My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
S2-2



"Semua sudah siap?"


"Ya. Hanya beberapa baju saja yang aku butuhkan."


Zoey berdiri di depan pantry dapur, menggoreng sepotong omelet sekaligus menyeduh kopi kesukaan Samuel. Aroma lezat telur dadar bercampur wangi seduhan kopi panas menjadi kombinasi yang sempurna untuk merangsang selera makan.


"Berapa lama kamu pergi, Honey..."


"Hanya sehari, Yank... Nggak usah lebay deh!" tukas Zoey. Cewek itu berbalik dengan senyum tersungging di wajah dan meletakkan piring berisi makanan ke hadapan Samuel.


"Apa tidak bisa pertemuan itu di tunda? Biar aku bisa nemenin kamu."


Samuel duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Zoey mulai meluncurkan aksi merajuknya terhadap sang istri.


"Samuel Paxon, aku bukan pergi ke Palestina. Ini hanya Bandung, Yank... Satu jam juga sampai."


"Sejam??"


Belum sempat Zoey menjawab kebingungan Samuel, tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari halaman rumah.


"Kamu naik helikopter??" tanya Samuel tak percaya.


"Benar sekali. Itu lebih efisien daripada aku harus mengendarai mobil."


"Kalau begitu, nanti malam kamu bisa langsung pulang?"


"Soal itu tidak janji. Mengurus serah-terima senjata tidak semudah memperebutkan tender, Yank."


"Memang kamu ngerti tentang bisnis?"


"Tentu saja. Kalau tidak bagaimana bisa aku menguras isi dompetmu."


Melihat sang istri terkekeh menggodanya, sontak membuat Samuel berwajah masam. Apakah dirinya benar-benar tak lebih berarti dari segerombolan preman senjata?


"Sudah. Aku harus berangkat sekarang."


Zoey mencondongkan tubuh ke seberang meja dan merampas satu kecupan singkat dari Samuel. Sialnya cowok itu malah memberikan balasan yang cukup panas, kemudian memamerkan senyum miring yang membuatnya tampak rupawan.


"Take care, Honey..."


"Always. Oh ya, kamu jangan gangguin Albert. Biarkan dia menikmati honeymoon nya dengan tenang."


"Tidak janji. Kalau aku kesepian, tentu aku akan menyusulnya ke villa."


"Terserah kamu. Bye..."


Setelah berpamitan kepada sang suami -yang pastinya diiringi drama manja dari cowok itu- Zoey bergegas menaiki helikopter yang telah menunggunya.


Hari ini Zoey berangkat ke luar kota untuk mengambil sebuah senjata langka yang khusus didatangkan langsung dari Rusia. Meski bukan kali pertama, namun klien yang akan ia temui cukup spesial. Dia bukan hanya seorang penyelundup senjata ilegal. Si klien ini pun turut melakukan pekerjaan 'kotor' layaknya seorang mafia. Dia bahkan pernah bekerja sama dengan sindikat ******* terbesar di dunia.


Untuk itu, Zoey sedikit ragu apakah si klien ini akan memberikan sambutan yang hangat terhadapnya.


"Kita akan langsung mendatangi tempatnya?" seseorang yang duduk di balik kemudi melontarkan pertanyaan kepada Zoey.


"Ya. Komandan sudah mengatur pertemuan hari ini."


Zoey terdiam sejenak, mengangkat dagunya sedikit. Kemudian berbicara lagi dengan penuh keyakinan, "Oh ya, siapkan juga senjata kalian."


"Untuk apa?" tanya salah seorang agen seraya mengangkat alis begitu mendengar perintah Zoey.


"Berjaga saja. Kita tidak tahu orang seperti apa yang akan kita temui. Menurut informasi komandan, dia bukan orang sembarangan."


Penerbangan menuju Bandung nyatanya lebih lama dari perkiraan Zoey. Ia bahkan sempat tertidur pulas dan terbangun dalam kondisi bugar tatkala helikopter terbang mengitari lapangan luas lalu berhenti di atas helipad yang tersedia.


Cahaya matahari yang mulai naik menyilaukan pandangan Zoey saat cewek itu keluar dari tunggangan nya.


Perjalanan rombongan agen rahasia tersebut tidak berhenti sampai di situ. Mereka malah naik sebuah mobil SUV dan menembus jalan-jalan kota Bandung yang penuh kepadatan. Kendaraan tersebut terus melaju menembus kemacetan hingga akhirnya hiruk-pikuk mulai menipis dan tiba di kawasan pinggiran kota.


