My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
S2-3



Mendengar panggilan konyol yang keluar dari mulut pria asing di hadapannya, spontan membuat Zoey mengernyit heran. Dia tidak merasa pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Apakah mereka saling kenal?


"Kenapa ekspresi mu seperti itu? Jangan katakan kalau kamu tidak mengenal ku," kata pria tersebut dengan sarkas.


Zoey segera mengamati lelaki yang duduk di belakang meja dengan kedua kaki saling menyilang. Laki-laki itu tampak menawan serta berkharisma. Postur tubuh tinggi tegap dengan rambut yang hitam mengkilap. Usianya mungkin seumuran dengan Zoey. Lelaki itu memiliki kumis berpotongan rapi, tidak terlalu lebat, tapi cukup menegaskan kesan maskulin pada wajahnya. Tampak pula jambang tipis yang tumbuh di area dagu hingga ke rahang.


Laki-laki tersebut mengenakan setelan formal yang sepertinya memiliki harga fantastis. Zoey menerka, mungkin dialah orang yang harus ia temui.


Pria asing itu bangkit dari kursinya sembari mengulurkan tangan ke seberang meja.


Zoey mengerti. Ia lalu berjalan menghampirinya dan menjabat tangan tersebut. Lelaki itu tersenyum senang saat tangan mereka saling bersentuhan. Bahkan ia menggenggam pergelangan Zoey dengan sedikit kuat.


"Saya tahu. Anda Tuan J. Penyelundup senjata terbesar di Rusia. Jade Scott."


"Hahaha... Kamu terlalu formal. Kita bisa bicara lebih santai kalau kamu mau." Lagi-lagi pria itu tersenyum.


"Sayangnya tidak. Sebaiknya kita langsung membahas masalah bisnis, Mr. Scott. Saya tidak punya banyak waktu di sini." tukas Zoey dengan tegas.


Tak ingin berbasa-basi lebih lama, Zoey langsung menarik kursi kosong secara serampangan dan mendaratkan dirinya di sana.


"Jaga ucapan mu, Nona! Beliau ini pimpinan kami."


Seseorang yang tadi bertugas jaga di depan, dengan lancang ikut angkat bicara. Dari ucapan tersebut tersirat kalau ia meminta Zoey untuk bersikap lebih sopan pada atasan mereka.


Tapi sayangnya, Zoey bukanlah tipikal orang yang suka diatur-atur. Jadilah peringatan tersebut sontak memantik kemarahan dirinya.


"Bisakah kamu berhenti memerintah ku?! Aku tidak punya urusan dengan mu!" hardik Zoey.


"Hey... Hey... Relax. Apa orang itu mengganggu mu?"


"...."


Zoey bergeming. Ia mempertimbangkan pertanyaan Scott sesaat, kemudian jantungnya serasa berhenti berdetak saat sebuah tembakan melesat cepat ke sebelahnya.


DOORRR !!!


Seketika netra hazel Zoey membulat. Hanya dalam kurun waktu seper-sekian detik telah terjadi pembunuhan di depan matanya. Bahkan Zoey tidak tahu apa yang sudah diperbuat orang tersebut. Bukankah dia hanya berdiri di samping Zoey dan tidak melakukan apapun?


Mendadak perasaan was-was menyeruak di dalam hati Zoey. Cewek itu melukat saliva dengan susah payah. Rupanya dia tidak boleh menganggap remeh orang yang kini dudu di seberang meja itu.


"Bisa kita lanjutkan?" tanya Zoey dengan sedikit gugup. Ia masih cukup terkejut.


"Apakah aku membuatmu takut, Tuan Putri? Tapi... Baiklah kalau itu keinginan mu."


Jika menilik nada suara Scott, nampaknya orang tersebut sangat suka menggoda Zoey. Ia terlihat menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah cewek cantik itu.


Selanjutnya Scott memanggil seorang anak buah yang berdiri tak jauh dari sana. Jade Scott membisikkan beberapa kalimat pada orang suruhannya sebelum kemudian orang itu mengangguk dan berlalu pergi.


