
1 menit berlalu dan pintu lemari kembali ditutup. Zoey semakin frustasi, sebenarnya apa yang sedang terjadi di luar sana. Lalu suara langkah kaki terdengar semakin menjauh dan akhirnya menghilang setelah pintu ruang UKS tertutup.
Sejurus kemudian, pintu kembali dibuka dan kali ini terdengar suara si anak magang.
"Ibu Zoey, anda sudah selesai?" tanya Siska sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya," sahut Zoey singkat lalu membuka pintu sedikit dan menerima pesanannya.
Zoey bergegas mengenakan pakaian yang dibelikan Siska. Sesaat Zoey menatap dirinya di cermin dan tampaklah dia layaknya siswi SMA. Mungkin ayahnya akan senang kalau melihat dia berpenampilan seperti itu.
Penyebabnya adalah anak kurang ajar itu. Kalau saja Samuel tidak membuatnya terjatuh di kolam renang, Zoey tidak perlu kerepotan seperti ini. Bahkan Zoey tidak bisa lagi memoles wajahnya dengan make-up karena dirinya tidak pernah membawa benda semacam itu di dalam tasnya. Mungkin sebaiknya dia meminta izin dan kembali ke rumah saja.
Zoey lekas keluar dari kamar mandi dan sontak saja Siska tertawa dengan lantang melihat penampilan guru itu.
"Ibu benar-benar seperti adik saya. Tidak menyangka kalau bu Zoey akan terlihat imut dengan baju itu,"
"Yayaya… Saya memang masih pantas kan jadi siswa di sini?" tanya Zoey sarkastis.
"Tapi bagaimana ibu bisa basah kuyup seperti itu?"
"Saya terjatuh di kolam renang,"
Siska kembali tertawa, menganggap jawaban tersebut sebagai candaan. Dia tidak tau kalau Zoey sedang dalam mood buruk saat ini.
"Terima kasih sudah membelikan baju ini. Saya bisa minta tolong lagi?"
"Tolong ambilkan tas saya di ruang guru dan mintakan izin ke kepala sekolah kalau saya sedang tidak enak badan. Saya mau pulang saja. Tidak mungkin saya berkeliaran di sekolah dengan pakaian seperti ini."
Siska ingin sekali lagi tertawa, tapi terpaksa ia menahannya setelah mendapat tatapan horor dari Zoey.
"Baik bu akan saya ambilkan,"
Setelah si anak magang meninggalkannya sendiri, Zoey bergegas memeriksa setiap sudut ruangan tersebut. Apakah ada sesuatu yang rusak atau hilang. Zoey teringat kalau orang yang diam-diam masuk ke ruang UKS tadi sempat membuka lemari obat.
Pandangan Zoey beralih ke lemari yang dimaksud. Dia tidak membukanya, hanya memperhatikan dari luar pintu yang kebetulan terbuat dari kaca.
Tidak berantakan. Sepertinya tidak ada yang salah juga dengan obat-obatan di sini. Lalu apa yang 'dia' ambil? Mungkinkah ini…
Saat itu juga matanya tertuju pada sebuah botol obat bertuliskan 'propofol' pada label bagian luarnya. Zoey paham betul apa kegunaan obat tersebut, karena di rumah ayahnya juga memiliki beberapa obat sejenis itu.
Obat tersebut termasuk golongan obat terlarang dan tidak diedarkan secara bebas. Ayahnya saja mendapatkan obat itu secara diam-diam dari kenalannya yang seorang dokter bedah. Bahkan harus membayar dengan harga yang mahal.
Tentu saja obat itu hanya digunakan dalam misi-misi tertentu, karenanya tidak bisa digunakan secara sembarangan. Jadi sebenarnya untuk apa obat semacam itu ada di sebuah sekolah?
"Ini bu Zoey tas anda. Dan saya sudah menyampaikan izin anda kepada kepala sekolah,"
Zoey sedikit tersentak dengan kedatangan Siska. "Terima kasih, Siska. Dan total semua ini tadi berapa?"
Siska mengangsurkan struk pembelian kepada Zoey lalu cewek itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya. "Ini uangnya. Terima Kasih." ucap Zoey dengan senyum tulus.