My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 117



Setelah semua itu berakhir, segalanya kini berangsur-angsur membaik. Semua orang mulai menjalani hari-hari mereka dengan tenang. Seolah tidak pernah terjadi dalam hidupnya, orang-orang tersebut berniat melupakan dan mengubur kenangan buruk itu.


Mereka tidak lagi memikirkan si psikopat gila. Bahkan mereka enggan peduli dengan nasib bocah itu selanjutnya. Yang ingin semua orang lakukan hanyalah menikmati kebahagian bersama seseorang yang mereka sayang.


Layaknya yang dilakukan si Agen Rahasia dan si Cowok Arogan.


Pernah suatu hari Samuel mengajak Zoey datang ke rumah di saat kedua orang tuanya sedang tidak ada. Awalnya Samuel beralasan ingin melakukan bimbingan belajar seperti biasa, mengingat mereka masih harus melakukan tes masuk universitas yang pastinya tidak akan mudah. Namun tetap saja ujung-ujungnya cowok mesum itu malah mengajak Zoey untuk bimbingan di atas ranjang.


Mula-mula Zoey menolak dan terus menghindar. Tapi yang namanya Samuel kalau sudah berhubungan dengan ************ ia tidak akan mudah menyerah begitu saja.


Berbagai rayuan dan cumbuan ia berikan kepada Zoey. Sampai akhirnya keduanya terlentang di atas ranjang tanpa sehelai pakaian.


Pada saat Samuel akan memulai tugasnya di bawah sana, Zoey tiba-tiba pingsan. Sontak Samuel begitu panik dan kebingungan.


Syukurnya sang Mama datang tepat sesaat sebelum Samuel membawa Zoey ke rumah sakit. Mama Samuel langsung mengambil stetoskop dan mulai memeriksa keadaan calon menantunya.


Seketika Mama Samuel teringat dengan hasil tes darah Zoey yang terakhir. Inilah saat yang tepat untuk membicarakan hal tersebut dengan anaknya. Karena kebetulan anggota keluarga mereka sedang lengkap. Bahkan Ayah Zoey juga berada di sana. Karena memang rencananya mereka akan mengadakan makan malam keluarga.


"Samuel, ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu."


"Bisa nanti saja, Ma? Ini gimana Zoey kok belum sadar juga?"


Tercetak jelas raut muka cemas Samuel saat menanyakan hal tersebut.


"Benar, Andita. Kenapa putriku belum membuka mata?"


Mama Samuel lalu menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Hhuuffftt… Karena itu Mama ingin bicara sekarang. Ini tentang Zoey."


Mendengar nama anaknya disebut, Aaron Kaniel seketika menyahut dengan cepat, "Zoey?? Dia kenapa, Andita???"


"Apa Zoey sebenarnya…"


Sebelum Mama Samuel berhasil menyelesaikan ucapannya, detik berikutnya Zoey tersadar dan langsung menghambur turun dari atas sofa ruang tamu dengan tangan membekap mulut.


Rasa mual yang teramat sangat bergejolak dalam perutnya. Entah apa yang ia makan saat sarapan. Tiba-tiba saja ia merasa pusing dan ingin muntah.


"Hoek! Hoek!!"


Berulang kali Zoey muntah di atas wastafel dapur. Ia tahu kalau dirinya takkan tahan jika harus menahannya sampai kamar mandi. Tubuhnya benar-benar terasa kacau.


"Hoek!! Hoek!!!"


Samuel yang merasa khawatir lantas menyusul sang pacar. Cowok itu seketika tercengang melihat Zoey yang tengah membungkuk dan muntah-muntah.


"Zoey? Ada apa?"


Cewek itu tak kuasa menjawab. Samuel memeluknya cemas, menyibakkan rambut dari wajah pacarnya, dan menunggu sampai Zoey bisa bernapas lagi.


"Are you okay, Honey?"


"Ya. Mendingan," 


Zoey bangkit dengan susah payah dan segera berkumur. Samuel dengan lembut membantunya. Ia tak menggubris sekalipun Zoey berusaha mendorongnya dengan lemah.


Setelah mulutnya bersih, Samuel lalu membopong Zoey ke tempat tidur dan mendudukannya dengan hati-hati.


Samuel meraba kening cewek itu. Tidak panas. Hanya sedikit demam.


"Kamu tadi pingsan dan sekarang muntah-muntah. Perlu aku panggilkan Mama?"


Tak berselang lama, anggota keluarga yang lain menyusul masuk ke kamar Samuel.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Honey?" tanya Samuel sambil mengangsurkan segelas air putih.


Zoey meminum air tersebut hingga tandas tanpa perlu memuntahkannya. Cewek itu berpikir sejenak. Mualnya sudah hilang, sama mendadaknya dengan kedatangannya tadi dan sekarang ia kembali merasa sehat.


"Mmm… Sedikit lapar sebenarnya." jawab Zoey ragu-ragu.


"Sudah berapa lama kamu merasa tidak enak badan, Zoey?"


"Semenjak karya wisata waktu itu, Ma."


"Apa yang selama ini kamu rasakan?"


"Zoey sering merasa pusing, mudah lelah, dan pingin makan terus, Ma."


Sungguh. Zoey juga merasa akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat. Sampai terkadang ia kesulitan untuk mengontrolnya saat ia benar-benar menginginkan sesuatu.


"Apa kamu sering mual seperti ini juga?"


Sebelum Zoey kembali membuka mulutnya, Samuel lebih dulu menyahut, "Ada apa sebenarnya, Ma? Zoey sakit apa? Kenapa tadi Mama ngomong masalah hasil tes darah??"


"Tenanglah, Sam. Biarkan Mamamu memeriksa Zoey dulu." kali ini suara Ayah Samuel yang terdengar.


Sedang Aaron Kaniel hanya terpekur mengamati situasi di hadapannya. Sepertinya ia paham kemana arah pertanyaan calon besannya itu.


"Zoey sudah berapa lama kamu tidak datang bulan?"


DUARRR!!!


Sebuah pertanyaan yang datang laksana petir di siang bolong.


Benarkah…


Seketika ruangan tersebut menjadi sunyi senyap. Semua orang membisu dengan mata menatap tak percaya. Seolah mereka tidak yakin dengan pertanyaan terakhir yang dilontarkan sang dokter. Tidakkah dokter itu salah bicara?? 


"Maksud Mama… Jangan-jangan Zoey…"


"HAMIL???!!"


Serempak para laki-laki yang ada di sana meneriakkan satu kesimpulan yang sama.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sekian novel "My Teacher is an Agent". Terima kasih untuk para readers yang setia mengikuti dan mendukung karya ini hingga selesai.


Bagi kalian yang penasaran apakah cerita Sang Agen Rahasia telah berakhir di sini??? Kita tunggu saja. Mungkin kedepannya akan ada sekuel sebagai lanjutannya. ♥


See you in the next work… 💕