My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 107



Siswa tersebut sangat pandai menyembunyikan sesuatu. Karena itulah ia sukses menjalani kehidupannya sebagai seseorang berkelainan jiwa.


"Tentu saja saya memilikinya, Denish. Saya bukan psikopat bodoh seperti kamu. Yang bahkan tidak bisa membedakan mana manusia hidup dan mana bangkai…"


Zoey tidak bisa menahan diri untuk melontarkan sindiran pedas pada bocah keparat itu. Tapi buru-buru ia menyesali tindakan bodohnya. Sesaat Zoey lupa dengan siapa dia berhadapan. Bagaimanapun Denish tetap seorang psikopat gila. Harusnya Zoey masih cukup menghargai nyawanya dengan menelan kemarahannya.


Sesaat Denish tidak bergerak. Lalu dia tersenyum.


"Anda benar-benar hebat, bu Zoey." Senyum yang awalnya lembut itu kini terlihat dingin.


"Tadinya saya kira tidak mungkin ada orang yang mencurigai saya, namun Anda berhasil mengungkapnya. Terus terang, saya cukup senang memiliki guru seperti Anda. Tapi sayangnya kita harus mengakhiri kesenangan itu sekarang…"


GAWAT!!!


Denish bersiap menarik pelatuk dan mengarahkan pistol di tangannya ke hadapan Zoey.


"Untuk terakhir kalinya silahkan ibu minta maaf kepada belahan jiwa saya karena telah berkata kasar tentangnya."


Zoey tertawa pelan. Ia sama sekali tidak terlihat ketakutan meskipun sebuah pistol tengah ditodongkan kepadanya.


"Belahan jiwa, heh? Dia hanya sebuah mayat, Nak… M.A.Y.A.T. Dia tak lebih dari sebuah raga yang tak bernyawa…"


DOORRR!!!


Tapi teriakan itu justru membuat Denish tertawa puas. Cowok itu menikmati segala penyiksaan yang ia lakukan.


"Kalau memang di sini harus ada yang disebut MAYAT, maka ibu Zoey akan menjadi orang yang tepat…"


"Sakit jiwa! Kalau kamu sungguh mencintai gadis itu, harusnya kamu memberikan ia tempat yang layak. Biarkan dia beristirahat dengan tenang, bodoh!" desis Zoey sambil terus memegangi kakinya yang tak kunjung berhenti mengeluarkan darah.


"Tempat yang layak?? Beristirahat dengan tenang??? Semua itu pasti bakal terwujud kalau saja ibu tidak ikut campur urusan saya!!!"


Oke keadaan semakin berbahaya. Denish mulai menggila. Ia menembakkan pistolnya ke sembarang arah. Bagaimana kalau salah satu dari peluru itu kembali mengenai Zoey? Oh Shit!!! Semoga saja ada yang mendengar suara tembakan itu dan bergegas menolongnya.


"Saya… Saya tidak pernah ikut campur. Saya hanya berusaha melindungi orang yang tidak bersa…"


Seolah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit pada kakinya, Zoey serta-merta terjatuh sebelum menyelesaikan ucapannya.


Darah segar terus mengalir. Rasa takut sekaligus ngeri mendadak merayapi hati Zoey. Mungkin dia masih bisa menahan rasa sakitnya sekarang. Tapi cepat atau lambat, dia tetap akan sekarat karena kehabisan darah. Selain itu, si murid sakit jiwa masih terus menodongkan senjata ke arahnya. Situasi yang benar-benar berbahaya.


"Hahaha… Memangnya Anda tahu apa? Apa Ibu tahu rasanya melihat orang yang kita sayang terlelap dalam tidur panjang? Apa Ibu tahu betapa banyak usaha yang saya lakukan untuk membangunkannya? Apa Ibu tahu pengorbanan seperti apa yang saya lakukan demi kebahagiaannya? Apa Ibu mengerti semua itu? Tidak, Ibu tidak akan pernah memahami semua itu!"


"Oh ya? Pengorbanan seperti apa yang kamu maksudkan? Melakukan penyiksaan demi membangunkan sebuah mayat, heh?! Apa orang 'itu' juga yang mengajarkan cara gila seperti ini? Saya perjelas, Nak, selama ini kamu telah dibodohi oleh orang itu…"


Zoey berusaha berdiri dan sedikit menjauh dari muridnya yang psikopat tersebut. Walaupun tubuhnya sekarang benar-benar sedang kesakitan.