
Zoey berusaha berdiri dan sedikit menjauh dari muridnya yang psikopat tersebut. Walaupun tubuhnya sekarang benar-benar sedang kesakitan.
"Pak Louis bukan orang seperti itu! Justru dialah yang paling mengerti dan peduli dengan saya. Bu Zoey jangan memutar balikkan fakta."
"Menurutmu seperti itu? Apa kamu sudah memeriksa latar belakangnya dengan benar?"
"Maksud ibu?"
"Aaah… Jadi kamu tidak melakukan itu? Pantas saja kamu juga tidak tahu kalau dia sebenarnya mantan pasien rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Dia itu manusia gila, Denish…"
Bukannya merasa bersalah, Denish malah menyembur keras, seolah-olah menjadi lepas kendali.
"Tidak mungkin!!! Pak Louis orang baik. Dia yang menyelamatkan pacarnya dari kematian!"
"What? Menyelamatkan???" Zoey terkekeh pelan. "Tidak akan pernah. Dia bahkan menghabisi nyawa orang tuanya hanya demi mewujudkan teori gilanya itu."
"Cukup!!! Ibu sebaiknya tutup mulut atau saya sendiri yang akan membuatnya begitu!"
Zoey tidak tampak gentar mendengar ancaman itu. "Coba saja kalau kamu berani."
Perlahan Denish mendekat ke arah Zoey lalu melayangkan sebuah tendangan tepat pada lukanya. Seketika cewek itu rubuh dan mengerang kesakitan.
"Aaarrkkhhh!!!"
"Karena ibu telah mengabaikan pengampunan dari saya, sekarang ibu tanggung sendiri akibatnya." ucap Denish sambil tangannya terulur menyibakkan rambut yang menghalangi wajah cantik Zoey.
Zoey tidak mendengar kata-kata si bocah psikopat lagi. Tatapannya terpaku pada bayangan yang sedang mengendap-endap di belakang Denish.
Samuel.
Ada kelegaan yang menyeruak dari dalam dada cewek itu. Akhirnya datang juga sosok penyelamat yang diharapkan.
Dari kejauhan terlihat seorang lelaki melangkah cepat dengan rahang mengeras dan tatapan tajam. Menampilkan raut wajah yang membuat siapa saja bergidik seram. Ya, seperti inilah wajah asli si cowok arogan tersebut saat dirinya dalam mode buas. Bagaimana tidak? Zoey -cewek yang sangat dicintainya- terkapar tak berdaya dengan kaki bersimbah darah. What the ****!!! ******** mana yang berani melukai kekasih nya?!
Saat melihat seorang cowok berdiri tak jauh dari tempat tersebut, Samuel yakin kalau dialah manusia brengsek yang membuat Zoey terluka seperti itu. Terlebih lagi, sambil menggenggam sebuah pistol cowok itu terkekeh pelan menyaksikan seseorang yang tengah mengerang kesakitan di depan matanya.
Sungguh ironis. Saat seseorang berada diambang kematian, ia malah melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Tentu saja dia seorang psikopat. Manusia sakit jiwa yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai suatu kenikmatan untuk dirinya. Sudah pasti dia adalah DENISH!!!
"Selama gue masih berbaik hati, jauhin cewek itu sekarang!" desis Samuel dengan suara menggeram. Sebenarnya ada pesan tersirat dari ucapan tersebut.
Samuel hanya ingin memberikan kesempatan terakhir untuk si lawan sebelum nantinya orang itu meregang nyawa di tangannya. Samuel memang bukan tipikal orang yang dengan mudahnya menghabisi seseorang. Namun jangan disalah artikan kalau dia adalah orang yang baik. Karena dibalik wajah rupawannya tersebut, saat marah cowok itu akan berubah menjadi brutal dan bekerja part time mengambil alih tugas sang Pencabut Nyawa.
"Kalau gue menolak, lo mau apa?" tantang Denish sambil terkekeh pelan.
"Entahlah…" jawab Samuel tak kalah misterius. Ia tersenyum tipis seraya menatap lekat ke arah Denish. Atau lebih tepatnya pada 'sesuatu' yang berdiri di belakang Denish.
"Tenang saja, Sam… Gue akan secepatnya mengirim lo berdua ke alam baka. Kalian bisa berbahagia bersama di sana. Gue baik kan? Haha…"
DOORRR!!!