
Zoey menajamkan arah penglihatan pada sebuah mobil SUV berwarna hitam yang berhenti tak jauh di depan mobilnya. Ia memastikan plat nomor yang terpasang pada kendaraan tersebut.
Gotcha!!! Ini mobil yang sama dengan waktu itu…
Si Agen cantik kembali memperbesar gambar yang ditangkap kacamata tersebut. Ia mencoba melihat ke dalam mobil, tapi sungguh sial kaca mobil SUV itu hitam pekat dan tidak bisa ditembus dengan kacamata pengintai miliknya. Kalau sudah begitu, mau tak mau Zoey hanya bisa menunggu sampai si pemilik mobil keluar dengan sendirinya.
"Apa yang kamu lakukan, Zoey?" tanya Sang Ayah dengan heran.
"Papa lihat mobil SUV itu? Si pemilik mobil itulah kunci utama untuk menyelesaikan kasus yang kita selidiki."
"Jadi kamu sudah…"
Zoey mengangguk singkat sembari mengeluarkan sebuah tablet dari dalam tasnya.
"Yap. Aku berhasil membuat kesimpulan dari beberapa petunjuk yang aku dapatkan. Dan semua informasinya tersimpan di tablet ini. Papa bisa memeriksanya nanti."
"Good job, Sayang! Papa selalu puas dengan hasil kerja anak papa ini."
Zoey merilekskan tubuhnya sejenak tatkala tangan sang ayah membelai lembut kepalanya. Ia selalu merasa kangen dengan momen-momen seperti ini. Berbeda dengan saat Samuel yang membelainya, sentuhan ayahnya selalu mengingatkan Zoey dengan sosok ibunda yang telah tiada.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Kita tunggu dulu sampai orang itu keluar. Sepertinya dia sedang bersama seseorang di dalam sana."
"Baiklah." sahut Ayah Zoey singkat.
Mereka lantas menunggu dengan sabar sampai beberapa saat kemudian si pemilik kendaraan tersebut keluar bersama seorang siswa berseragam GIS.
Berbeda dengan Aaron Kaniel yang tampaknya masih bingung dengan semua kejadian tersebut. Karena memang dari awal belum sedikit pun Ayah Zoey mengetahui informasi perihal kasus itu. Bahkan ia tidak sempat memantau perkembangan dari misi yang dijalankan putrinya. Pria paruh baya tersebut terlampau sibuk mengurusi jual-beli senjata ilegal pada organisasi black market.
"Siapa mereka, Zoey??"
"Orang yang memakai topi itu namanya Louis Anderson. Dia guru di Gamma International School. Dan cowok berseragam itu salah satu siswa di sekolah tersebut. Namanya Denish. Kebetulan aku mengenal keduanya."
"Lalu apa yang sedang mereka lakukan di sana? Bukankah ini jam sekolah??"
Zoey mengangkat bahunya. "Entahlah, Pa. Mungkin saja mereka sedang merencanakan sesuatu."
Zoey berpikir sejenak. Bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan petunjuk yang bisa dijadikan sebagai bukti konkret. Mengikuti keduanya adalah cara yang paling efektif. Tapi dilihat dari gelagatnya, dua orang itu seperti hendak berpisah. Kalau begitu bagaimana mungkin Zoey menguntit dua orang di tempat berbeda namun dengan waktu yang bersamaan. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Papa ada kerjaan apa hari ini?" tanya Zoey sambil nimbang-nimbang sesuatu di dalam otaknya.
"Tidak ada. Paling hanya melatih beberapa agen baru. Apa kamu perlu sesuatu?"
Zoey mengangguk. "Papa bisa ikuti si pemilik SUV itu sekarang? Aku perlu informasi lebih dari orang itu."
"Hal yang gampang, Sayang… Serahkan pada papa. Kali ini papa akan ikut turun tangan."
"Thanks, Pa! Biar anak itu jadi urusan aku dan Samuel."
"Apa kamu bilang?? Samuel??? Dia tau semua misi kamu…"