My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 114



WHAT?!!! MA??? Jadi ini…


Menyadari ekspresi bingung pada wajah pasiennya, si dokter lantas memperkenalkan diri kepada Zoey.


"Halo, Sayang… Saya Mamanya Samuel. Saya dokter bedah yang menangani operasi kamu semalam."


"Oh… Terima kasih, Tante…" sahut Zoey sedikit canggung. Ia tidak mengira kalau pertemuannya dengan si calon mertua akan terjadi pada sikon seperti ini.


"Mmm… Jangan panggil saya Tante. Saya masih muda lho… Haha"


Zoey tampak bingung mendengar joke wanita cantik tersebut. Kalau bukan tante terus dia minta dipanggil apa? Kakak???


"Panggil saja Mama Andita… Saya ini kan calon Mama kamu juga." lanjut si dokter sambil mengusap sayang kepala Zoey.


Deg!


Seketika hati Zoey tersentuh mendapat perlakuan lembut seperti itu. Sudah lama ia merindukan sentuhan sayang seorang ibu. Dan kini ia berhasil mendapatkannya dari seorang wanita yang tak lain adalah ibunda sang pacar.


"Iya, Ma…"


"Cie… Bu Zoey udah dapat lampu hijau nih… Kapan bu mau diresmikan?" tiba-tiba Leo menyahut dengan suara lantang yang tidak pada tempatnya.


Mulut bocah satu itu memang tak ubahnya seperti mercon. Selalu meledak setiap ada kesempatan. Tidakkah ia melihat kalau saat ini momentnya sedang syahdu. Sungguh malu Zoey mengakui anak itu sebagai muridnya.


"Secepatnya. Setelah gue lulus sekolah!" kali ini Samuel yang langsung angkat bicara.


Dan itu memang benar. Dia tidak sedang mengkhayal atau hanya asal bicara. Dia sungguh berniat akan langsung menikahi gadisnya begitu ia lulus sekolah.


"Apa kamu tidak mau kuliah dulu? Calon mantu Mama ini seorang magister lho…"


"Dari mana tante tau kalau bu Zoey sudah selesai S2?"


"Iya, Ma. Rencananya Zoey juga mau ambil gelar doktor."


"Tuh kan, Sam… Zoey ajah masih ingin lanjut sekolah. Kenapa kamu malah buru-buru sih?"


Samuel sontak memberengut kesal. Pasalnya Zoey seperti tidak mengerti kode keras di balik pernyataan Samuel tadi. Cowok itu hanya ingin secepatnya bisa terus berada di sisi Zoey. Kalau perlu Samuel akan menempel layaknya lem super yang akan sulit dilepas kalau sudah merekat.


"Nggak boleh. Kamu cukup jadi istri aku dan duduk manis di rumah. Biarkan aku yang bekerja dan menghidupi kamu dengan layak."


Seketika kata-kata Samuel tersebut disabut gelak tawa oleh Leo. Di luar dugaan, Samuel yang selama ini dikenal dingin dan acuh, mendadak bicara soal tanggung jawab. Kesurupan setan apa dia di hutan???


"Buahahaha… Kalo ngayal jangan siang-siang woy! Lo kesambet demit mana bisa ngomong gitu?"


Reaksi sebaliknya justru ditunjukan sang pacar. Zoey merasa tergetar mendengar ucapan Samuel. Dari balik kata-kata tersebut tidak sedikitpun terselip keraguan. Dia bersungguh-sungguh.


"Sudah-sudah… Jangan berpikir terlalu jauh dulu. Minggu depan kalian berdua UNBK kan? Pastikan dulu kalian LULUS, baru boleh berangan sepuasnya."


Mama Samuel dengan bijak menengahi obrolan tersebut sebelum nantinya berlanjut menjadi kericuhan yang malah akan mengganggu pasien lain. Ingat, mereka masih di rumah sakit.


"Oh ya, Mama mau ambil sampel darah kamu Zoey. Bisa tolong digulung lengan bajunya?"


Zoey mengangguk. Biasanya cewek itu paling malas berurusan dengan jarum suntik. Tapi kali ini lain. Ia akan selalu menuruti permintaan sang calon mertua selayaknya ia mentaati titah ayahnya.


"Buat apalagi, ma? Bukannya pemeriksaan lab sudah selesai kemarin ya?" tanya Samuel penasaran.


"Di sini dokternya Mama, Sam. Kamu diam saja. Dan juga Mama cuma ingin memastikan kalau kesehatan calon mantu Mama ini benar-benar bagus seluruhnya…"


Bohong.


Sebenarnya bukan itu tujuan utama pemeriksaan darah Zoey. Mama Samuel hanya ingin memastikan kalau hasil lab yang ia baca kemarin tidak salah. Bagaimana bisa pacar anaknya mendapatkan hasil pemeriksaan semacam itu? Tidak mungkin kan kalau Zoey…