Mengatakan ini bukan lingkungan yang baik rasanya cukup tepat. Bangunan yang menjulang sebagian besar berupa rumah tua yang sempit dan kumuh. Sulit mengenali warna dindingnya karena cat yang melekat pada bangunan-bangunan itu sudah mengelupas. Semua memudar berganti menjadi nuansa kelabu.


Zoey menepikan mobil dan membiarkan mesinnya tetap menyala. Ia lantas berhenti di depan sebuah gudang tua terbengkalai. Zoey sedikit terkesiap.


Ia melihat sebuah bangunan kumuh di hadapannya. Tampak gelap. Tak ada lampu sama sekali di dalam gudang bobrok itu, walaupun di luar suasana cukup muram.


Ada beberapa orang di sekitar situ, dua berdiri di kanan kiri pintu, dan satu duduk di atas bangku kayu, membaca koran sambil bersiul-siul. Meskipun terlihat normal, tapi setelan jas yang mereka pakai tetap terlalu mencolok untuk dikenakan di tempat kotor seperti ini.


Zoey berpikir sejenak. Mungkinkah ini tempatnya?


"Apa kita akan turun sekarang?" tanya seorang agen yang duduk di jok belakang.


"Tentu. Klien kita sudah menunggu di dalam sana."


Zoey mematikan mesin mobilnya dan turun. Kemudian ia melangkah lebih dulu, meninggalkan para anak buahnya yang masih belum seluruhnya keluar dari kendaraan.


"Anda siapa, Nona?" sapa si laki-laki yang bersiul.


Pria itu meletakkan koran yang dibacanya. Ia lalu memandangi Zoey dari puncak kepala hingga ujung kaki.


Begitupun dengan Zoey, cewek itu turut melakukan hal yang sama. Setelah sekarang bisa melihatnya dari jarak dekat, benda yang tersembunyi di balik mantel lelaki tersebut membuat Zoey terkejut. Sebuah senjata. Bukan senjata yang biasa tentunya.


Desert Eagle. Pistol jenis ini merupakan senjata api buatan Israel. Pistol ini umumnya digunakan oleh angkatan bersenjata dan penegak hukum di penjuru dunia. Misalnya saja sebagian besar lembaga kepolisian di USA.


Mungkinkah dia salah satu dari mereka?


Jika menilik kemampuan daya tembaknya yang luar biasa, pasti orang yang memegang senjata ini tidak bisa dianggap remeh.


"Aku mencari seseorang." Zoey memulai percakapan.


Lelaki itu menyipitkan mata, menatap wajah Zoey dari balik temaram cahaya.


"Aku juga menunggu seseorang." sahut pria itu sambil tersenyum sinis. "Apakah orang itu Anda?"


"Sepertinya begitu."


Dan seketika si pria membelalakkan matanya. Ia menelan ludah tatkala Zoey menurunkan kaca mata hitam yang dikenakan.


"Oh," Ekspresi si pria langsung berubah, dari antisipasi menjadi mengerti. "Anda agen yang ditugaskan oleh Mr. K?"


"Bisa kita masuk sekarang?"


Zoey tidak ingin berdebat panjang lebar dengan orang yang menurutnya tidak penting. Jelas tujuan cewek itu datang ke tempat terkutuk ini adalah untuk menemui 'si pemimpin' dan secepatnya menyelesaikan transaksi yang telah mereka sepakati.


"Anda bukan orang yang biasa ditugaskan untuk misi ini." ucap si pria dengan sedikit canggung.


Zoey mendelik kesal mendengar orang itu bersikap sok akrab dengannya. Tapi orang yang ditatap malah menyengir tanpa merasa bersalah.


"Dimana 'Dia'?"


Cengiran tersebut sontak berubah menjadi kerutan, "Kami akan mengantarmu ke tempatnya. Tapi..."


Tapi? Apalagi ini?


Zoey mulai tak sabar menunggu kelanjutan ucapan itu.


"Tinggalkan anak buahmu di sini..." pungkas si pria dengan senyum mencurigakan.


"Jangan memerintah ku!"


Raut muka si pria berubah seperti meminta maaf. "Dengar Nona... Itu sudah aturan yang dibuat atasan kami. Beliau hanya bersedia menemui satu orang yang berkepentingan."


Zoey berpikir sebentar. "Baiklah. Bawa aku padanya!"


Si pria kemudian membimbing Zoey menuju sebuah ruangan yang lebih masuk ke dalam. Di titik ini, Zoey siap menghadapi nyaris apa saja yang akan menyambutnya.


Dan... Braakk!!!


"Lama tidak jumpa, Tuan Putri..."