
Lalu apa yang terjadi dengan si Agen Rahasia???
Malam itu setelah dilarikan ke rumah sakit, Zoey langsung menjalani beberapa rangkaian operasi yang seluruhnya memakan waktu hampir dua belas jam. Karena terlalu banyak darah yang keluar, akhirnya Zoey memasuki masa kritis yang cukup panjang. Harus menunggu kondisinya stabil dulu baru bisa dilakukan prosedur pembedahan guna mengeluarkan peluru yang bersarang di pahanya. Bahkan gadis malang itu sempat mengalami shock jantung beberapa kali selama berada di ruang UGD yang tentu saja membuat hati sang kekasih ikut ketar-ketir tak karuan.
Beruntung saat itu Samuel sedang berada di rumah sakit tempat mamanya bekerja. Jadi cowok itu bisa sedikit berlega karena ada orang yang bisa ia percaya untuk menyelamatkan nyawa gadisnya.
Memang, kiprah dan kemampuan seorang dr. Andita Paxon -yang tak lain adalah Mama Samuel- di dunia kedokteran sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia sudah ratusan kali melakukan prosedur operasi. Mulai dari operasi ringan sampai operasi transplantasi organ yang tentunya tergolong dalam jenis operasi besar.
Tak ayal Samuel sangat yakin kalau dirinya telah menyerahkan Zoey di tangan dokter yang tepat. Namun meski begitu, Samuel juga terus merasa was-was saat menanti waktu operasi yang tak kunjung usai.
Sekali lagi, sang malaikat maut masih bermurah hati terhadap Zoey. Bagaimanapun juga usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Setelah berjam-jam lamanya Zoey berada di dalam ruang keramat tersebut, sekarang ia sudah bisa dipindahkan ke bangsal perawatan. Walaupun cewek itu masih saja belum sadar dari pengaruh obat anestesinya.
"Dia baik-baik saja kan, Ma?" tanya Samuel dengan nada murung yang tidak bisa ditutupinya.
"She'll be fine, Sam. Dia hanya perlu lebih banyak istirahat."
Samuel merasa lega luar biasa. Sampai tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya.
"Tapi kalau Mama boleh tau, dia siapa, Sam?"
"Namanya Zoey, Ma. Dia anaknya Papa Kaniel…"
Sang Mama hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia lalu menarik sebuah kursi dan duduk di samping putra semata wayangnya.
Pantas saja kamu sampai kacau begini, Nak…
"Sebaiknya kamu pulang, Sayang. Istirahatlah. Dia sudah melewati masa kritisnya."
Cowok itu terlihat hancur. Bukan hanya penampilannya yang berantakan, tapi hatinya juga kacau. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali makanan masuk ke dalam tubuhnya. Sepanjang malam Samuel hanya terus menggenggam tangan sang pacar dan berharap cewek itu segera membuka mata.
"Oh ya, Sam… Tadi Mama…"
Melihat kondisi putranya yang sedang muram, Mama Samuel mendadak menghentikan ucapannya. Ia urung menanyakan sesuatu yang menurutnya janggal pada diri Zoey.
"Kenapa, Ma?"
"Oh?" dr. Andita tersenyum lembut, "Nggak apa-apa, Sayang. Besok saja kita bicarakan."
"Hemmm…"
Mungkin aku hanya salah lihat. Atau bisa juga petugas laboratorium yang salah memberikan hasil pemeriksaan…
BRAKKK!!!
Pintu ruang perawatan terbuka dengan kasar. Nampak seorang laki-laki dengan raut muka yang diliputi kecemasan, tergesa-gesa masuk dan langsung berdiri di samping ranjang.
"Sam, bagaimana keadaan Zoey?!"
Saat Samuel hendak membuka mulutnya, sang Mama lebih dulu angkat bicara dan menjelaskan kondisi terkini pasien kepada ayahnya.
"Dia baik-baik saja, Tuan Kaniel. Anda tidak perlu cemas."
Ayah Zoey bisa bernapas lega sekarang. Tadinya ia merasa sangat cemas menyaksikan kondisi putrinya yang bersimbah darah. Dadanya sesak, seperti tertindih sebuah beban yang sangat berat. Sekelebat ia bayang-bayang kematian istrinya kembali menghantui pikirannya. Ia tidak siap kalau harus kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya.