My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 71



Kriing… Kriinng… Kriingg…


Dering bel tanda istirahat akhirnya berbunyi. Kelas yang awalnya hening bagaikan pemakaman itu mendadak dipenuhi dengungan para siswa yang terdengar seperti suara kawanan lebah. Seketika para siswa itu merasa sangat lega, setelah melewati waktu belajar yang panjang dan menyebalkan.


Penyebab situasi tersebut bukan karena materi pelajarannya yang membosankan, tapi cara mengajar si guru yang terlalu serius membuat suasana kelas serasa mencekam. Entah si guru sedang PMS atau karena otaknya saja yang memanas, satu yang pasti Zoey -si wali kelas XII-3 sekaligus guru matematika- membuat kegiatan belajar di kelasnya berubah laksana siksaan seorang Hitler.


Bahkan sang pacar saja mengeluhkan tindakan tersebut. Samuel sempat beberapa kali mengirim pesan kepada Zoey untuk mengubah cara mengajarnya, tapi yang ada malah cowok itu mendapat beberapa pertanyaan dari si guru yang mengharuskan dirinya berpikir keras tentang rumus perkalian matriks. It's a bad day!


"Hari ini kamu kenapa, Honey? Kamu lagi PMS atau apa, heeemm?" tanya Samuel pada Zoey yang tengah membereskan beberapa buku di atas mejanya.


Zoey menoleh sekilas dan tersenyum sinis ke arah Samuel. "Menurut kamu?!" tukasnya tajam.


"Come On, Honey… Jangan bilang ini karena masalah kemarin?" selidik Samuel curiga.


Zoey bergeming sambil sesekali bermain dengan kakinya tanpa suara. Memang benar, saat ini dia tengah kesal dengan apa yang diperbuat Samuel tempo hari.


Bukan perbuatan yang 'itu' tentu saja. Tapi dengan sikap Samuel yang sama sekali tidak mengindahkan ucapannya. Berkali-kali Zoey melarang cowok itu untuk belajar menggunakan senjata, tapi kemarin dia tetap nekat menyentuh benda berbahaya itu dengan dalih telah mendapat izin resmi dari papa mertuanya -Ayah Zoey- yang bahkan malah memilihkan seorang agen khusus untuk melatihnya.


Itulah yang membuat Zoey menggila sampai-sampai ingin meluapkan emosinya lewat para siswa yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang masalahnya.


"Oke, aku salah. I'm sorry, Honey… Please…"


Kali ini Samuel tidak hanya meminta maaf, tapi cowok itu sudah menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan sang pacar. Ia sangat paham kalau si agen rahasia-nya itu tidak mudah dibujuk hanya dengan sekotak coklat ataupun ice cream. Mungkin hanya 'itu' yang bisa meluluhkannya, tapi untuk saat ini Samuel tidak mungkin memberikannya. Entah kalau nanti sepulang sekolah. 😋


"Kamu apa-apaan, Sam! Cepat bangun. Malu dilihat teman-teman kamu."


Pipi Zoey mendadak terasa panas. Ia tidak menyangka kalau Samuel akan berbuat sampai sejauh itu. Hingga membuat cewek itu salah tingkah dan tidak nyaman.


"Dimaafin dulu dong…"


"Ok. I forgive you."


"Good girl…"


Cup!


Tanpa malu-malu Samuel menyesap kilas bibir merah Zoey yang sontak saja membuat cewek itu membelalakkan mata tak percaya. Ingin sekali ia menampol kepala cowok arogan itu agar otaknya kembali bekerja normal.


Seketika suasana kelas berubah kacau. Para siswa bersorak gembira, bahkan ada yang secara terang-terangan menggoda.


"Segeerrr… Ada live streaming drama sekolah…"


"Hahaha… Halalin adek, Bang!"


"Manis pisan euy…"


Pipi Zoey seperti akan meledak saking malunya. Hancur sudah wibawanya sebagai seorang guru.


Mulanya banyak siswa yang merasa segan dengan seorang Brigittha Zoeylia. Karena cewek itu dianggap salah satu guru yang tegas saat mengajar sekaligus kejam dalam memberi hukuman. Tapi semenjak gosip pacaran itu sudah menyebar ke seantero sekolah, kini tidak ada lagi siswa yang takut terhadapnya. Bahkan ada beberapa siswa yang sampai nekat memberinya sebuah pernyataan cinta. Walaupun mereka semua berakhir babak belur di tangan Samuel, karena cowok itu sudah pasti tidak akan tinggal diam melihat ada pejantan lain yang berusaha mendekati pacarnya.


BRAAKKK!!!


Tiba-tiba seseorang menggebrak meja dengan sangat keras sampai membuat seluruh siswa mendadak bungkam seketika. Tak pelak semua mata menatap ke arah gebrakan tersebut yang ternyata berasal dari meja yang berada di baris paling belakang. DENISH.


Cowok itu spontan berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan kelas tanpa menghiraukan tatapan bingung teman-temannya. Siswa tersebut terlihat sangat kesal. Wajahnya sungguh merah seperti udang galah yang terpanggang.


"Sudah! Sekarang kalian bubar atau saya akan kembali melanjutkan pelajaran tanpa ada waktu istirahat?"


Pastinya tidak ada siswa bodoh yang berniat membantah instruksi dari sang guru. Siapa juga yang sudi membuang waktu istirahat mereka hanya untuk melanjutkan pelajaran. Tanpa menunggu diperintah yang kedua kalinya, seluruh siswa berlomba berhamburan keluar kelas. Dan hanya menyisakan Zoey serta Samuel di dalam sana.


"Yank, mulai sekarang kamu harus selalu ikuti Denish. Kapanpun dan kemanapun dia pergi. Dan laporkan semua yang dia lakukan." ucap Zoey dengan wajah serius.


"Ada masalah dengan anak itu?"


"Belum. Tapi mungkin sebentar lagi dia akan berulah…"


Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas dalam otak Zoey. Ia kembali teringat dengan pertemuan Denish dan si guru laki-laki yang terkesan tidak wajar. Terlebih lagi, Zoey mencium sesuatu yang tidak beres sekarang.


"Baiklah. Aku akan lakukan sesuai yang kamu mau."


Cup!


Samuel kembali mencium bibir Zoey dan kali ini diiringi dengan sebuah gigitan kecil pada bibir bawah cewek itu.


"Aaaww!! Kamu kenapa gigit aku?!" tanya Zoey kesal.


"Habisnya kamu gemesin banget kalau lagi marah gitu."


"Aku marah juga karena siapa?!"


"Honey, aku lakuin itu juga buat melindungi kamu. Aku nggak suka kalau kamu apa-apa bertindak sendiri."


Zoey menghela nafas panjang. "Tapi aku lebih benci kalau kamu ikut terlibat bahaya!"


"I'm safe. Begitu juga kamu. Kita nggak akan kenapa-napa. Oke?" ucap Samuel seraya mengusap lembut pipi pacarnya itu. Sekedar untuk menghilangkan rasa khawatir yang berlebihan.


Dan memang itu yang sedang Zoey butuhkan sekarang. Cewek itu sangat bersyukur memiliki seorang Samuel yang terkadang memberikan ketenangan tersendiri untuknya.