My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 57



"Zoey masuk rumah sakit, Pa. Sekarang dia lagi di UGD." jawab Samuel dengan lesu.


"What?!!! Rumah sakit mana, Sam?" Ayah Zoey mulai terdengar cemas mendengar kabar anaknya yang tengah ada di rumah sakit.


"Santa Elizabeth, Pa…"


Tutt… Ttuuttt…


Sambungan telpon seketika terputus sebelum Samuel menjelaskan lebih lanjut tentang kondisi Zoey saat ini.


PRAAKKK!!!


Samuel membanting handphone ke lantai hingga layar benda tersebut hancur berkeping-keping. Leo prihatin melihat kondisi temannya yang sedang kacau. Dia hanya bisa menghantamkan pukulan ke dinding rumah sakit untuk melampiaskan kekesalan hatinya.


"Keluarga pasien!" teriak seorang perawat dari depan pintu UGD.


"Saya keluarganya! Bagaimana keadaan Zoey sekarang?!!" Samuel mencengkeram bahu perawat itu dengan kuat. Bahkan sampai membuat si perawat merintih menahan kesakitan.


"Pasien kehilangan banyak darah. Dan secepatnya membutuhkan transfusi. Apa ada dari keluarga yang bergolongan darah AB?"


"Saya AB! Cepat ambil darah saya dan segera selamatkan orang itu!!!"


"Baik Mas. Tapi bisa tolong pelankan suaranya. Ini di rumah sakit. Jangan sampai…" Perawat itu tampak ketakutan mendengar suara Samuel yang terus menggila bagaikan harimau kelaparan.


"Halah persetan dengan rumah sakit!!! Gue bisa beli ini rumah sakit kalau mau!!!"


Setelah mengatakan semua itu, Samuel serta merta membawa dirinya masuk ke dalam ruangan UGD sampai seorang perawat laki-laki menarik tangannya dan membuat langkah Samuel berhenti di tempat.


"Tolong pakai masker dan perlengkapan yang lain sebelum anda masuk. Ini ruangan steril tidak diperkenankan sembarang orang masuk ke dalam begitu saja."


Samuel mendelik kesal mendengar anjuran perawat tersebut. Namun tampaknya hal itu tidak berpengaruh pada si perawat. Buktinya ia masih bergeming meskipun sudah mendapat tatapan membunuh ala Samuel. Cowok itu akhirnya mengalah dan memakai semua perlengkapan yang diberikan si perawat.


Deg!


Jantung Samuel mendadak berhenti melihat pemandangan mengerikan itu. Zoey terbaring sambil menutup rapat kedua matanya. Alat pendeteksi detak jantung menunjukkan angka yang sangat kecil. Menandakan kalau jantung itu berdetak sangat lemah.


Sontak air mata Samuel mengalir membasahi masker yang menutup sebagian wajahnya. Semoga dia belum terlambat. Ia tidak siap untuk kehilangan orang yang dicintainya. Apapun akan Samuel lakukan untuk mengembalikan detak jantung tersebut.


"Silahkan kamu berbaring di sini dan saya akan segera memulai prosedur transfusi darah."


Kali ini tidak ada perlawanan dari Samuel. Dia menuruti semua yang dikatakan si perawat. Samuel menatap dalam mata Zoey yang terpejam rapat. Ia seolah mengungkapkan semua kesedihannya lewat tatapan itu.


Meskipun saat ini Zoey tidak bisa melihatnya, tapi Samuel yakin kalau cewek itu bisa merasakan bisikan hatinya.


Di saat yang bersamaan, Zoey mendapatkan sedikit kesadarannya. Ia merasa seperti tengah bermimpi. Zoey berjalan di sebuah tepian danau yang jernih dengan sebatang pohon besar di sisinya.


