
Ini kali keduanya Samuel harus mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Gadisnya yang biasa terlihat kuat, sekali lagi harus menghadapi gerbang kematian. Entahlah. Apakah dia masih bisa lolos dari buku catatan malaikat maut? Semoga saja.
Karena kalau sampai hal buruk itu terjadi, Samuel tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia telah berjanji akan selalu melindungi Zoey. Tapi nyatanya, cowok itu tetap tidak bisa berbuat apa-apa saat sang pacar terluka di depan matanya. BRENGSEK!!!
Di saat yang bersamaan Denish hanya bisa terperangah. Wajah yang tadinya dingin dan mengerikan kini tampak membeku ketakutan.
"Sekarang waktunya kamu menerima pembalasan dari kesakitan yang anak saya rasakan!"
Tanpa banyak bercakap, Ayah Zoey serta merta menyarangkan tinjunya ke dagu Denish. Disusul sebuah tendangan keras pada paha cowok itu, seketika membuatnya ambruk sambil meringis menahan perut yang sedang terluka.
"Tahan dulu, Boy… Masih ada lagi yang akan saya berikan!"
Dan seolah belum puas, sang Komandan kembali melayangkan tendangan memutar, membuat Denish yang sedang membekap wajahnya yang sudah babak belur itu terpental jauh.
Setelah itu, keduanya diam di tempat masing-masing. Yang terdengar hanyalah bunyi napas Denish yang terengah-engah sambil membungkuk di tanah. Samar-samar terdengar suara langkah dari balik semak di sekitar tempat kejadian.
"Cukup, Om." suara seseorang memecahkan keheningan. "Dia sudah terluka parah. Apa Om masih berniat menghabisinya?"
Ayah Zoey tertegun. "Kamu?"
"Leo," tangis Denish dengan muka melasnya. "Tolong gue, Leo. Gue nggak kuat. Perut gue sakit banget."
"Stop, Den! Lo nggak perlu pura-pura. Gue emang bakal nolongin lo. Tapi gue nggak berniat maafin lo."
"Dengarkan saya dulu, Om. Saya ada di sini karena membantu Samuel. Dan kami juga sudah menyusun rencana untuk menangkap teman kami ini."
Leo berhenti sejenak. Menghirup napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan.
"Tapi saya juga nggak akan tega melihat dia mati kehabisan darah. Kita harus bawa dia ke rumah sakit. Biarkan kejahatannya diadili sesuai hukum."
"Halah! Tau apa bocah seperti mu tentang hukum! Saya lebih paham dengan tindakan yang saya lakukan. Jadi jangan mencoba mengajari saya!" tukas Ayah Zoey dengan suaranya yang dingin, tampak tidak senang dengan interupsi ini.
"Yang dikatakan anak itu benar, Om…"
Tiba-tiba terdengar suara familiar yang dingin namun berwibawa. Serempak, Leo dan Ayah Zoey menoleh pada sosok tersebut.
"Aklesh?!" Wajah Ayah Zoey tertegun sejenak. "Bagaimana bisa kamu ada di tempat ini?"
"Saya mendapat kabar dari salah satu anak buah Om Kaniel. Karena kebetulan sedang bertugas di sekitar sini, jadi saya cukup familiar dengan tempat ini." kata Aklesh sambil melangkah menghampiri tempat kejadian perkara alias TKP.
Aaron Kaniel melirik sekilas ke arah si petugas polisi. Ekspresinya sulit ditebak. Dengan sorot mata tajam yang bakal membuat siapapun ketakutan, ayah Zoey seketika meluapkan emosi di depan keponakannya itu.
"Tapi tetap saja, Aklesh, Om tidak bisa melepaskan cecunguk ini dengan mudah! Dia masih berhutang darah pada Zoey! Seenggaknya melihat dia tak bernyawa akan sedikit mengurangi kekesalan Om."
"Maafkan saya, Om. Tapi kasus ini sudah masuk dalam proses investigasi kepolisian. Jadi mau ataupun tidak Om Kaniel harus menyerahkan anak ini pada saya."