
"Hah?!" Samuel seketika menengok ke belakang dan memastikan maksud ucapan gurunya itu.
Meskipun sekilas tapi Samuel yakin kalau dia melihat si pengemudi mobil SUV sedang menodongkan sebuah senjata api ke arah Zoey. Cowok itu mulai ketakutan. Jantungnya berdetak sangat cepat. Apa yang akan terjadi padanya dan juga Zoey? Bagaimana ia akan melindungi dirinya dan Zoey kalau lawannya sebuah senjata yang satu tembakan saja bisa meloloskan nyawanya.
"Lo punya rencana apa sekarang?" tanya Samuel pada Zoey yang masih sibuk dengan setirnya.
"Kamu jago main balap mobil?"
Samuel mengerutkan kening mendengar pertanyaan Zoey. Ini guru sedang ngelawak atau memang sudah tidak waras? Di saat genting seperti ini malah menanyakan permainan balap mobil. Yang benar saja!
"Lo sedeng ya?! Masih sempet aja nanyain game kayak gitu?! Kita lagi taruhan nyawa nih!" bentak Samuel kesal.
Zoey tersenyum gemas melihat tingkah Samuel yang ketakutan tapi juga mencoba menahan emosinya.
Doorr… doorrrr…
Mobil SUV itu mulai berulah. Si pengemudi beberapa kali menembakkan senjata api ke mobil Zoey. Tapi percuma saja, karena kaca mobil yang sedang dikendarainya saat ini memakai kaca anti peluru. Beruntung pagi ini ia meminjam mobil milik ayahnya yang memiliki fasilitas super canggih.
"Kalau kamu jago main balap mobil, kamu pasti bisa menggantikan saya memegang setir ini. Ada yang harus saya urus." kata Zoey meluruskan maksud yang sebenarnya.
Sesaat Samuel dan Zoey saling memandang lalu tersenyum bersemangat. Mulanya Samuel melepas sabuk pengaman yang ia kenakan dan perlahan tangannya meraih kemudi mobil yang masih dipegang Zoey. Setelah dirasa cukup aman Zoey lantas menarik badannya dan berpindah ke kursi belakang.
Sekarang kemudi sudah di tangan Samuel dan cowok itu tetap melajukan kendaraan tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun. Zoey kembali mengenakan earphone khususnya.
Ia mencoba menghubungi markas pusat untuk meminta bantuan.
Zoey memberikan perintah sambil membuka tas perlengkapannya yang berisi revolver dan beberapa butir peluru. Ada juga senjata api jenis sniper rifle yang tersimpan di bawah kursi penumpang.
"Jadi Mr. K sedang dalam bahaya?" tanya seseorang di seberang telepon.
Zoey menghela nafas malas. "Mobil Mr. K saya pakai ke sekolah. Jadi sekarang saya yang dalam bahaya."
"Siap! Laksanakan!"
"Oh iya, saya hanya punya 5 peluru. Bekerjalah dengan cepat atau hari ini akan ada satu nyawa yang melayang." Zoey mengakhiri panggilan sambil menyunggingkan senyum yang mengerikan.
Kali ini Zoey terlihat sangat serius. Ia tidak lagi bermain-main jika sudah memegang senjata api favoritnya. Sebuah senapan laras panjang telah siap di tangannya.
"Sam, buka pintu atap mobil sekarang!"
"Hah?! I… Iyaa…" Samuel gelagapan mendengar bentakan dari Zoey. Selama ini ia tidak pernah melihat Zoey semenakutkan itu. Zoey yang sekarang bersama dengannya bukan lagi seorang guru yang biasa ia kenal.
Saat pintu atap telah terbuka sempurna, Zoey serta merta berdiri dan mulai memainkan senapan runduk di tangannya. Tembakan pertama berhasil ia lesatkan dan tepat mengenai ban depan sebelah kiri mobil SUV. Hasilnya mobil itu mulai kehilangan kendali. Tembakan kedua kembali ia arahkan ke ban mobil depan sebelah kanan. Namun sayang tembakan itu tidak berhasil membuat ban pecah.
Si pengemudi SUV mulai marah. Kali ini lelaki dengan muka tertutup masker itu terang-terangan mengarahkan sasaran tembakannya kepada Zoey. Beberapa tembakan berhasil ia lepaskan namun tidak satupun yang berhasil mengenai Zoey. Dengan mudahnya Zoey merunduk dan berkelit.
Bener-bener gila ini cewek! Batin Samuel yang terpana dengan aksi gurunya itu.
Harusnya di saat genting seperti ini Samuel menyadari kalau kelegaan itu benar-benar datang saat musuh sudah berhasil dikalahkan. Kali ini satu tembakan berhasil mengenai pundak Zoey. Namanya juga pistol, meskipun hanya peluru yang menyerempet, tetap saja darah segar mengalir dari lengan cewek itu. Zoey langsung terjatuh dan mengerang kesakitan seraya memegangi bahunya yang terluka.