
Harusnya di saat genting seperti ini Samuel menyadari kalau kelegaan itu benar-benar datang saat musuh sudah berhasil dikalahkan. Kali ini satu tembakan berhasil mengenai pundak Zoey. Namanya juga pistol, meskipun hanya peluru yang menyerempet, tetap saja darah segar mengalir dari lengan cewek itu. Zoey langsung terjatuh dan mengerang kesakitan seraya memegangi bahunya yang terluka.
Samuel panik melihat darah begitu banyak keluar dari bahu Zoey. Emosinya seketika meluap dan keinginan untuk membunuh si pengemudi SUV itu langsung membuncah.
"Zoey lo terluka! Bener-bener b*****t tuh cowok! Beraninya lawan cewek!!"
Zoey mengumpulkan segenap kekuatannya yang tersisa. Cewek itu kembali bangkit dan kali ini ia benar-benar membidik ke arah si pengemudi. Satu tembakan berhasil mengenai lengan kiri si pengemudi yang membuatnya lepas kendali. Akhirnya mobil menyasak pepohonan di sisi kiri jalan dan berhenti tepat ketika bagian depan mobil itu menabrak sebuah pohon besar.
Zoey tidak lagi peduli dengan keadaan si pengemudi. Tubuhnya langsung terkulai lemas dan matanya menutup tak sadarkan diri.
Samuel seketika menghentikan laju kendaraan. Yang ia rasakan saat ini hanya ketakutan dan khawatir terjadi sesuatu pada Zoey.
"Zoey… Zoey…" Samuel mencoba membangunkan Zoey sambil menepuk pelan pipi cewek itu.
Zoey tetap bergeming. Ia tak juga sadarkan diri. Samuel semakin menggila. Ia harus segera membawa Zoey ke rumah sakit sebelum cewek itu mati kehabisan darah.
Samuel keluar dari mobil dan perlahan memindahkan Zoey ke kursi penumpang di sampingnya. Ia lantas memakaikan sabuk pengaman dan menutup badan Zoey dengan jaketnya hingga sebatas leher.
"Zoey gue akan bawa lo ke rumah sakit. Pokoknya lo harus bertahan." ucap Samuel dengan panik.
Saat perjalanan menuju rumah sakit, Zoey merasakan badannya berguncang dan berhasil mengembalikan sedikit kesadarannya. Perlahan ia membuka mata dan melirik cowok yang duduk di sampingnya sedang mengemudi dengan tampang yang tidak bisa dijelaskan. Sesekali cowok itu mengumpat kesal. Mukanya merah padam, tanda kalau dia sedang sangat marah.
Perlahan Zoey menggerakkan tangannya mencoba meraih lengan cowok itu. Samuel tersentak merasakan ada yang memegang tangannya. Langsung saja ia menoleh ke samping dan betapa leganya dia melihat Zoey kembali membuka mata.
"Lo tahan sebentar. Gue akan bawa lo ke rumah sakit," ucap Samuel yang tidak bisa menutupi ke khawatirannya.
"Bawa saya kembali ke rumah. Dokter yang akan datang mengobati saya," Zoey berbicara dengan sangat lemah karena masih menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Lo gila! Bisa kehabisan darah kalau ga langsung ke rumah sakit!" Samuel kesal karena Zoey malah memintanya untuk pulang.
"Percaya sama saya. Saya bisa mengurus semuanya sendiri."
Samuel menghentikan mobil begitu saja di sebuah perempatan traffic jam. Untung saat ini lampu indikator menyala merah sehingga tidak membahayakan pengguna jalan lain. Samuel lalu memandangi wajah Zoey sekilas. Cewek itu terlihat sangat pucat dengan bibir gemetar menahan kesakitannya.
"Gengsi banget ya kalau lo nuruti omongan gue?! Kita pergi ke rumah sakit atau gue terpaksa bikin lo malu di sini?!" ancam Samuel. Kali ini dia berkata serius.
Dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa agar Zoey mau menurutinya. Yang bisa ia lakukan hanya memberikan ancaman dan berharap cewek itu akan berubah pikiran.
"Coba saja kalau kamu berani..." tantang Zoey dengan senyum sinisnya.
Samuel semakin dibuat kesal. Ia serta merta membuka seluruh kaca pintu mobil. Sebuah senyuman nakal tergambar di wajah cowok itu sebelum akhirnya ia menarik dagu Zoey dan...
Cup!!!
Samuel melumat bibir cewek itu tepat saat lampu traffic light menyala hijau.
Ia tidak peduli deretan mobil yang ada di belakang membunyikan klakson secara serempak. Bahkan ada beberapa pejalan kaki yang berhenti di trotoar hanya untuk mengabadikan ciuman mereka.
Seketika mata Zoey membulat dan mendorong badan Samuel dengan kuat. Tapi cowok itu tidak mau menyerah begitu saja. Ia malah mendekap punggung Zoey dan membuat ciuman itu terasa semakin intens.
Akhirnya Zoey hanya bisa pasrah dan membalas ciuman itu. Awalnya Samuel kaget dengan tindakan sang guru, tapi kemudian ia tersenyum dan mulai berani memberikan permainan lidah.
Setelah berciuman cukup lama, Samuel akhirnya melepaskan bibir Zoey dan menatap mata cewek itu dengan tajam. Ia mencoba menerka isi hati Zoey. Mungkinkah dia akan berubah pikiran? Atau justru dia malah semakin marah?
"Kita tetap pulang ke rumah!" tandas Zoey dengan ucapan memaksa.
Cewek itu langsung membuang muka dan menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
Malu??? Jelas. Tapi entah kenapa Zoey juga merasa sangat senang dicium Samuel seperti itu. Memang cukup mengejutkan, namun justru seperti itulah arti romantis bagi seorang agen rahasia.
Akhirnya Samuel hanya bisa menghela nafas dan menuruti kemauan gurunya itu. Ia segera melesatkan mobil menuju kediaman Zoey.