
Flashback ON
Samuel membuka pintu kamar Zoey dengan pelan. Takut membangunkan macan cantiknya yang mungkin saja sudah terlelap. Cowok itu menghembuskan nafas lega ketika melihat Zoey menutup mata di bawah selimut tebalnya.
Samuel melangkah perlahan dan berjongkok di tepi ranjang sejajar dengan wajah cantik Zoey. Tangannya terulur dan mengusap lembut puncak kepala cewek itu.
"Aku minta maaf, Honey… Aku nggak bermaksud membuat kamu marah." bisik Samuel pelan.
Ia lantas membawa dirinya untuk berbaring di belakang sang pacar. Zoey merasa sebuah tangan memeluk dari belakang dan menyesap kilas belakang lehernya. Orang itu kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher Zoey.
Sebenarnya, sejak tadi Zoey belum tertidur. Ia hanya memejamkan mata untuk mengatur kembali emosinya. Zoey juga sadar ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Dan semua yang dikatakan Samuel pun ia terima dengan jelas di telinganya.
"Eemmhh…" sebuah lenguhan kecil berhasil lolos dari mulut Zoey.
Jadi dia masih bangun?
Samuel tersenyum senang. Ia tahu betul kalau spot itu adalah titik kelemahan gadisnya. Tapi ia tidak menyangka kalau hanya dengan sentuhan kecil seperti itu bisa membuat cewek di hadapannya terangsang.
"Jangan marah lagi, Honey… Aku hanya berusaha untuk membantu dan melindungi kamu." bisik Samuel dengan lembut tepat di telinga Zoey.
"....."
"Bicaralah. Aku tahu kalau kamu belum tidur." goda Samuel sambil mengusap lembut perut cewek itu.
Perlu diketahui saat ini tangan nakal Samuel sudah mulai menyusup di balik piyama tidur Zoey. Pelan-pelan ia membelai setiap jengkal tubuh mulus itu dengan ujung jarinya. Jelas saja hal itu mengganggu Zoey dan membuatnya menggeliat beberapa kali.
Sontak tindakan cewek itu membangkitkan sesuatu yang berbahaya di bagian bawah Samuel. Si kecil junior yang awalnya tertidur mendadak sesak dan meronta ingin keluar dari penjaranya.
Zoey benar-benar menjadi ujian terberat sekaligus ternikmat bagi seorang Samuel.
Secara perlahan Samuel menarik tubuh Zoey dan membuatnya berbalik ke arahnya. Kini dua insan tersebut berbaring dengan saling berhadapan.
Cup!
Sebuah kecupan mesra diberikan Samuel pada kelopak mata Zoey.
Samuel akui gadisnya itu benar-benar cantik. Apalagi dengan wajah polos tanpa make up seperti ini. Membuat Zoey terlihat seperti bocah belasan tahun. Siapa yang menyangka kalau cewek yang saat ini tengah merona malu itu seorang wanita yang usianya mulai menginjak kepala dua.
"Kamu maafin aku?"
"Menurut kamu?" desis Zoey setengah berbisik.
"Tidak. Tapi aku akan terus meminta maaf itu."
"Baguslah kalau kamu sadar. Jadi sekarang bisakah kamu pergi dari tempat tidurku?!" tanya Zoey dengan nada sarkastis.
"Ranjang ini terlalu dingin jika hanya ditiduri satu orang, Honey… Jadi, kamu butuh aku untuk menghangatkannya." goda Samuel dengan senyuman yang sulit diartikan.
Zoey memutar bola matanya jengah. Pacarnya itu benar-benar seorang maniak sexs. Yang ada di pikirannya pasti tidak jauh dari **** wanita. Otaknya selalu saja dipenuhi hal-hal berbau mesum.
"Kamu tidak perlu berpikir. Kita hanya perlu melakukannya."
"Bagaimana kalau aku menolak?!" tukas Zoey tajam.
"Coba saja. Dan aku akan bikin kamu semakin menjerit keenakan..."
Selesai mengucapkan itu, detik berikutnya Samuel langsung melahap bibir ranum Zoey dengan sangat rakus. Ia tidak sedikitpun memberi kesempatan Zoey untuk bernapas. Ubun-ubunnya sudah terisi dengan gairah yang meluap. Pastinya membutuhkan sebuah pelepasan yang panjang untuk menuntaskannya.