My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 40



"Tentu saja, Sam. Papa tidak akan melepaskan ku ke medan perang tanpa persenjataan apapun." Zoey terkekeh pelan.


Mereka kini sudah berada di dapur. Zoey segera mengeluarkan beberapa sayuran dan bahan lain dari dalam kulkas. Ia akan memasak spaghetti tuna untuk Samuel.


Samuel menarik kursi makan dan mendudukan dirinya di belakang meja sambil mengamati Zoey yang beraksi di depan pantry. Zoey terlihat sexy saat memasak seperti ini. Dengan t-shirt oversize dan celana hot pants serta rambut yang dicepol ke atas, membuat cewek itu tampak berbeda dari biasanya.


Samuel sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Zoey. Seorang wanita yang nyaris sempurna. Mandiri jelas, cerdas pasti, cantik tidak perlu diragukan lagi, dan sekarang Samuel baru tahu kalau Zoey juga sangat terampil di dapur. Apapun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan Zoey.


"Honey, mama kamu kemana? Dari tadi aku belum lihat."


Zoey mematung sejenak. "Mama udah lama meninggal." ucap Zoey. Suaranya terdengar sendu.


Samuel langsung mengutuk mulutnya sendiri yang sudah mengeluarkan pertanyaan tersebut. Sungguh bukan jawaban yang diharapkan. Ia menatap Zoey yang berusaha tegar, tapi sangat jelas sorot mata itu terlihat sayu saat mendengar pertanyaannya. Samuel jadi merasa tidak enak karena sudah membuka luka lama di hati Zoey.


"Maaf… Aku tidak tau kalau…"


"Nggak papa, Sam. Kamu mau aku ceritain tentang Mama?"


Samuel bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Zoey. Dipeluknya pinggang Zoey dari samping dan mendaratkan kecupan lembut di pelipis mata cewek itu.


"Kalau itu bikin kamu sedih, lebih baik aku nggak tau apa-apa"


Zoey tidak mengindahkan ucapan Samuel dan mulai menceritakan sosok wanita yang menjadi malaikat sekaligus pahlawan dalam hidupnya.


"Mama bukan sosok yang lemah lembut seperti kebanyakan wanita. Beliau selalu tampil menjadi pribadi yang kuat dan tegas. Bahkan Papa pun tidak akan bisa membantah kalau Mama sudah membuat keputusannya. Meski begitu, Mama wanita yang sangat keibuan. Beliau mendidik ku dengan caranya sendiri. Walau aku anak perempuan, Mama tidak suka melihatku bersikap manja. Beliau ingin anaknya kelak menjadi wanita mandiri yang selalu dihormati siapa saja."


Samuel tersenyum bangga mendengar sosok wanita yang diceritakan Zoey. Dan dia lebih bangga, karena darah wanita tersebut mengalir dalam diri sang kekasih. Samuel semakin mengeratkan pelukannya sembari bergelayut manja di pundak Zoey.


"Kalau boleh tau, kenapa Mama kamu meninggal?"


Zoey tampak ragu saat ingin menjawab. "Mama meninggal saat menjalankan misi bersama Papa."


"Jadi mama kamu…" Samuel tercekat. Lidah terasa kelu mendengar jawaban yang sekali lagi meruntuhkan dinding hatinya.


"Benar. Mama juga seorang agen rahasia."


Keheningan kembali menyergap mereka berdua. Zoey memilih fokus pada masakannya. Sesekali ia mencicipi dan merasa kalau makanan itu sudah sempurna.


Di sisi lain, Samuel dengan serius memandangi pacarnya yang tampak menikmati aktivitas di dapur. Cewek secantik Zoey lebih cocok memainkan alat masak seperti ini daripada harus mengangkat senjata. Dan yang pasti Zoey akan lebih aman jika dia tetap berada di dalam rumah.


Samuel tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali. Di saat Zoey sedang mati-matian melawan k*****t itu, dirinya justru hanya diam dan menyaksikan cewek itu bersimbah darah. Mulai sekarang dia juga harus belajar menggunakan senjata agar bisa melindungi Zoey.


"Bisa ajari aku juga?"


Zoey berhenti menata pasta di piring dan menoleh ke arah Samuel.


"Ajari apa?" tanya Zoey sambil mengerutkan dahi.


"Pakai senjata. Apapun itu."


"Jangan coba-coba, Sam! Kamu belum cukup umur untuk menggunakan semua itu."


"Jadi kamu yang akan terus-terusan maju? Sementara aku, cowok kamu cuma melihat sambil bersembunyi di belakang kamu gitu?" Samuel mendengus kesal.


"Bukan itu maksudku, Sam…"


"Biar saya yang mengajari kamu," sebuah suara laki-laki mendadak mengagetkan mereka berdua. Samuel spontan melepaskan pelukannya dan berlalu menghampiri orang tersebut.


"Papa! Mana bisa begitu!" pekik Zoey saat tahu yang menginterupsi perdebatan mereka adalah ayahnya.


"Kenapa, sayang? Samuel itu laki-laki jadi sudah sepantasnya dia melindungi kamu."


Ayah Zoey memukul pelan bahu Samuel sambil melirik cowok itu penuh persekongkolan.


"Terima kasih, Om."


"Berani kamu memanggil saya om?!!" bentak Ayah Zoey yang seketika menciutkan nyali Samuel.


Mampus gue salah ngomong!!!


"Begitukah caramu memanggil Papa Mertua kamu? Hahaha…"


"Siap, Pa!"


Mereka kemudian tertawa bersama. Hanya Zoey yang menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia merasa tidak punya sekutu di rumah itu.


Setelah hidangan disiapkan di atas meja, mereka bertiga langsung menyantapnya bersama. Tak henti-hentinya Samuel memuji hasil masakan Zoey. Sang papa hanya tertawa pelan sambil sesekali menggoda putri kesayanganya. Dia merasa kalau keceriaan di rumah itu akhirnya kembali setelah kehadiran Samuel.


Ayah Zoey sangat setuju andaikan mereka berdua nantinya berjodoh. Dia dengan senang hati akan berbesan dengan orang tua Samuel yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.