
Deg!
Deg!
Deg!
Surprise…!!! Dialah Karren Akira. Yap, wanita menawan yang tengah berbaring di atas ranjang itulah belahan jiwaku. Dia masih tertidur dengan begitu tenang dan damai. Memang kulitnya terlihat dingin dan sedikit pucat, mungkin karena kurang asupan vitamin E. Tapi tidak apa-apa, lebih baik begini daripada kulit mulusnya itu terbakar sinar matahari.
APAKAH DIA MATI??? Tentu tidak! Kalian jangan lancang berkata hal buruk itu. Dia hanya tertidur sedikit lebih lama dari pada manusia pada umumnya. Yah… Dia sudah tertidur seperti itu selama hampir satu tahun. What?!!! SATU TAHUN???
Tenanglah… Itu bukan sesuatu yang berat buatku. Selama aku masih bisa menatap paras cantiknya, entah itu satu tahun, sepuluh tahun, bahkan seratus tahun sekalipun aku akan tetap setia menunggunya. Aku hanya perlu memberinya beberapa cangkir darah gadis perawan dan itu akan membuatnya merasa lebih baik. Yaa… Semacam treatment perawatan itulah.
Dan untuk memenuhi semua kebutuhan itu, aku sudah menemukan beberapa gadis yang bersedia berbagi darah dengan Kareen ku. Walaupun tidak seluruhnya dari mereka suka rela melakukannya.
Kalian pasti berpikir kalau aku ini manusia yang kejam. Atau lebih gilanya lagi aku disebut seorang psikopat jahanam. No problem, gaes…! Kenyataannya aku tidak seburuk itu. Aku tidak begitu saja membiarkan para gadis baik hati itu mati. Aku masih memberikan mereka kesempatan untuk hidup. Meskipun hanya lewat sebuah selang infus. Setidaknya itu memberikan mereka sedikit kekuatan untuk bertahan.
Asal kalian tahu, sebenarnya mereka tidak benar-benar sakit. Kalian ingatkan aku memiliki obat terlarang itu? Disinilah fungsi obat tersebut bekerja. Dengan setetes suntikan obat anestesi, rasa sakit yang semula mereka rasakan perlahan akan menghilang dengan sendirinya. Jadi tidak ada yang perlu mereka khawatirkan. Sekali lagi aku katakan, aku ini orang yang baik bukan?
Selain itu aku juga telah bersumpah kalau sampai Karren Akira membuka matanya, akan aku berikan imbalan yang setimpal untuk mereka. Aku akan mewujudkan semua permintaan gadis-gadis itu. Pakaian? Perhiasan? Mobil? Atau bahkan rumah? Aku akan turuti semuanya.
Jangan berpikir kalau aku ini manusia kere. Setidaknya harta kekayaan keluarga ku masih jauh lebih unggul dari pada si Samuel Paxon sialan itu. Kalau aku mau, mudah saja bagiku membeli sekolah nya itu. Tapi buat apa? Toh... Kareen juga tidak bersekolah disana. Lebih baik uang itu aku gunakan untuk memfasilitasi keperluan gadisku ini.
Kalian pasti penasaran bagaimana aku memiliki rencana brilian seperti ini. Akan aku jelaskan.
Semua ini berawal dari perkenalanku dengan 'orang itu'. Orang yang bersedia membantuku, orang yang juga bernasib sama denganku. Dia adalah Louis Anderson. Seorang guru biasa di sekolahku. Mulanya aku dan dia hanya mengobrol ringan saat kebetulan bertemu di kafetaria sekolah. Dan dari obrolan itu aku mengetahui kisah hidupnya yang memilukan. Lantas aku tergerak untuk menceritakan kisah ku juga.
Sampai kami pun menemukan sebuah persamaan. Sama-sama bernasib malang.