Pohon itu tumbuh sangat rindang. Dan di bawah pohon tersebut, Zoey melihat seorang wanita tengah terduduk sambil memainkan sebuah boneka. Wanita itu menyadari kehadiran Zoey dan seketika menolehkan wajahnya…


Setelah sekian lama berpisah, akhirnya sekali lagi Zoey bisa melihat sang Mama. Dia lantas berlari menghambur ke pelukan wanita tersebut.


Kehangatan mendadak menyelimuti tubuh Zoey. Rasa rindu yang selama ini ditahan, seketika membuncah keluar dari pelukan mereka.


"Zoey…" sebuah suara terdengar meneriakkan namanya dari tempat yang terasa sangat jauh.


Zoey melepaskan pelukannya dan menoleh mencari sumber suara. Sang mama yang lebih dahulu menyadari, lantas tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke sisi lain danau tersebut.


Di sana berdiri sesosok pemuda rupawan dengan seragam SMA. Dia tak henti-hentinya memanggil nama Zoey.


"Sam?" Zoey sedikit mengenali sosok tersebut. Dialah orang yang belakangan ini memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.


Sang Mama lalu mengecup sayang kening putrinya dan membisikkan sebuah kalimat yang menyentuh relung terdalam sanubari Zoey.


"Mama sangat menyayangimu, Zoey. Selalu dan selamanya…"


Seketika itu juga Zoey tersadar dan perlahan membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan yang mengabur. Orang pertama yang Zoey lihat adalah Samuel. Entah kenapa cowok itu berlinang air mata? Lalu Zoey juga melihat Sang Ayah yang nampak sangat cemas. Memangnya apa yang sudah terjadi?


Setelah itu Zoey juga melihat seorang dokter dan beberapa perawat di sampingnya. Si dokter perlahan menggerakkan sebuah senter dengan cahaya kecil, menyinari tepat di mata Zoey. Tanpa diminta secara spontan Zoey mengikuti gerakan senter tersebut.


Kemudian dokter dan perawat itu melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisi Zoey baik-baik saja.


"Pasien sudah melewati masa kritis. Saat ini dia harus banyak istirahat. Jadi saya harap hanya dua orang saja yang berada di ruangan ini." dokter terlihat bingung dengan segerombolan pria berbaju hitam memenuhi ruang perawatan Zoey.


Bisa ditebak kalau semua orang tersebut adalah para bawahan Ayah Zoey. Aaron Kaniel telah berjanji pada dirinya sendiri, kalau suatu saat ada orang yang membuat Zoey terluka maka orang tersebut harus mati di tangannya saat itu juga. Tidak peduli kalau tindakannya melanggar hukum. Toh sudah sejak awal dia selalu lancar membeli hukum tersebut dengan harta kekayaannya. Jadi bukan perkara susah jika hanya membersihkan sebuah pembunuhan.


"Kalian bisa pergi dari sini. Tapi tetap berikan penjagaan ketat di depan kamar Zoey."


"Siap! Laksanakan!!"


"Kamu juga istirahatlah, Sam. Sejak tadi Papa juga tidak melihatmu makan sesuatu."


Samuel menggeleng lemah sambil terus menggenggam tangan Zoey dan sesekali mengecup sayang punggung tangan cewek itu.


"Sam baik-baik saja, Pa. Sam cuma ingin nemenin Zoey di sini." jawab Samuel tanpa berniat sedikitpun beranjak dari tempatnya.


"Ya sudah terserah kamu…"


"Papa tinggal sebentar. Segera hubungi papa kalau sesuatu terjadi di sini."


Samuel mengangguk lemah. Tidak ada sedikitpun tenaga yang tersisa, sekalipun hanya untuk menjawab pesan calon mertuanya.


Ayah Zoey mengusap lembut kepala Samuel sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang perawatan.


Malam semakin larut, Samuel tidak sanggup lagi menahan rasa kantuknya. Ia memutuskan untuk berbaring di samping Zoey dan mendekap cewek itu ke dalam pelukannya.