My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 24



"Baiklah… Tujuanku ke sini bukan untuk menginterogasi mu. Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini?"


Aku mengangguk pelan dan mulai bercerita, "Jadi sebelum kejadian ini, beberapa waktu lalu terjadi penculikan juga di sekolah ini. Dan siswi yang menjadi korban hari ini adalah satu-satunya saksi penculikan tersebut. Aku tidak tahu apakah dua kasus ini berhubungan. Karena kebetulan aku tidak terlalu dekat dengan murid-muridku."


"Tunggu dulu. Murid? Jadi kamu guru di sekolah ini??" tanya Polisi itu sambil menahan tawanya agar tidak seketika meledak.


"Yayaya… Papa memintaku menjadi guru di sekolah ini." jawabku dengan malas. Karena sebenarnya itu yang aku rasakan selama ini. Jujur saja, aku kurang exited menjalankan misi kali ini.


"Hhmp! Lalu kenapa penampilan seperti itu?" si Polisi itu sepertinya berniat menganggapku sebagai bahan candaan yang lucu.


"Whatever! Ini mau menyelidiki kasus atau mau menginvestigasi aku, hah?!"


"Oke Cantik! Tidak perlu ngambek seperti itu." Curang. Polisi itu kini bersikap manis kepadaku, membuatku luluh saja. "Sekarang apa kamu bisa ceritakan lebih detail tentang situasi di sini?"


Aku menggeleng pelan, "Aku tidak punya petunjuk apapun tentang kejadian ini, tapi mungkin dari teman sekelasnya itu kamu bisa mendapatkan sedikit informasi."


Aku lantas memanggil Samuel ke arah kami. Tapi kenapa dengan muka cowok itu? Sepertinya dia masih belum bisa menerima musibah yang menimpa temannya itu.


Kami bertiga lalu meninggalkan TKP dan mencari tempat yang lebih privat untuk berbicara. Polisi tampan itu lalu membimbing kami memasuki ruangan kosong di sebelah kantor administrasi.


Tidak perlu mengulur waktu lagi, Polisi itu mulai mengajukan satu persatu pertanyaan pada siswa laki-laki di hadapan kami. Aku yang duduk di sebelah polisi itu terpana melihat dia melakukan tugasnya, tegas dan berkharisma. Akan membuat hati wanita manapun meleleh saat melihatnya.


"Saya memang sudah lama mengenal dia. Kebetulan saya juga pacarnya."


deg!


deg!


Jadi Samuel pacaran dengan Cindy???


Aku tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. Hubungan mereka memang bukan urusanku, tapi kenapa hatiku seperti ini. Rasanya tidak terima kalau mereka menjalin hubungan khusus seperti itu. Aku merasa seperti dikhianati.


Tiba-tiba sebuah suara keras membuatku terhenyak. Cowok gila di hadapan kami mulai berulah. Dia berteriak-teriak tidak terima karena merasa dipojokkan. Bukankah memang tugas Polisi untuk mencurigai seseorang?


Dan sekali lagi Samuel membuatku harus menahan rasa malu saat dengan sengaja dia menyinggung kejadian di kolam renang pagi tadi. Sampai membuat Polisi itu berpaling sembari menatapku dengan bingung. Aku hanya tersenyum canggung. Tidak mungkinkan aku mendeklarasikan ciuman pertama ku yang dirampas murid kurang ajar ini.


Polisi itu akhirnya menghentikan interogasi dan memutuskan untuk pergi. Karena sepertinya Samuel tidak bisa bertindak kooperatif.


Yap. Polisi itu bernama Aklesh. Dia sepupuku yang selama ini memberikan bocoran-bocoran informasi yang aku perlukan untuk menjalankan misi. Sebenarnya aku tidak enak hati juga terus merepotkan dia, jadi terkadang aku membantunya membereskan beberapa hal yang lebih banyak berhubungan dengan bisnis gelap atau biasa disebut 'underground'.


"Jadi dia kakak lo?" sebuah suara dengan tone sedikit berat mengusik keheningan ku.


"Iya. Ada masalah?"


"Nggak juga. Kenapa bisa kebetulan banget ya? Atau emang lo sengaja manggil dia buat nyelidiki masalah ini?"


Aku mencoba menahan emosi ku. Jangan sampai aku bertindak ceroboh yang merugikan diri sendiri.


"Sejak kapan kamu jadi banyak bicara seperti ini? Setahu saya kamu ini anak yang pendiam,"


"Lo baru tau kalo gue ini aslinya cerewet?" Samuel mendengus kesal. "Jadi apa sebenernya rencana lo? Gue nggak percaya semua ini cuma kebetulan." 


"Kamu kenapa selalu mau tau urusan saya? Hak saya mau menghubungi siapa pun, yang penting kasus ini segera diselidiki."


"Emang nggak ada polisi selain dia?!" kali ini Samuel membentak ku dengan garang. Entah apa yang merasukinya.


"Memang kenapa kalau itu Kak Aklesh?"


"Gue nggak suka! Gue benci kalo lo deket sama dia, Zoey!"


DDUUAARRR!!!


Serasa petir menyambar jantung saat mendengar jawaban itu keluar dari mulut Samuel. Mendadak pikiran menjadi kosong dan hati terasa sesak.


"Maksud lo…"


"Iya. Gue cemburu!" tegas Samuel seraya menyentuh lembut pipiku.


Dengan wajah masam Samuel bergegas meninggalkan ku setelah mengatakan satu kalimat itu


Pipiku mendadak terasa panas. Pengakuannya sangat menusuk hati hingga aku sulit bernafas. Bocah arogan itu cemburu kepada ku? Kenapa?? Untuk apa?? Pikiran itu mulai berkecamuk dalam otakku. Sejujurnya aku ingin melupakannya saja. Tapi tatapan itu membuatku sulit menyangkal. Aku bahkan merasa ada kejujuran dalam sorot matanya. Ya Tuhan… Sekarang apa yang harus aku lakukan...