
Penampilannya yang terkesan horor itu langsung menyita perhatian para siswa dan guru di sana. Sebenarnya apa yang akan dilakukan bocah itu?
Marionette. Itulah nama pertunjukan yang tengah dimainkan salah satu siswa kelas XII 3 bernama Denish. Sebenarnya itu bukan sebuah hiburan jenis baru. Di berbagai belahan Eropa, opera-opera Marionette sendiri cukup terkenal bahkan sering dipentaskan di panggung teater.
Marionette bisa juga disebut boneka atau wayang bertali yang kemudian dimainkan oleh seorang manipulator. Biasanya boneka tersebut berbentuk karakter manusia seperti putri, pangeran, raja, ataupun karakter binatang. Yang jelas semua boneka itu terlihat lucu dan menghibur.
Namun berbeda dengan Marionette yang tengah digerakkan Denish sekarang. Boneka tersebut tampak rusak juga menyeramkan. Tak ubah seperti boneka Voodoo versi kayu. Alhasil pertunjukan tersebut jauh dari kata menyenangkan. Semua orang yang melihatnya seperti disuguhi satu film horor dalam versi nyata.
Tanpa ada nada maupun suara. Siswa laki-laki itu memainkan wayang-wayang di tangannya dengan sangat piawai. Sesekali Denish melemparkan tatapan menusuk ke arah penonton yang tentu saja lebih dikhususkan bagi Samuel dan Zoey.
Lima menit…
Sepuluh menit…
Limabelas menit…
Rasanya pertunjukan ini tidak akan segera berakhir. Siswi perempuan mulai ketakutan. Mereka terus menangis sesenggukan.
"Hey… Kamu siapa? Peserta juga??" tanya si MC penasaran.
Bukannya menjawab, cowok yang tengah asyik berpentas di atas panggung itu malah menampakkan seringaian yang misterius.
Dan setelah berlangsung cukup lama, pertunjukan itupun berhenti. Semua orang saling berpandangan dengan heran.
"Oh My God… Eike udah susah payah menghibur tapi nggak ada satupun yang tepuk tangan? Sakit hati adek, Bang…"
Kemudian suara tepuk tangan mulai terdengar. Semua orang merasa lega karena adegan horor itu memang bagian dari pertunjukan. Tentu saja karena mereka tidak pernah tahu kedok asli di balik tubuh gemulai cowok itu.
Tapi tidak dengan 3 orang itu. Karena sesungguhnya mereka tahu kalau apa yang mereka saksikan di depan mata sekarang tak lebih dari sebuah topeng belaka.
"Ada yang tidak beres dengan anak itu, Sam. Kita harus waspada." bisik Zoey dengan sangat pelan.
Hampir tak terdengar kalau saja Samuel tidak berdiri di sampingnya.
"Aku dan Leo akan cari tahu. Kamu cukup tenang dan istirahat."
Sesaat Zoey mendelik tak suka. Ia merasa telah didepak dengan paksa dari misi rahasia tersebut. Bukankah harusnya Samuel ya yang mengikuti intruksinya? Kenapa sekarang malah jadi sebaliknya?
"Aku tahu kalau kamu tidak terima. Tapi percayalah, Honey… Aku hanya ingin kamu aman."
Samuel mengucapkan semua itu dengan penuh perhatian. Ia meremas pelan telapak tangan Zoey, seolah tindakan tersebut sanggup meredam kekesalan sang pacar.
"Terserah kamu. Tapi tetap hati-hati. Karena aku mau calon suami yang utuh."
Blush!
Hanya dengan kalimat singkat itu, wajah Samuel langsung memanas. Ia yakin kalau saat ini pasti wajahnya sudah memerah. Untung saja keadaan di sekitar mereka gelap gulita, sehingga ia tidak harus mendengar cemoohan dari orang-orang. Khususnya Leo, si cowok gossiper.
"Kamu sekarang pergi ke penginapan dan istirahat. Aku akan mencari Leo."