My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 29



Saat ini hati Samuel sedang bergemuruh bagaikan ada badai tornado yang melanda di sana. Dia harus tetap terfokus mengobati luka itu namun dua bukit indah di hadapannya selalu saja mengalihkan perhatian. Dan juga benda kecil di dalam celana Samuel mulai menunjukkan pergerakan.


Zoey yang tersadar kalau saat ini dirinya setengah topless di depan Samuel langsung merasa sangat malu. Ia mengutuk sifat keras kepalanya yang susah hilang. Kalau saja dia mau dibawa ke rumah sakit, hal seperti ini tentu tidak perlu terjadi.


Tidak terbayangkan dia akan membuka tubuh di depan anak laki-laki puber yang bahkan umurnya saja belum ada 18 tahun. Sungguh hal gila yang akan ia sesali seumur hidup.


"Sudah selesai. Masih ada yang perlu gue bantu?" tanya Samuel sambil kembali memasukkan obat-obatan ke dalam kotak P3K.


"Tidak ada. Nanti sisanya saya selesaikan sendiri," jawab Zoey yang bergegas melarikan diri ke kamar mandi karena sudah tidak tahan menahan malunya yang sudah di ubun-ubun.


Sepeninggal Zoey, Samuel mengacak rambut dengan frustasi. Asli dia tidak tahan melihat tubuh Zoey yang begitu menggoda naluri kelelakiannya. Ingin rasanya ia menerkam dan melahap tubuh itu. Tapi kalau sampai hal itu benar ia lakukan, mungkin saja ia akan berakhir di ranjang UGD rumah sakit. Tentu saja Zoey tidak mungkin membiarkan Samuel melecehkan dirinya.


"Aaawww…" Zoey kembali berteriak dari dalam kamar mandi.


Samuel yang panik tanpa pikir panjang langsung melesat menghampiri sumber suara. Dirinya kaget melihat Zoey terduduk di bawah shower sambil memegangi bahunya yang kembali berdarah. Belum ada 10 menit Samuel mengobati luka itu dan sekarang kembali berdarah.


Langsung Samuel mengangkat Zoey dan mendudukkannya di ranjang. Ia kembali mengobati luka cewek itu dan memastikan kalau dia akan membalut luka itu dengan benar.


"Sekarang lo nggak boleh gerak-gerak lagi. Atau gue bakal bawa lo ke rumah sakit saat ini juga. Ngerti?" Samuel membisikkan ancaman nya tepat di telinga Zoey yang membuat cewek itu bergidik.


Zoey hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya dua alasan yang membuatnya tetap bergeming. Pertama dia menahan rasa malunya yang teramat sangat. Dan kedua ia mulai merasa kedinginan karena ia tidak memakai baju dengan tubuh yang basah. Ditambah lagi AC di ruangan itu juga menyala pada suhu 16°C.


"Lo mau nggak jelasin ke gue siapa lo sebenarnya? Kenapa mereka ngejar lo? Kenapa lo nggak mau dibawa ke rumah sakit? Kenapa lo bisa pakai senjata? Dan…" rentetan pertanyaan Samuel berhenti saat Zoey membuka mulutnya.


"Saya Agen Rahasia." jawab cewek itu singkat.


Samuel bagaikan mendapat sambaran petir mendengar jawaban singkat tersebut. What?? Agen rahasia???


"Saya diberikan misi untuk menyelidiki kasus penemuan kerangka di sekolah itu dan juga saya punya misi tersendiri untuk mengungkap misteri hilangnya siswa SMA yang belakangan terjadi. Saya ditugaskan untuk menyamar sebagai guru dan mendapatkan informasi apapun yang berkaitan dengan kedua kasus itu. Tentang mereka yang mengejar saya, itu belum bisa saya jelaskan karena saya sendiri juga belum berhasil mengungkap identitas mereka. Yang pasti misi saya akan dianggap gagal ketika seseorang tahu tentang identitas asli saya. Dan sekarang kamu sudah mengetahui semua itu," jelas Zoey panjang lebar sambil menunduk lesu.


Samuel mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan Zoey. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Membantu menutupi identitas cewek ini atau membongkar semua kebohongannya di depan teman-temannya. Cowok itu menghela nafas panjang.


"Gue nggak akan cerita ke siapapun. Tentang semua ini." ucap Samuel akhirnya.


Zoey mengangkat kepalanya. Ia tidak menyangka Samuel akan mengucapkan semua itu. Apakah sekarang ia bisa merasa lega karena misinya akan tetap berlanjut?


"Tapi dengan satu syarat."


Zoey mengernyitkan kening. Syarat apa yang akan diminta cowok ini?