
Di dalam kamar Zoey…
Setelah perdebatan panjang, Aaron Kaniel -ayah Zoey- bergegas menemui anak buahnya dan meminta Zoey serta Samuel untuk beristirahat. Sang ayah memang serius dengan setiap ucapannya. Dan malam ini perburuan itu langsung dimulai.
Sekarang Zoey tengah berkutat dengan sebuah laptop di atas meja kerja. Membuka beberapa dokumen serta memeriksa hasil rekaman kamera yang ia pasang di sekolah. Rekaman itu menayangkan beberapa video dari ruang kepala sekolah dan juga ruang UKS. Tidak ada yang janggal dalam rekaman tersebut.
Lalu Zoey berganti membuka e-mail dan menampilkan beberapa lampiran pesan yang masuk ke dalam inbox. Harusnya ia melaporkan hal tersebut kepada sang ayah, namun yang bersangkutan tengah gencar melakukan perburuan bersama anak buahnya.
Ini semua gara-gara kedatangan Samuel yang membuat heboh keadaan. Semoga saja malam ini dia berbaring tenang di atas tempat tidur dan tidak memberi kekacauan yang lebih parah.
Zoey merenung beberapa saat. Ada bermacam informasi yang harus ia cerna. Pertama, Zoey akhirnya mendapatkan rute pelarian si pelaku penculikan. Menurut hasil pelacakan GPS yang terpasang di kendaraan tersebut, si pelaku membawa korban ke sebuah bangunan yang letaknya sangat jauh dari kota. Bisa dibilang bangunan tersebut berada di area pegunungan.
Oh ya, sebelumnya Zoey sudah mendapatkan nomor kendaraan SUV hitam yang menculik Jasmine. Dia meretas rekaman cctv sebuah rumah yang ada di depan sekolah. Karena aksi penculikan itu terhalang mobil, jadi video tersebut tidak menampilkan wajah si pelaku. Tapi untungnya dia berhasil mengantongi nomor plat kendaraan yang digunakan. Zoey kemudian meminta rekan agennya untuk melacak lokasi GPS mobil dengan plat nomor tersebut.
Informasi kedua, tentang si penelepon misterius yang beberapa waktu lalu menghubungi Zoey. Nomor tersebut ternyata hanya nomor acak dan tidak terdaftar. Jadi sulit bagi Zoey untuk melacaknya.
Informasi ketiga, tentang si pemilik sidik jari yang mengambil propofol dari dalam UKS. Kali ini Zoey serasa tersengat jutaan volt listrik. Si pemilik sidik jari tersebut adalah seorang remaja berusia 17 tahun. Dia tercatat sebagai pelajar sekolah menengah atas. Namanya Denish Mahendra. Mungkinkah dia orang yang sama dengan siswa di kelas XII-3?!
Zoey segera menyambar tas kerjanya dan mengambil sebuah daftar absensi yang berisi nama siswa di kelas XII-3.
Deg!
Ternyata memang anak itu.
Sayang sekali informasi tersebut tidak melampirkan foto si pemilik sidik jari. Belum juga membuka informasi keempat, Zoey sudah dibuat pusing dengan nama itu. Dia berpikir cukup lama, menebak-nebak apa yang dilakukan Denish dengan sebuah obat bius. Apakah ini ada hubungannya dengan… CINDY!!!
"Kamu mikirin apa?" terdengar bisikan halus di telinga Zoey.
"Kamu sedang apa di sini?"
"Aku kan pacar kamu jadi wajar saja kalau aku melihat-lihat kamar pacarku," dialah Samuel. Cowok arogan yang menambah kepusingan Zoey.
"Apa kamu sudah siap digelandang papa ke ruang siksaan?" kali ini Zoey memutar kursinya menghadap Samuel.
"Papa kamu sendiri yang ngasih tahu aku kamar ini. Lagi pula, emang di sini ada ruang siksaan?" tanya samuel dengan senyum miringnya.
"Kamu mau lihat? Bisa aku antarkan sekarang,"
"Mungkin maksud kamu siksaan nikmat seperti ini..." tangan Samuel serta-merta *** lembut dada Zoey yang kebetulan tidak menggunakan bra.
"Eunghh…" sebuah lenguhan nikmat lolos dari bibir mungil Zoey.
Samuel tersenyum melihat pacarnya itu mudah sekali terangsang. Tapi dia tidak berniat melanjutkan ke adegan yang lebih panas. Tidak di sini. Di sarang mafia yang dipenuhi senjata api. Sekali saja Samuel kedapatan melakukan tindak pelecehan pada sang Putri Mafia, cowok itu harus siap mengucapkan salam perpisahan pada nyawanya. Dia bergidik ngeri kalau mengingat Zoey merupakan putri tunggal seorang mafia besar.
Cup.
Cup.
Cup.
Samuel mencium kedua kelopak mata Zoey yang terpejam lalu berakhir dengan memagut mesra bibir sang pacar.