
Leo mendadak gelagapan mendengar pertanyaan Samuel, tidak tahu harus menjawab apa. Dia bagaikan terkena skak mat.
"Gue udah tau kalau lo naksir cewek itu."
"Terus kenapa lo nggak marah?" tanya Leo heran.
"Kan gue doyannya sama yang bohay gini… Hahaha"
Serta merta Samuel merangkul bahu Zoey dan mengecup kilas pipinya. Si cewek hanya mendelik tajam melihat tingkah Samuel yang kekanak-kanakan.
"Percaya gue, Sam… nggak usah dipamerin gitu juga keleus…"
"Haruslah! Punya pacar se-perfect ini wajib dibanggakan biar makin heboh beritanya."
"Norak lo, Sam. Kayak nggak pernah pacaran aja!"
"Emang nggak pernah. Kan gue masih perjaka. Dan itu gue jaga cuma buat dapetin seorang perawan seperti dia."
Samuel menyunggingkan senyuman penuh arti ke arah Zoey sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zoey hanya membuang muka malas. Cewek itu jengah mendengar adu mulut antara Leo dan pacarnya. Ia memilih bangkit dan berlalu meninggalkan kantin sampai tanpa sengaja ada seseorang yang menabraknya.
BRUGH!!!
Zoey tidak dapat melihat wajah orang tersebut. Sesaat hanya rasa sakit pada pinggangnya yang menyita perhatian saat itu. Sebuah pemandangan mengerikan membuat seluruh pengunjung kantin berteriak histeris.
"Aaarrgggg….!!!"
Sebuah belati tampak tertancap pada perut samping Zoey. Darah segar mengalir dari luka tusuk tersebut. Membuat kesadaran Zoey perlahan menghilang.
Samuel yang mendengar teriakan itu, spontan berlari saat melihat Zoey tergeletak di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Cowok itu membelalakkan matanya saat melihat sebuah pisau tertancap pada tubuh sang pacar.
Samuel langsung membopong tubuh cewek itu dan membawanya ke dalam mobil. Sambil di temani Leo, mereka segera melarikan Zoey ke rumah sakit terdekat.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di depan pintu UGD sebuah rumah sakit. Samuel berlari menghampiri seorang perawat sambil menggendong Zoey di dalam pelukannya.
Dia tidak lagi menghiraukan pandangan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Yang terpenting Zoey bisa selamat, atau dirinya sendiri yang akan menarik kepala si pelaku dan merobeknya dengan belati yang sudah melukai tubuh cewek itu.
Beberapa perawat menghampiri Samuel sambil mendorong sebuah ranjang dan membaringkan Zoey di sana. Mereka dengan sigap memasang masker oksigen dan menutup lukanya serta melakukan CPR untuk membuat jantung Zoey tetap berdetak.
"DOKTER, CEPAT SELAMATKAN PACAR SAYA!!!"
Samuel berteriak menggila di depan ruang UGD. Beberapa perawat mencoba menenangkannya, tapi tetap percuma saja.
BURGH!!!
Sebuah pukulan keras menghantam pipi kanan Samuel. Cowok itu spontan meledak dan berbalik mencengkeram kerah baju si pemukul yang ternyata adalah Leo.
"Lo bisa tenang nggak?! Atau gue bikin lo masuk UGD saat ini juga!!!" bentak Leo sambil menyentakkan tangan Samuel dari kerah bajunya.
Samuel bergeming mendengar bentakan Leo. Dia mencoba mempertahankan akal sehatnya yang tinggal tersisa setengah saja.
"Gue tau lo emosi. Gue paham lo pengen banget ngebunuh itu orang, tapi lo juga tetep harus waras, Sam! Pacar lo sedang berjuang di dalam sana! Apa lo nggak berniat buat ngasih kabar orang tuanya atau apalah! Dari pada lo cuma teriak-teriak nggak jelas!"
Seketika Samuel teringat dengan Ayah Zoey. Ia langsung menelpon nomor sang calon mertua yang sudah disimpan sebelumnya.
"Halo, Sam… Ada apa kamu telpon papa jam segini? Nggak sekolah kamu?" tanya seorang laki-laki dari seberang telpon.
"Zoey masuk rumah sakit, Pa. Sekarang dia lagi di UGD." jawab Samuel dengan lesu.