Tak berselang lama, orang itu kembali sambil membawa sebuah tas berukuran besar. Bisa ditebak kalau di dalam tas berwarna hitam tersebut berisi sebuah 'barang' yang dipesan oleh sang komandan.


Accuracy International Artic Warfare 50 atau sering disebut AW-50 AI. Adalah satu-satunya senjata api yang mampu menembus kendaraan tempur lapis baja. AW-50 merupakan jenis senapan laras panjang yang pernah memecahkan rekor menembak objek tank dari jarak lebih dari 2000 meter dan membuat kendaraan tersebut mengalami kerusakan parah.


Senjata api ini juga memiliki tingkat akurasi dan kecepatan peluru yang tak main-main. Bahkan pernah dinobatkan sebagai senjata tempur mematikan yang dimiliki AS.


Jadi kesimpulannya, senapan yang kini terpampang di depan mata Zoey bukanlah jenis senjata yang diperlukan seorang agen seperti dirinya. Lantas mengapa senjata ini dibeli oleh sang ayah?


"Apakah benar Mr. K memesan barang ini? Sepertinya ada kesalahan," tanya Zoey heran.


"Memang betul ayahmu tidak memintanya. Tapi, aku ingin memberikan yang terbaik untuk Tuan Putri ku. Apakah kamu tidak suka dengan senjata ini? Aku bisa memberikan yang lebih baik kalau kamu tidak puas."


"Siapa Anda sebenarnya? Bagaimana..."


Bibir Scott tertarik ke atas. Sebuah senyum tipis tergambar di wajahnya. "Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu putri kesayangan Mr. Kaniel?"


"...."


Zoey mendadak bungkam. Kini ia paham kalau orang yang berhadapan dengannya itu pasti telah melakukan penyelidikan sebelum pertemuan mereka. Tapi untuk apa dia repot-repot melakukannya? Bahkan informasi yang diperolehnya sangat detail.


"Sudah ku bilang, kita memang telah lama saling kenal."


"Terima kasih karena telah memikirkan saya. Tapi, bisakah saya menerima barang yang dipesan Mr. K?"


"Hahaha... Barang itu sudah aku kirim ke rumahmu, Tuan Putri. Mungkin... Saat ini suamimu telah menerima paket itu dan tengah membukanya."


Zoey mulai kesal. Ia merasa dipermainkan oleh kliennya ini. Bahkan orang tersebut sampai tahu tentang informasi pribadinya. Kurang ajar.


"Anda..."


Scott serta merta memotong ucapan Zoey. "Jangan marah. Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Dan ini..."


Ia kemudian menutup tas berisi senjata itu dan menyodorkan nya ke hadapan Zoey. Sebuah senyuman smirk dari bibirnya sungguh sulit diartikan. Scott bahkan dengan berani menggenggam tangan Zoey sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Adalah hadiah pertemuan pertama kita."


Cukup sudah batas kesabaran Zoey. Rasanya ia ingin menampar orang yang telah berbuat lancang terhadapnya itu.


"Kalau begitu saya anggap transaksi bisnis kita telah selesai. Saya akan pergi sekarang." tukas Zoey dengan suara rendah dan penuh penekanan.


Zoey bergegas pergi dari tempat pertemuan tanpa membawa barang yang diberikan Scott. Namun langkah kaki itu seketika terhenti saat ia mendengar si klien kembali berbicara padanya.


"Tunggu, Tuan Putri... Bagaimana kalau pertemuan selanjutnya kita lakukan di tempat yang lebih lazim. Di cafe misalnya. Jadi, kita bisa berbincang sambil menikmati secangkir Americano kesukaan mu."


Zoey menoleh sekilas dan melihat Scott tengah memandanginya. Ekspresi nya sulit ditebak.


"Terima kasih. Tapi, tidak akan ada pertemuan selanjutnya." balas Zoey yang kemudian melenggang pergi tanpa memperdulikan Scott yang masih saja merancau.


Zoey bertekad untuk menyelidiki Jade Scott, pria paling berpengaruh di dunia underground sekaligus penyelundup barang ilegal paling berkuasa di Rusia.


"Hahaha... Kamu sungguh menawan, Tuan Putri. Lihat saja, akan aku pastikan kita kembali bertemu di lain kesempatan."