
Sebenarnya aku sendiri pun bisa melakukan semua itu, tapi akan lebih baik kalau kasus ini ditangani oleh pihak yang memiliki legalitas hukum sehingga nantinya bisa diberikan hukuman yang tepat pada si pelaku.
Sambil menunggu datangnya bala bantuan yang aku panggil, aku meminta si Anak Magang untuk mengambil kotak P3K di ruang UKS. Aku harus memberikan pertolongan pertama atau siswi malang ini akan mati sebelum ambulans datang. Minimal luka-luka ini harus dibalut agar darahnya berhenti.
Aku mengamati luka pada tubuh Cindy dengan seksama. Sepertinya luka ini masih baru dan sayatannya hanya dibuat menggunakan pisau dapur biasa. Bukan pisau khusus seperti yang biasa aku bawa kemana-mana. Tapi melihat bentuk robekan pada kulitnya, si pelaku pasti sudah ahli menggunakan pisau karena dia memotong dengan tepat pada jalur peredaran darah. Sehingga sangat efisien untuk membunuh seseorang dengan cara membuatnya kehabisan darah.
Lantas kenapa si pelaku tidak langsung memotong nadinya saja, dengan begitu korban akan lebih cepat meninggal. Sial! Orang tersebut pasti ingin membuat siswi ini mati dengan perlahan, secara tidak langsung si pelaku ingin menyiksanya terlebih dahulu. Benar-benar tindakan yang tidak manusiawi.
deg!
Perasaan mengerikan apa ini? Kenapa hatiku mendadak merasa ngeri. Seperti ada yang mengawasiku dengan tatapan memburu.
Tak perlu waktu lama, Si Anak Magang itu kembali dengan kotak P3K di tangannya. Aku bergegas membersihkan dan mengobati siswi yang hampir sekarat di depanku. Tiba-tiba hidungku menangkap bau yang tidak asing bagiku.
Aku sudah sering mencium bau seperti ini, bau obat yang hanya aku gunakan dalam misi khusus. Bau propofol tercium jelas dari tubuh siswi ini. Bagaimana mungkin? Bahkan tidak ada obat terlarang itu di dalam kotak P3K. Mungkinkah 'dia' si pelaku itu?! Shit!!! 'dia' pasti ada di sini...
Sebelum aku bangkit untuk mencari si keparat itu, aku mendengar langkah kaki bukan hanya satu melainkan beberapa, berlarian ke arah kami. Dari kejauhan aku melihat dokter dan beberapa tenaga medis berdatangan. Aku sedikit bernafas lega. Akhirnya gadis ini akan tertolong.
Dokter lalu memerintahkan para perawat untuk membawa Cindy ke dalam ambulans dan memberikan penjelasan singkat tentang keadaan siswi tersebut. Aku mengangguk mengerti saat dokter meminta ku untuk ikut ke rumah sakit, tapi urung ku lakukan karena dari kejauhan aku melihat beberapa petugas polisi mulai memasuki gedung olahraga.
Aku merasa tenang saat mendengar jawaban cewek itu kalau obat tersebut akan ia serahkan pada temannya yang sedang magang juga di rumah sakit.
Aku bergegas menghampiri seorang Polisi yang aku kenal, "Jadi kamu yang akan melakukan penyelidikan ini?" tanyaku sambil menepuk pelan bahu Polisi itu.
Si Polisi berbalik dan tampak terkejut melihatku ada di tempat ini, "Kamu… Bagaimana bisa ada di sini?" tanya cowok itu tidak percaya dengan penglihatannya.
"Ya. Aku mendapat sebuah misi khusus dari papa." jawabku sambil cengar cengir.
"Dengan menjadi murid di sekolah ini, heh?" tanya dia balik sambil memelototi ku dari bawah hingga puncak kepala.
"Jangan salah paham. Ini bukan bagian dari misi. Hanya saja ada insiden kecil yang mengharuskan ku berpakaian seperti ini," jawabku dengan sedikit cemberut.
Polisi itu merasa sedikit tidak enak padaku. Sepertinya dia takut kalau aku akan marah dengan pertanyaan barusan.
"Baiklah… Tujuanku ke sini bukan untuk menginterogasi mu. Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini?"