My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 41



Keesokan harinya Samuel terpaksa bangkit dari tempat tidur lantaran mendengar suara berisik di luar rumah. Semalam setelah menikmati acara santap keluarga yang hangat, Samuel benar-benar dipaksa Ayah Zoey untuk bermalam di rumah itu. Jelas saja Samuel tidak keberatan, membayangkan ketika bangun tidur langsung melihat wajah cantik Zoey membuatnya tidak sabar ingin segera melihat mentari pagi bersinar.


Namun yang terjadi sekarang justru bertentangan. Jam sudah menunjukan pukul 09.00 pagi dan Samuel masih betah meringkuk di balik selimutnya. Hal seperti itu memang sudah menjadi kebiasaan untuk anak laki-laki setiap hari libur.


DOORRR!!! DOORRR!!!


"Duh! Siapa sih pagi-pagi udah main petasan! Ganggu orang tidur aja!" gerutu Samuel sambil melenggang keluar kamar.


Ini gue di mana ya?


Samuel lupa kalau dirinya tidak sedang berada di rumah. Dengan mata masih setengah terbuka cowok itu berjalan menuruni anak tangga dan mendatangi sumber suara.


Pagi ini di rumah Zoey sedang diadakan latihan menembak untuk seluruh staf dan para agen yang tak lain adalah anak buah Aaron Kaniel. Mereka berkumpul di sebuah tanah lapang belakang rumah. Pekarangan luas yang dulunya ditumbuhi pepohonan kini telah disulap menjadi area latihan menembak.


DOORRR!!! DOORRR!!!


Samuel menyipitkan matanya melihat orang-orang berkumpul di halaman dengan pakaian serba hitam. Ia lalu menghampiri sang komandan yang berdiri tegap sambil mengawasi latihan anak buahnya.


"Papa sedang apa di sini?" tanya Samuel seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu sudah bangun?" Ayah Zoey menepuk pelan punggung Samuel.


HAH?!!! PAPA???


Seketika semua orang yang berada di halaman menatap ke arah Samuel dengan segudang tanda tanya. Yang artinya amat sangat heran. Sepengetahuan mereka Aaron Kaniel hanya mempunyai seorang putri tunggal yang saat ini tengah ikut berlatih bersama mereka.


"Dia calon menantu saya, namanya Samuel Paxon. Mulai sekarang dia akan sering berada di rumah ini."


"Selamat datang, Tuan Muda!" teriak semua orang serempak sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


Kecuali Zoey tentu saja. Dia hanya menggeleng pasrah dan menepuk kening melihat pertunjukan Samuel dan ayahnya. Mereka pasti akan sangat cocok kalau disandingkan sebagai ayah dan anak.


Samuel yang sadar dengan situasi di tempat itu langsung membungkuk membalas hormat. Dia tersentak melihat penampilannya yang tidak pantas. Saat ini Samuel hanya mengenakan celana boxer serta kaos singlet putih ditambah dengan kimono tidur. Namun yang parah, kimono itu lupa ia rapikan. Alhasil penampilannya terlihat sangat berantakan dan memalukan. Hilang sudah pesona Samuel sebagai calon menantu seorang komandan agen rahasia.


"Sudah cukup. Kembali lanjutkan latihan!" kali ini Zoey yang memberikan perintah sebelum ia meninggalkan barisan dan menarik Samuel masuk ke dalam rumah.


"Kamu ngapain ke luar rumah pakai baju seperti ini. Bukannya sudah aku siapkan baju kamu di tempat tidur?!" Zoey seketika mengomel sambil tangannya sibuk merapikan dan mengikat kimono yang dikenakan Samuel.


Cup.


Samuel mencium sekilas pipi Zoey. Dia senang melihat perhatian cewek itu. Meskipun harus mendengar omelannya juga.


Zoey yang kaget mendapat ciuman mendadak, langsung cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


Cup.


Sekali lagi Samuel mencium bibir Zoey. Dia tidak peduli dengan tatapan melotot yang menggemaskan itu. Dia hanya merasa belum puas kalau sehari saja tidak menggoda Zoey.