
Menjalani sebuah pernikahan bukanlah hal yang mudah. Terlebih untuk Zoey dan juga Samuel. Dua insan manusia dengan karakter yang bertolak belakang. Zoey -si cantik dengan profesinya sebagai agen rahasia- harus hidup berdampingan bersama Samuel -seorang CEO perusahaan yang bergerak di bidang property- yang notabene memiliki sifat arogan dan selalu ingin mendominasi.
Jadilah mereka berdua sebagai pasangan yang selalu saja berperang ego untuk mendapatkan kemenangan di kubu masing-masing. Sekalipun usia mereka telah matang, namun bumbu-bumbu romansa khas anak muda masih mewarnai perjalanan rumah tangga Zoey dan Samuel.
Terlebih setelah hadirnya seorang putra semata wayang di dalam keluarga kecil mereka. Tentunya masalah yang ada kian bertambah. Menyandang gelar sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis Pax Group, menjadikan si putra CEO hidup layaknya seorang pangeran.
Apapun yang anak itu inginkan, pasti bisa didapat dengan mudah. Bahkan hanya dengan menjentikkan jari saja, semua orang akan langsung tunduk melayaninya. Sungguh kehidupan yang mengesankan.
Namun, di balik kehidupan sempurna tersebut, Albert Paxon tetaplah tumbuh seperti remaja pada umumnya. Memiliki perilaku arogan dan sedikit 'nakal', tak jarang membuat Zoey serta Samuel ikut terseret ke dalam masalah yang dibuat anak itu. Dan inilah yang membuat kedua pasangan muda tersebut sering terlibat pertengkaran satu sama lain.
Seperti malam ini, sepasang suami-istri tersebut baru saja melewati perdebatan yang alot dan mereka mengakhirinya dengan sebuah lenguhan panjang di atas ranjang. Yah, apapun masalahnya aktivitas bercinta selalu menjadi penyelesaian yang sempurna.
"Jadi... Bisakah kita membiarkan anak itu hidup berdua saja bersama istrinya?"
Samuel menghela napas dalam-dalam. "Anakmu itu laki-laki dan sudah pasti dia harus kita didik agar mandiri, Honey..." Senyuman yang sangat khas mendadak muncul di wajah cowok itu sebelum akhirnya ia berkata, "Akan lebih baik kalau kamu memanjakan aku, suamimu."
Kedua bola mata Zoey spontan berputar malas. Ia sudah amat sangat hafal dengan jalan pikiran suaminya yang kelewat mesum itu.
"Apa kamu tidak malu dengan anakmu, Yank. Dia sudah menikah dan mungkin sebentar lagi dia akan memberimu seorang cucu."
Sudut bibir Samuel sedikit terangkat. "Tidak buruk. Bagaimana kalau kita juga memberikan Albert seorang adik? Dia bisa menjadi teman bermain cucu kita." ucapnya sarkas.
Zoey terkesiap mendengar penuturan suaminya yang ajaib. Bisa-bisanya seorang CEO perusahaan besar membuat candaan tak masuk akal seperti itu. Apa kata para karyawan kalau melihat pimpinan mereka bertingkah konyol begini?
"Lelucon mu membuat ku merinding, Sam." tukas Zoey dengan nada kesal.
"Benarkah? Apakah merinding seperti ini yang kamu maksud?"
Mendadak Samuel mencondongkan tubuhnya secara defensif. Tangannya yang dingin mengangkat dagu sang istri. Perlahan ia merapatkan tubuhnya ke arah Zoey hingga kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.
"Hentikan, Sam... Kamu membuat ku..."
"Membuatmu kenapa, Honey... Hemmm?"
Zoey seketika menutup mata. Cewek itu menikmati nafas hangat yang menerpa setiap lapisan kulit wajahnya. Lembut dan menggelitik.
Meskipun keduanya telah bersama puluhan tahun, tapi debaran jantung Zoey terhadap Samuel tak pernah berubah. Selalu saja ada rasa bergemuruh hingga membuat nafasnya terasa sesak. Hasrat yang menggebu, membuat Zoey selalu menginginkan lebih dan lebih. Ia menikmati setiap sentuhan Samuel dengan penuh dambaan.
Dan pagi ini, olahraga pertama yang mereka lakukan bukanlah berlari di papan treadmill. Namun melakukan penyatuan lalu bergerak seirama di atas ranjang hingga kenikmatan itu kembali mereka rengkuh bersama.
Kembali? Ya... sebelumnya sepasang suami-istri itu juga telah melakukan hal yang sama. Dan untuk kesekian kalinya, Zoey serta Samuel mengulang pergulatan mereka.
