My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 79



Samuel perlahan menghampiri Jasmine dan langsung meraba nadi temannya itu. Masih terasa. Berarti dia masih bernyawa.


"Dia masih hidup. Tapi kita harus pergi dari sini sekarang juga. Feeling gue mulai nggak enak."


Melihat Leo membelalak padanya, Samuel tahu kalau temannya itu akan mengisyaratkan penolakan. Dan sebelum itu terjadi Samuel dengan cepat menarik Leo pergi dan membawanya menuju sebuah pintu kecil yang terhubung dengan kebun belakang rumah.


"Lo udah nggak waras, Sam!!! Kenapa lo nggak nolongin Jasmine?!! Dia teman kita!"


Samuel bergeming. Dia enggan berdebat dengan Leo saat ini. Yang ada dalam benaknya hanyalah secepat mungkin meninggalkan tempat terkutuk itu dan bergegas menuju rumah Zoey untuk memberitahukan semua yang dia lihat.


"B*****t!!! Lo serius ninggalin Jasmine gitu aja?! Gimana kalau dia mati…?"


BURGHH!!!


Sebuah pukulan keras melayang mengenai sudut bibir Leo. Membuat darah segar sedikit mengalir di sana. Dan yang melakukan itu bukan lain adalah Samuel. Dia kesal mendengar Leo terus mengumpat tanpa sedikitpun membantunya membuka pintu di hadapan mereka.


"Lo udah liat sendiri bagaimana kejinya si kentang itu. Apa lo pikir dia akan diam aja kalau kita bawa Jasmine pergi dari sana?! Lo udah bosan hidup?!!"


Nafas Leo terengah-engah. Dadanya sesak menahan amarah yang meluap. Dia masih tak percaya mendengar ucapan Samuel yang terdengar seakan tak peduli dengan keselamatan temannya.


"Gue ngerti perasaan lo, Yo. Kalau lo mau Jasmine selamat, sekarang juga lo pikirin cara buat membuka pintu sialan ini."


Samuel dan Leo terdiam sesaat menatap pintu di hadapan mereka. Satu-satunya cara untuk keluar dari tempat mengerikan tersebut adalah dengan menghancurkan pintu kayu itu. Tapi dengan apa mereka akan menghancurkannya?


Namun tak di sangka, pintu tersebut ternyata cukup keras. Kapak yang ditebaskan sama sekali tidak bisa menembusnya. Samuel lalu merusak pengunci yang terpasang. Setelah dirasa cukup, mereka bersama-sama mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Hanya dengan dua kali dobrak, papan laknat itu berhasil dibobol. Keduanya langsung menghambur keluar lalu berlari menuju mobil yang mereka sembunyikan dan bergegas menyalakan mesinnya.


Mobil yang dikemudikan Samuel melesat dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan villa tersebut dalam sekejap. Di sebuah persimpangan jalan mereka berpapasan dengan mobil si Denish yang melaju menuju arah yang berlawanan. Yang artinya, ia kembali ke villa miliknya. Seketika Samuel bernafas lega. Untung saja mereka segera meninggalkan tempat itu.


"Lo yakin kita nggak perlu lapor polisi?" tanya Leo dengan nada sinis.


"Kita harus cukup bukti dulu buat bikin laporan. Lo punya bukti apa sekarang?" Samuel menyipitkan matanya. "Lebih baik kita pulang dulu dan mikirin semua ini dengan kepala dingin."


"Tapi, Sam…"


"Oke, begini. Pertama kita cari tahu dulu alasan si Denish menculik mereka semua. Kalau alasannya karena dendam atau masalah pribadi, kenapa bocah itu nggak langsung menghabisinya saja? Bukankah kalau mereka selamat dari sana justru akan merepotkan? Bisa saja mereka buka mulut dan melaporkannya pada polisi. Dan yang paling bikin gue bingung, kenapa semua korbannya cewek?"


Leo termenung membenarkan setiap kata yang diucapkan Samuel. Semua itu masuk akal, kalau memang cewek-cewek itu bermasalah dengan Denish, harusnya langsung dibunuh saja.


Leo menarik nafas dalam-dalam dan menghembus kasar.


"Lo ada benarnya, Sam. Tapi gue nggak habis pikir, ternyata dalang dari semua teror ini malah si bocah kentang. Kayaknya tuh bocah nggak pernah ada masalah sama Jasmine. Kok bisa dia berbuat se-biadab itu. Atau jangan-jangan…"


"Dia psikopat..." cetus si Leo dan Samuel bersamaan dengan ekspresi datar.