My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 39



"Obat terlarang? NARKOBA maksudnya???!"


"Bukan. Itu semacam obat bius. Digolongkan obat terlarang karena obat itu tidak beredar bebas dipasaran. Harus memiliki lisensi dokter dan ijin khusus untuk mendapatkan obat itu."


"Kalau gitu kenapa ada obat itu di UKS? Dan buat apa si Denish mengambilnya?"


"Sebenarnya ada satu timing yang aneh menurutku. Semua itu terjadi di hari yang sama saat Cindy ditemukan terluka di gedung olahraga."


DUUAARRR!!!


Samuel seperti ditampar dengan kenyataan. Seketika emosinya meluap. Dadanya serasa mau meledak.


"Jadi maksud kamu, Cindy…"


Zoey yang paham dengan suasana hati Samuel segera menggenggam tangan sang pacar yang sudah mengepal keras. Samuel tidak boleh terpancing emosi. Zoey harus bisa mengendalikan amarah cowok itu.


"Aku kan sudah bilang belum pasti. Jadi jangan berbuat apapun atau kamu malah akan membuat semuanya berantakan."


Samuel terbelalak menatap Zoey. Benarkah dia bisa bersikap setenang itu mengetahui ada muridnya yang mungkin saja menjadi pelaku kejahatan. Dan lagi korban dari kejahatan itu tak lain adalah sahabat Samuel sendiri. Bagaimana bisa Zoey meminta dirinya untuk tetap diam?


"Kamu percaya saja sama aku. Kasus ini akan aku selesaikan sampai tuntas. Kamu tahukan kalau ini bukan yang pertama buatku?" Zoey tersenyum manis untuk mendinginkan hati Samuel.


Sungguh cantik... Sangat sangat cantik!


Hati Samuel seketika meluluh melihat senyuman manis itu. Walau belum seratus persen emosinya menghilang, paling tidak kepala cowok itu mulai bisa berpikir rasional.


"Terus ini apa?" Samuel menunjuk sebuah foto yang terpampang di layar laptop.


"Sepertinya aku pernah ke sini," lanjutnya sambil memutar kembali memori di dalam otak.


Deg!


Jadi Samuel tahu tempat itu. Ya Tuhan… Tidak ada ruginya aku menceritakan semua ini pada pacarku… Oh My! Pacar???


Zoey tersenyum puas sembari memperhatikan Samuel yang tengah sibuk mengingat sesuatu.


"Si Kentang?"


"Ah… Si Denish maksud ku."


"Apa…" Zoey hendak berteriak tapi langsung ia urungkan. Samuel tidak boleh tahu lebih dari ini.


"Kamu kenapa, honey?" tanya Samuel bingung yang melihat Zoey mendadak bungkam.


"Apa... Kamu tidak lapar? Dari tadi kita belum makan." sahut Zoey mengalihkan pembicaraan.


"Sebenarnya lapar juga sih. Hehe…"


Zoey tersenyum simpul. "Ayo kita turun. Akan aku buatkan sesuatu untuk makan malam."


"Kamu bisa masak, honey?"


"Lihat dan coba rasakan…" bisik Zoey sambil meniup tengkuk Samuel.


GREPP!!!


Samuel seketika menarik pinggang Zoey dan melumat kasar bibir cewek itu. Zoey hanya tersenyum di antara ciuman mereka. Beginilah keuntungan punya kekasih yang lebih muda. Jiwanya masih panas dan menggelora.


Zoey mendorong pelan dada Samuel, "Kita keluar dan makan malam." tegas Zoey sambil mencium kilas bibir Samuel.


Mereka bergegas menuju dapur yang berada di belakang ruang utama. Saat melintasi ruangan tersebut, Samuel terperangah melihat deretan senjata api yang tersimpan rapi di dalam sebuah lemari kaca berukuran besar. Sebelumnya dia tidak begitu memperhatikan kalau ada senjata sebanyak itu. Bukan hanya senapan, di rumah Zoey juga tersimpan beberapa samurai dan alat panahan. Pantas saja Zoey begitu terlatih saat mengajar memanah. Rupanya hal itu sudah menjadi bagian dari keseharian si agen.


"Kamu bisa pakai semua itu, honey?"


"Senjata maksud kamu?"


"Hu'um."


"Tentu saja, Sam. Papa tidak akan melepaskan ku ke medan perang tanpa persenjataan apapun." Zoey terkekeh pelan.