
Zoey melenggang di koridor sekolah dengan langkah riang. Hatinya sedang dipenuhi ratusan bahkan mungkin ribuan bunga yang bermekaran. Sesekali terdengar senandung kecil dari mulutnya.
Para murid yang dilewatinya menatap heran sembari mengerutkan kening. Pasalnya, Zoey yang mereka tahu selama ini terkenal sebagai guru yang serius sekaligus mood killer.
Ada saja pelajaran yang membuat nge-drop suasana hati siswa-siswanya. Entah itu dari materinya maupun cara mengajarnya. Guru satu itu selalu berhasil membuat jengkel dan takut di saat yang bersamaan. Tidak heran jika banyak siswa yang dibuat tak berkutik di hadapannya.
Zoey melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Masih kurang tiga puluh menit sebelum jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Berarti bel masuk baru akan berdering setengah jam kemudian. Zoey memutuskan untuk mampir sebentar di kafetaria dan membeli segelas Americano kesukaannya.
"Pagi bu Zoey," sapa seorang mahasiswa yang belakangan sering berinteraksi dengan Zoey.
"Hai. Pagi Siska," seru Zoey riang sambil mendaratkan dirinya di depan Siska.
"Kayaknya ibu lagi senang hati nih…" goda si Mahasiswa Magang.
"Kelihatan ya? Haha…"
Siska hanya tersenyum simpul sambil mengangsurkan sebungkus keripik kentang yang tengah ia santap.
"Oh ya, Sis. Bagaimana keadaan Cindy?" tanya Zoey setelah memesan segelas Americano hangat.
"Sudah lebih baik bu. Tapi anak itu memiliki trauma yang parah jadi masih harus menjalani beberapa terapi mental."
Zoey manggut-manggut. "Makasih ya kamu sudah mau saya repotkan seperti ini. Kemarin sewaktu ke rumah sakit, saya belum sempat menemui kamu."
Siska tersenyum sekilas, "Tidak perlu sungkan bu Zoey…"
"Bagaimana kalau weekend ini saya traktir kamu makan di restauran sushi? Kamu suka masakan Jepang?"
"Yakin ibu tidak ada janji kencan malam minggu besok?"
Zoey menggeleng, "Saya punya waktu luang di akhir pekan."
Zoey menatap si Mahasiswa Magang dengan pandangan bingung. Ia lantas mengikuti arah tatapan Siska yang ternyata menunjuk pada seorang siswa laki-laki yang tengah asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Sesekali cowok itu mencuri pandang memperhatikan Zoey, sang pacar. Ya dialah Samuel.
Wajah Zoey sontak merona tatkala pandangan mereka tak sengaja bertemu.
"Ibu Zoey pacaran kan sama anak itu?" tanya Siska tiba-tiba.
DUAARRR!!!
Zoey mematung di tempat mendengar pertanyaan sederhana itu. Tidak sulit bagi Zoey untuk menjawabnya, hanya saja dia belum siap menghadapi tatapan orang-orang yang akan menghakimi dirinya.
Zoey sadar kalau hubungannya dengan Samuel pasti akan memicu gerakan protes para siswanya. Terlebih lagi pacarnya itu bisa dibilang salah satu idola sekolah. Pasti banyak fans cowok itu yang akan membentuk aliansi untuk memboikot Zoey.
Bukannya ia tidak sanggup menghadapi remaja-remaja itu, tapi Zoey sedikit ngeri kalau harus mendengar hujatan dari mulut nyinyir mereka. Faktanya mulut netizen jaman sekarang lebih berbahaya dari ancaman Perang Dunia.
"Jangan asal ngomong kamu!" jawab Zoey sewot. "Saya cuma kenal dia sebatas siswa. Nggak lebih!"
Siska sudah bisa menebak kalau guru di hadapannya itu pasti akan mengelak. Sesuai dugaannya, mereka tengah menjalin hubungan backstreet saat ini.
"Bu Zoey backstreet ya?? Haha…"
Zoey menunduk malu sambil pura-pura menyeruput secangkir kopi yang masih panas.
"Saya sudah tau dari kemarin bu Zoey. Pas ibu datang ke rumah sakit, saya nggak sengaja melihat adegan romantis di taman waktu itu."
WHAT?!!!
Seketika Zoey mendelik menatap Siska yang alih-alih takut, justru malah cengar-cengir tak karuan.