
"Lo ngintipin siapa?" sebuah suara berat nan serak mengagetkan Samuel yang tengah serius dengan aktivitasnya.
"Ngapain lo ikut ke sini?" tanya Samuel pada si pengacau tersebut yang tentunya adalah si Leo.
"Lha lo tiba-tiba ninggalin gue gitu aja. Gue jadi merana tau…" jawab si Leo dengan tampang sok imutnya.
"Hiii… Jijik gue liat muka lo!"
Belum sempat Leo membalas ucapan sang kawan, Samuel dengan langkah cepat menarik Leo dan membawanya bersembunyi di balik ruang OSIS yang letaknya tepat bersebelahan dengan UKS. Untung saja ruangan tersebut kosong.
"Ngapain sih lo ngajakin gue ngumpet?!" umpat Leo yang tidak nyaman dengan situasi mereka saat ini.
"Ssttt… Pelanin suara lo!"
Meski kesal namun Leo menurut saja perintah Samuel daripada dirinya babak belur dihajar cowok itu. Karena begitulah Samuel kalau mode gaharnya sedang ON. Apapun yang dia ucapkan selalu menjadi titah mutlak yang harus diikuti siapa saja yang mendengarnya.
"Itu bukannya si Kentang ya??? Dia ngapain main ke UKS?"
"......"
Samuel terdiam dan tidak berani menjawab. Dia tidak yakin apakah Leo termasuk salah satu orang yang diijinkan mendengar informasi rahasia sang pacar.
"Kok mencurigakan gitu ya?" gumam Leo sambil terus mengawasi pergerakan teman sekelasnya yang mengendap-endap keluar dari ruang UKS.
Setelah beberapa saat oknum yang mereka ikuti itu berlalu meninggalkan UKS, perlahan Samuel mulai ambil langkah dan kembali membuntuti orang tersebut.
"Lo mau ngikutin dia, Sam?" tanya Leo yang masih saja mengekor di belakang Samuel.
"Gue ada urusan sama dia. Lo sendiri ngapain ikut-ikutan?"
"Gue penasaran sama tuh anak. Feeling gue nggak enak."
"Lo punya feeling juga?" tanya Samuel dengan nada sinis.
"Menurut lo hati gue ini cuma fosil nggak berguna gitu?"
Tak disangka langkah pengintaian mereka berhenti di sebuah gudang lama yang letaknya cukup jauh dari bangunan utama sekolah.
Namun sudah pasti bukan si tokoh jahat itu yang dimaksud. Melainkan seseorang yang memakai jubah besar nan panjang berwarna hitam dan juga sebuah penutup kepala yang hanya memperlihatkan bagian matanya saja.
Itu orang mau nyamar apa wisuda? Ngapain pakai jubah hitam gitu...
"Itu si Kentang ngasih apaan sama si Voldemort?"
Ternyata bukan hanya Samuel yang berpikir orang tersebut si Voldemort -musuh bebuyutan Harry Potter-.
"Kayaknya obat. Mungkin yang tadi dia ambil di UKS."
"Terus siapa orang itu?"
Samuel tidak menghiraukan lagi pertanyaan temannya itu. Ia lantas mengeluarkan smartphone canggih miliknya dan mengambil beberapa gambar serta video. Mungkin saja itu aksi tindak kriminal, atau lebih parahnya lagi suatu transaksi ilegal seperti jual-beli narkotika misalnya.
"Aku kirimkan beberapa gambar dari orang itu. Cepat kamu lihat."
Samuel berbicara dengan sang pacar -yang saat ini pasti masih mengajar di dalam kelas- melalui earphone khusus yang ia terima.
"Ok, Sam. Tapi sekarang kamu lagi dimana? Kamu bolos pelajaran saya?!"
"Take easy, Honey… Aku bisa belajar sama kamu nanti malam."
"Cepat kembali atau saya beri kamu nilai F!"
"Nanggung, Honey… Aku lagi ngikutin orang itu. Udah dulu ya. Dia kayaknya mau pergi. Bye."
Sebelum mendapat omelan yang lebih panjang, Samuel segera menekan tombol off pada earphone yang melekat di telinganya.
"Sejak kapan lo punya alat canggih kayak gitu, Bro?"
"Udah diem. Mending lo balik ke kelas. Lagi ada ulangan katanya."
"Ogah! Giliran ulangan aja gue disuruh balik."
Samuel kembali memfokuskan pengamatannya pada dua orang yang tengah melangsungkan transaksi mencurigakan itu. Dia semakin penasaran siapa gerangan yang saat ini sedang ditemui Denish. Apakah orang itu termasuk salah satu komplotannya? Atau jangan-jangan dia otak di balik semua teror mengerikan yang selama ini terjadi di sekolah???