
"Apa kamu bilang?? Samuel??? Dia tau semua misi kamu…"
"Terpaksa, Pa. Dia selalu curiga setiap aku melakukan hal apapun yang berhubungan dengan kasus ini."
Aaron Kaniel menghembuskan nafas panjang dan dalam. Sepertinya ia akan bertambah sibuk. Sekarang bukan hanya putrinya saja yang butuh perlindungan, tapi si bocah arogan sekaligus calon menantunya itu juga ikut terlibat dalam bahaya.
"Baiklah biar nanti papa urus dengan para agen di markas. Sekarang kamu harus papa antar ke sekolah. Atau kamu mau kembali ke rumah saja?"
"Sekolah." jawab Zoey singkat dan cepat.
Baru membayangkan kata 'rumah' sudah membuat cewek itu merasa bad mood. Ia bosan terus-terusan terkurung di dalam bangunan yang hanya berisi penuh senjata. Zoey ingin memberikan sedikit penyegaran pada matanya. Dan lagi ia juga harus mengawasi setiap pergerakan Denish di sekolah. Kali ini anak itu tidak boleh lolos begitu saja. Ada hal yang masih harus Denish bayar terkait dengan luka yang didapat sang guru.
Setibanya di sekolah Zoey bergegas membawa dirinya ke ruang UKS. Ia membutuhkan tempat yang lebih privat untuk mengulas ulang hasil penyelidikannya.
Di sisi lain, Sang Ayah dengan segera mengendarai mobilnya dan kembali ke rumah. Untuk membuntuti mobil SUV yang disebutkan Zoey tadi, Aaron Kaniel hanya perlu melacak nomor plat kendaraan tersebut dari komputer canggih yang ia punya. Dan secepat kilat ia akan mendapatkan informasi yang diinginkan.
Sambil menunggu hasil penyelidikan keluar, Ayah Zoey berlalu ke dalam kamarnya dan menghubungi seseorang melalui telepon rumah yang terpasang di ruangan itu.
"Halo, Pa… Tumben papa telepon aku?" jawab seseorang dari seberang yang tentu saja adalah Samuel.
"Papa ada perlu sama kamu. Kapan kamu pulang, Sam?"
"Mungkin siang ini, Pa. Acara di sini sudah selesai."
"Bagus. Segera hubungi Papa kalau kamu sudah sampai rumah."
"Baik, Pa. Oh ya… Zoey baik-baik saja kan?" tanya Samuel yang merasa sedikit cemas.
"Hahaha… Tentu saja, Sam. Kamu meninggalkan dia dengan siapa? Atau kamu meragukan kemampuan Papa, heh?"
"Hehe… Tidaklah, Pa. Hanya saja putri papa itu selalu membuatku senam jantung."
"Seperti itulah perasaan Papa setiap jauh dari mamanya Zoey. Tapi lama-lama kamu akan terbiasa."
Tok… Tok…
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Ayah Zoey. Sepertinya ada seseorang yang ingin menemuinya. Karena tidak biasanya ada orang yang berani mengganggu waktu istirahat Sang Komandan kecuali ada hal yang mendesak.
"Ok, Sam. Selamat menikmati liburan kamu di sana. Dan hati-hati."
"Tentu, Pa. Bye…"
Tuuttt… Tuuutttt…
Setelah sambungan telepon terputus Aaron Kaniel segera membuka pintu. Rupanya orang tersebut salah satu anak buahnya. Dia menyerahkan selembar kertas yang berisi sejumlah informasi tentang si pemilik mobil SUV.
DDUUUAARRRR!!!
Bagai mendapat sambaran petir, mata Sang Komandan membulat dengan sangat lebar.
"Ini…"
"Benar. Itu semua hasil penyelidikan kami terhadap Louis Anderson." jawab Agen Mustang dengan cepat.
Agen Mustang merupakan agen senior dan menjadi salah satu orang kepercayaan Aaron Kaniel. Bisa juga disebut sebagai tangan kanannya. Ia sanggup melakukan misi penyelidikan dengan cepat dan akurat. Bahkan si agen tersebut sangat ahli melakukan tembakan jarak jauh dengan medan yang tidak biasa sekalipun. Dialah sniper andalan dalam organisasi mafia yang digawangi oleh Aaron Kaniel.
"BRENGSEK!!! Tidak akan pernah aku lepaskan b******n ini. Segera cari tahu di mana posisinya sekarang! Cepat!!!"
Kemarahan Ayah Zoey tidak bisa dibendung lagi. Pria tersebut benar-benar murka. Tidak disangka orang yang tengah ia selidiki itu ternyata si pelaku penembakan terhadap putri kesayangannya beberapa waktu lalu. Bahkan laki-laki itu juga yang sudah membuat Zoey terkapar di rumah sakit. Meskipun tidak secara langsung ia turun tangan.
Louis Anderson bisa dikatakan cukup terampil dalam bidang semacam ini. Ia melakukan semua tindak kejahatannya dengan bersih. Orang itu memilih berlaku sebagai otak sekaligus pemberi instruksi daripada harus mengotori tangannya dengan bertindak langsung. Louis akan memerintahkan para anteknya untuk bekerja. Contohnya seperti kasus penusukan terhadap Zoey. Ia hanya memerintah dan si murid 'kesayangan' bernama Denish yang mengeksekusinya.
Dengan segala emosi yang membara, Aaron Kaniel berjanji kalau orang tersebut harus mati di tangannya sendiri. Ia bahkan tidak sudi untuk menyerahkan Louis Anderson kepada polisi.