Ddrrttt... Ddrrrtt...
Tepat setelah puncak kenikmatan itu datang, handphone milik Zoey bergetar di atas nakas.
Perhatian Zoey teralih sebentar pada layar ponsel yang senantiasa berkedip.
"Telepon dari siapa?" tanya Samuel seraya beranjak turun dari tubuh istrinya.
"Papa."
Zoey segera meraih benda kecil tersebut dan menggeser tombol jawab.
"Halo, Pa. Ada apa?"
"...."
"Hari ini juga? Tapi aku ada acara dengan Samuel."
"...."
"...."
"Coba aku bicarakan dengan Samuel dulu. Nanti aku telepon Papa lagi."
Tut.
"Ada apa, Honey?" tanya Samuel dengan alis berkerut.
"Papa menyuruh ku pergi ke Bandung hari ini. Ada 'barang' baru yang dikirim ke sana."
Zoey bergegas meluncur turun dari atas tempat tidur sebelum sang suami menyerang nya lagi. Ingat, Samuel tidak pernah cukup jika hanya meminta jatahnya satu kali.
"Apa tidak bisa dikirim langsung kesini?"
"Tidak. Prosedur nya terlalu rumit."
"Jadi? Kamu tidak bisa menemani ku dinner malam ini?" Terselip nada kecewa pada ucapan Samuel.
"Sepertinya begitu. Aku juga tidak bisa menugaskan agen lain untuk menangani masalah ini."
Sebuah helaan nafas panjang keluar dari mulut Samuel. Ia sudah bisa menebak kalau pekerjaan selalu menjadi prioritas istrinya.
"Huuuft... Apa kamu tidak bisa pensiun saja, Honey? Jujur aku lebih suka melihatmu bermain pisau dapur daripada harus berurusan dengan senjata api."
Zoey yang hendak berjalan menuju kamar mandi tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan rasanya ingin tertawa saat melihat wajah Samuel yang tengah merajuk.
"Ayolah, Yank... Kita sudah berulang kali membahas masalah ini. Dan selalu akan berakhir dengan pertengkaran."
Cup!
Sebelum meneruskan langkahnya, Zoey kembali berputar dan mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bibir Samuel yang mengerucut.
"Dan sekarang... Aku sedang malas bertengkar denganmu."
Samuel mengangkat sebelah alis dan tak mepermasalahkannya lebih jauh lagi. Justru sekarang secercah senyum jahil tampak bermain di bibirnya.
Seketika si agen rahasia bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlebih saat Samuel beranjak dari atas ranjang dan berjalan menghampiri cewek itu.
Benar saja, belum sempat Zoey melarikan diri, Samuel telah lebih dulu menariknya hingga kini tubuh mereka kembali merapat.
"Kalau begitu puaskan aku sekali lagi, maka aku akan mengijinkan mu pergi ke Bandung." ujar Samuel dengan suara rendah.
"Kita sudah melakukan nya tiga kali, Sam. Apa kamu tidak lelah?"
Zoey tersenyum. Ia sudah hafal dengan situasi semacam ini. Yang harus ia lakukan hanyalah pasrah dan menuruti semua kemauan Samuel, atau dia tidak akan mendapatkan ijin tersebut.
"Aku akan membuang kata lelah jika itu berhubungan dengan tubuhmu, Honey..."
Zoey melingkarkan lengan pada leher Samuel dan memeluknya erat-erat. Berdiri sambil sedikit berjinjit, Zoey memulai pagutan mesra pada bibir Samuel. Dengan penuh pengertian, sang suami pun membungkuk agar Zoey bisa lebih leluasa menciumnya dan tak lupa Samuel merangkul pujaan hatinya itu dengan lebih erat.
Awalnya hanya sekedar ciuman lembut nan mesra, namun lama-kelamaan ciuman tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih menuntut.
"Kita bermain di kamar mandi..." ucap Samuel saat ciuman panas mereka berakhir. Ia meraup udara dalam-dalam untuk meredam hasrat yang kian mendesak untuk dituntaskan.
"Sesuai perintah mu, Tuan..." bisik Zoey diiringi suara desahan.
Sementara bibir Samuel mulai menjelajahi leher wanitanya, jari-jari Zoey meremas rambut Samuel yang hitam pekat. Mereka saling menginginkan satu sama lain. Dan hanya sebuah pelepasan panjang yang mampu mengakhiri perasaan membuncah tersebut.
Zoey memekik pelan tatkala Samuel mengangkat tubuhnya dari lantai lalu menggendong wanita itu menuju arena 'pertempuran' mereka.