
Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan yang memecahkan lamunanku. Lagi-lagi orang itu mengganggu ku. Dengan muka malas aku menatap ke arahnya.
"Hei Nak! Bisa tolong perhatikan saya?" tegur Polisi itu untuk mendapatkan perhatianku.
Aku mengangguk singkat saja. Aku tidak berniat sedikitpun untuk bercakap-cakap dengannya. Untuk apa juga aku harus dibawa ke tempat ini. Apa aku akan dijadikan saksi? Atau polisi ini malah mencurigai ku sebagai pelakunya?
"Kamu anak yang sekelas dengan korban tadi? Siapa nama kamu?" Polisi itu memulai interogasinya.
"Samuel Paxon."
"Apa akhir-akhir ini korban terlihat memiliki masalah dengan seseorang?"
"Tidak." jawabku singkat. Karena memang aku yakin kalau Cindy tidak punya masalah dengan siapapun.
Misalnya saja dia punya masalah atau ada orang yang mengganggunya, cewek itu pasti akan langsung mengadu padaku. Karena memang seperti itulah kebiasaannya sejak kecil.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Apa hubunganmu dengan korban?"
"Saya memang sudah lama mengenal dia. Kebetulan saya juga pacarnya."
"Jadi kamu dekat dengan dia." si Polisi sejenak terdiam mencerna jawaban yang aku ucapkan. Atau malah dia semakin mencurigai ku.
"Sebenernya kenapa gue diinterogasi kayak gini? Kalian curiga sama gue?!"
Oke aku mulai marah. Mulanya aku memang bersikap sopan, tapi melihat tatapan Polisi sialan yang semakin mencurigai ku tentu saja aku tidak terima.
"Samuel jaga ucapan kamu! Bersikaplah yang sopan dan jangan membuat malu sekolah!"
"Biarin!!! Ini sekolah bokap gue! Terserah gue mau ngapain aja! Asal kalian tau, gue sama sekali ngga tau tentang kejadian ini. Gue terakhir ketemu Cindy tadi pagi di parkiran. Habis itu gue bolos di ruang berenang!"
Sejenak aku menghentikan ucapan ku. Aku melirik sebentar pada guru yang duduk di samping Polisi itu.
"Dan bukankah Ibu Zoey yang cantik ini juga tau kalau sejak pagi saya ada di kolam renang, heh?" tanyaku sambil tersenyum sarkastis pada cewek itu.
Puas rasanya melihat mukanya yang merona malu. Sepertinya dia mulai terusik jika mengingat kejadian di kolam renang itu.
Tuliliitt… Tuliliiitt…
Handphone milik si Polisi mendadak berbunyi. Syukurlah! Semoga dia cepat pergi dari sini. Gerah rasanya melihat dia duduk berdekatan dengan Zoey.
"Baiklah. Sementara saya akan menerima keterangan kamu ini. Untuk kedepannya saya harap kamu bisa lebih kooperatif kalau saya membutuhkan informasi lebih lanjut."
"Kamu sudah mau pergi? Bagaimana dengan kasus ini?" tanya Zoey sambil menahan lengan si Polisi yang sudah berniat pergi itu.
Cewek itu sungguh tidak peka. Apa dia tidak sadar kalau dari tadi aku sudah muak melihat kedekatan mereka. Dan sekarang malah tanpa malu lagi mereka bersikap sok mesra di depan mataku langsung. Sebenarnya siapa polisi ini? Ada hubungan apa mereka berdua?
Aaaghhh!!!! Rasanya ingin ku layangkan pukulan yang sudah bergetar di tanganku ini.
"Ya aku harus pergi sekarang. Ada panggilan mendesak dari kantor. Tapi kamu tenang saja, kasus ini tetap bakal aku tangani langsung." sahut si Polisi itu dan serta merta dia mengecup puncak kepala cewek itu.
GILAAA!!! Ini benar-benar gila!!! Beraninya cowok itu mencium Zoey! Jangan-jangan mereka…
"Terima kasih, Kak Aklesh. Kakak segera kabari aku untuk perkembangan kasus ini."
What??? Kakak??? Jadi polisi ini kakak…