyumpahi murid sendiri mati."


Tidak menyangka kata-kata itu diucapkan oleh Denish. Seakan dirinya orang berhati baik. Benar-benar cowok penuh topeng.


"Bukankah itu hobby kamu, heh?! Mengorbankan nyawa teman kamu sendiri demi tujuan yang tidak masuk akal." todong Zoey.


"Apa Maksud…"


Sebuah senyuman samar tersungging dari bibir Denish yang semakin memancing emosi Zoey.


"Cukup Denish!!! Saya tau kamu menculik Jasmine dan menyiksa anak itu!!"


"Ibu menuduh saya?" sergah Denish. "Memang ibu punya bukti apa?"


Denish bertanya dengan ekspresi polos yang tidak pada tempatnya. Seolah dia tidak mengetahui tentang kejahatan besar yang telah dilakukannya.


Zoey tersenyum kecut. Ia sudah muak berurusan dengan muridnya yang satu ini. Ucapannya, sikapnya, senyumannya, semua penuh kemunafikkan.


Cowok itu seperti sudah terlatih untuk memakai topeng malaikat sejak ia lahir. Sangat jelas tak tersirat sedikitpun kebohongan dari raut wajah tersebut. Siapapun yang tidak begitu dekat dengannya pasti akan berpikir kalau sosok yang saat ini tengah tersenyum di hadapan Zoey tersebut adalah manusia berhati bersih. Siswa tersebut sangat pandai menyembunyikan sesuatu. Karena itulah ia sukses menjalani kehidupannya sebagai seseorang berkelainan jiwa.