
Satu persatu ia baca, dan tak butuh waktu lama untuk menelaah semua hasil penyelidikan tersebut. Karena memang dia termasuk salah satu orang yang diberkahi otak jenius, terutama dalam hal kecepatan mengingat.
"Tidak bisakah kamu lebih fokus denganku saja hari ini?" Samuel mengejutkan pacarnya dengan tiba-tiba memeluk dari belakang dan bergelayut manja di pundak Zoey.
"Nanti dulu, Sam. Ada yang harus aku selesaikan dengan Kak Aklesh." ucap Zoey sembari menutup laptop di hadapannya. Ia tidak ingin Samuel melihat semua informasi rahasia tersebut.
Samuel memberengut. Bibirnya mengerucut kesal karena Zoey mengacuhkannya dan lebih memilih berbincang dengan kakak sepupunya.
Cup!
Cup!
Samuel menciumi tengkuk Zoey dan meraih bibir cewek itu lantas melumatnya dengan kasar. Membuat sang pacar seketika tersentak.
"Aku tidak terima penolakan, honey!" desis Samuel dengan tegas.
Di sisi lain Aklesh hanya menyaksikan adegan tersebut sambil menikmati kopinya dengan santai. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan terkekeh pelan.
"Tenang saja, Nak… Aku tidak akan merebut kekasihmu. Dia hanya sepupuku dan juga..."
Aklesh menghentikan sejenak ucapannya. Ia memperhatikan wajah Samuel yang sudah mengeras seraya mempererat pelukannya pada bahu Zoey.
Dasar bocah ABG… Mudah sekali cemburuan…
"Aku sudah memiliki tunangan." Aklesh tersenyum tipis menatap dua orang yang sama-sama tercengang menatapnya.
"HAH??!! Kapan Kak?? Kok aku tidak tau… Siapa namanya??? Kenapa dia tidak dikenalkan dulu denganku??? Biasanya selalu begitu kan… Kak Aklesh pasti minta pendapatku kalau memilih pacar." Zoey memberondong kakak sepupunya dengan rentetan pertanyaan.
Samuel menatap Zoey dengan jengah. Untuk apa cewek itu terlalu heboh mendengar si polisi punya tunangan? Seperti dia diselingkuhi saja…
"Kamu sudah mengenalnya, Zoey. Bahkan kalian sering bertemu." jawab Aklesh sambil tertawa kecil melihat tingkah Zoey yang menurutnya lucu.
"WHAT?!!! Siapa???" kali ini Zoey lebih terkejut lagi. Ia bahkan sampai berdiri dan membuat Samuel terpaksa melepaskan pelukannya.
Shit!!! Kesabaran Samuel sudah mencapai ambang batasnya. Awalnya dia diam saja melihat Zoey mengacuhkannya, tapi sekarang sikap cewek itu mulai kelewatan. Jelas hati Samuel mulai memanas. Bagaimana bisa pacarnya sendiri lebih peduli dengan sepupunya yang bertunangan diam-diam.
Samuel serta-merta memutar tubuh Zoey dan langsung merengkuh wajah cewek itu.
Cup!
"Itu bukan urusan kamu. Dan sekali lagi, jangan pernah mengacuhkanku. Apalagi menolak ku!" tukas Samuel dengan tajam. Ia sudah mulai marah dan menuntut Zoey membalas ciumannya.
Detik berikutnya Samuel kembali melumat bibir Zoey. Tapi bukan sebuah ciuman memburu seperti sebelumnya. Kini ciuman itu diawali dengan sentuhan lembut yang membuat Zoey tidak punya pilihan lain selain ikut terhanyut dan menikmati setiap jilatan lembut dari lidah Samuel.
"Sudah cukup. Kalian lanjutkan saja pemanasan ini. Aku akan pergi sekarang." Aklesh beranjak meninggalkan rumah tersebut karena tidak tahan melihat kemesraan keduanya.
Samuel tersenyum menang setelah mengakhiri ciuman panjangnya.
"Kita lanjutkan di kamar…" bisik Samuel yang membuat bulu di tengkuk Zoey meremang.
Tanpa menunggu jawaban Zoey, cowok itu dengan cekatan menarik tangan pacarnya menuju kamar di lantai dua.
Namun seketika pikirannya teralihkan tatkala ia melihat pantry yang ada di dapur. Samuel memiliki ide yang lebih menarik daripada menuntaskan pemanasannya di kamar. Ia ingin mencoba melakukan 'olahraga' di tempat yang lebih terbuka.
"Kenapa kita kesini? Kamu lapar?" tanya Zoey heran saat Samuel menuntunnya menuju area dapur.
"Ya. Aku lapar. Sangat lapar sampai ingin segera memakanmu."
"Aawww!!!"
Zoey memekik kaget karena tiba-tiba Samuel mengangkat tubuhnya dan menggendong cewek itu layaknya seekor koala.
Sontak saja Zoey melingkarkan tangannya pada leher Samuel untuk menemukan pegangan dan kakinya melingkar erat pada pinggang sang pacar.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Samuel dengan sangat tidak sabaran langsung melahap bibir Zoey dan bermain-main pada leher jenjang cewek itu.
Aliran darahnya mulai memanas. Ia benar-benar menginginkan Zoey sekarang. Bukan sekedar ciuman dan kecupan leher. Samuel ingin berolahraga yang membuat banyak kalori terbakar.
"Yank… Jangan di sini… Eemmhhh!"
Zoey mencoba menolak Samuel namun tangan cowok itu lebih pandai memanjakannya, hingga tanpa sadar sebuah desahan keluar dari mulut Zoey saat sang pacar memilin pelan puncak bukitnya.
Tentu saja Samuel melakukan itu setelah mendudukan Zoey di atas meja pantry.
"Nikmati saja, honey… Kamu pasti akan mendapatkan hari yang 'panas'."
Selanjutnya 'olahraga' itu dimulai dan tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Keduanya menuntut kemenangan dalam kepuasan yang nikmat.