
Perlahan Samuel melajukan kendaraannya mengikuti mobil Denish yang sudah lebih dulu meninggalkan sekolah. Mobil tersebut terus bergerak dengan kecepatan konstan. Sepertinya si pengemudi tidak sadar kalau sedang dikuntit dua orang siswa yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya.
Setelah cukup lama berkendara di ruas jalan kota, mobil berwarna silver itu akhirnya berbelok menuju jalur yang lebih lengang dan menanjak. Di sekelilingnya ada banyak pepohonan tinggi dan juga rindang.
Menurut dugaan Samuel, si oknum kejahatan tersebut akan pergi ke villa yang pernah disebutkan Zoey sebelumnya.
"Kayaknya dia mau ke villa yang dulu itu, Sam. Gue masih inget jalan ini." gumam Leo sambil terus menatap tajam kendaraan di depannya.
Samuel mengangguk setuju. "Feeling gue juga gitu."
Jalur yang mereka lalui memang cukup familiar. Karena biasanya memang seperti itu karakteristik jalanan menuju villa di daerah pegunungan.
Setelah menempuh kurang lebih tiga jam perjalanan, mobil yang mereka buntuti berhenti di depan sebuah rumah kecil -atau bisa juga disebut pondok- yang terlihat suram. Rumah tersebut berdiri tepat di sebelah bangunan mewah berlantai dua.
"Ngapain si kentang ke pondok kecil itu? Bukannya villa dia yang sebelah ya?" bisik Leo pada pengemudi di sampingnya.
Samuel mengangkat bahu. Saat ini dia juga sama penasarannya dengan Leo. Dia tidak mendapat informasi apapun dari pacarnya selain instruksi untuk mengikuti kemanapun Denish pergi.
Meskipun sudah berhenti cukup lama di tempat tersebut, namun cowok tambun yang sering dijuluki 'Kentang' itu belum juga keluar dari kendaraannya. Tampaknya orang tersebut menunggu keadaan sekitar menjadi lebih sepi. Hingga tanpa sadar langit malam mulai datang.
"Belum keluar juga si Kentang?" tanya Samuel sambil mengatur kursi kemudinya agar berubah menjadi rest mode.
"Belum. Mungkin dia nunggu sepi dulu."
"Whatever!" sahut Samuel singkat.
Cowok itu memilih memainkan benda kecil di tangannya seraya berkirim pesan dengan sang pacar. Selain melaporkan hasil pengamatan, Samuel juga sibuk menebarkan bujuk rayu pada Zoey agar cewek itu mau memaafkannya.
Setelah menunggu sangat lama, akhirnya Denish terlihat keluar dari mobil. Sesuai dugaan Leo, cowok itu sesekali menengok kanan kiri untuk memastikan kondisi sekitar sudah aman dan tidak ada yang mengikutinya.
Untung saja Samuel memilih tempat parkir yang tepat. Mobil mereka berhenti tak jauh dari pondok tersebut. Ia bahkan menyembunyikan mobilnya di belakang semak belukar yang tumbuh subur di sekitar tempat itu.
"Sekarang kita ngapain?" tanya Leo dengan muka polosnya.
"Tidur aja, Yo di sini. Mau ngapain?" sahut Samuel santai.
Serta-merta cowok itu memukul kepala temannya. Dia kesal mendengar pertanyaan Leo yang tak masuk akal.
"Kita ikutin dia goblok!!! Buat apa jauh-jauh ke sini kalau cuma nongkrong di mobil."
Leo cengar cengir sambil mengelus kepalanya yang baru saja terkena pukulan dari Samuel.
Perlahan dua cowok berseragam itu berjalan kaki mengikuti Denish yang sudah lebih dulu memasuki rumah tersebut.
Sebetulnya pondok kecil itu tampak normal-normal saja. Dirancang dengan model khas rumah daerah pegunungan yang menentramkan. Serta dihiasi beberapa tanaman bunga yang mulai bermekaran.
Andaikan berkunjung ke tempat tersebut saat siang, mungkin membuat siapapun betah berada di sana. Namun dalam kegelapan malam seperti ini, rumah seindah apapun jika dibiarkan kosong akan tetap terlihat mengerikan.
"Lo di depan, Sam. Gue ngeri kalau masuk rumah horor kayak gini." Leo memberi aba-aba pada Samuel. Mendadak bulu di tengkuknya meremang.
Entah kenapa udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Apakah memang faktor cuaca atau hanya atmosfer di rumah itu yang rasanya berbeda?