
"Maafkan saya, Om. Tapi kasus ini sudah masuk dalam proses investigasi kepolisian. Jadi mau ataupun tidak Om Kaniel harus menyerahkan anak ini pada saya."
Wajah ayah Zoey memerah, namun suaranya tetap terkendali saat menyahut, "Heh?! Kamu tau betul kan bagaimana kebiasaan Om?"
"Saya tahu, Om. Tapi kali ini tidak bisa. Sekali lagi saya minta maaf."
Tanpa menghiraukan pamannya yang masih terbakar amarah, Aklesh bertindak lebih cepat dengan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk segera mengurus Denish yang bisa dibilang saat ini sudah setengah sekarat. Karena semenjak perdebatan itu dimulai, tubuh bocah itu sudah terkapar tak sadarkan diri.
"Segera bawa anak ini ke rumah sakit kepolisian dan lakukan tindakan penyelamatan!"
Dengan langkah tegap Aklesh berjalan menghampiri Leo. Lalu dia berkata dengan penuh wibawa pada si bocah singa yang sedari tadi hanya diam terpaku.
"Dan kamu, Nak, besok akan saya kirimkan surat perintah pemanggilan sebagai saksi. Kami butuh beberapa keterangan dari kamu."
Aklesh diam sejenak. Lalu menoleh pada ayah Zoey. "Begitu juga dengan Zoey dan Samuel."
Leo mengangguk perlahan seraya berusaha tidak terlihat ketakutan. Walaupun sejujurnya hatinya dipenuhi rasa ngeri yang amat sangat saat menyaksikan dua orang yang sebelumnya sempat bersitegang itu masih saling menatap dengan sorot mata tajam.
Malam ini menjadi malam yang panjang sekaligus melelahkan bagi siswa-siswa GIS. Setelah kejadian hilangnya Zoey, berita tentang adanya seorang psikopat di sekolah elite tersebut mendadak menyebar begitu cepat.
Tak pelak hal tersebut membuat para siswa dan beberapa guru yang mengikuti karya wisata itu ketakutan. Mereka langsung berkemas dan memaksa untuk pulang.
Atau bisa juga, malah Denish sendiri yang mulai menyebarkan desas-desus tersebut untuk mengalihkan perhatian mereka, agar rencananya menghabisi nyawa sang guru berjalan lancar.
Yang jelas, Denish -orang yang menjadi topik pembicaraan- saat ini tengah diangkut oleh Ambulans ke rumah sakit. Namun tak pelak lagi, setelah dia sembuh, dia akan langsung diadili untuk kejahatannya.
Sedangkan Louis Anderson -si partner kejahatan- akan menghadapi persidangan dan menerima hukumannya dalam waktu yang lebih cepat. Belakangan diketahui, si guru tak beradab tersebut berhasil dibekuk oleh pihak kepolisian di sebuah bandara ketika dirinya hendak melakukan pelarian ke luar negeri.
Awalnya orang itu menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Namun dengan adanya surat perintah penangkapan resmi, mau tak mau ia harus menghadapi konsekuensi perbuatannya.
Dan sebelum para petugas kepolisian itu mendatangi lokasi perkemahan para siswa GIS, mereka sudah lebih dulu mendatangi villa persembunyian Denish dan langsung menyisir tempat tersebut guna menemukan beberapa bukti yang akan digunakan untuk mendakwa tindak kriminal bocah psikopat itu.
Saat melakukan penyelidikan di rumah suram itu, Aklesh beserta anggotanya menemukan sesuatu yang tak terduga. Ya, mereka bertemu dengan sesosok mayat 'cantik' yang selama ini disimpan Denish rapat-rapat.
Awalnya para petugas itu mengira sosok tersebut hanya tertidur, tapi setelah Aklesh meraba denyut nadi nya, barulah mereka tersadar kalau yang terbujur di depan mata mereka adalah sebuah mayat.
Tak butuh waktu lama mayat tersebut langsung dikirim kepada tim forensik kepolisian agar secepatnya bisa dilakukan visum dan juga identifikasi. Mungkin setelah itu si mayat akan diserahkan kepada keluarganya yang berwenang agar bisa mendapatkan pemakaman yang layak.
Lalu apa yang terjadi dengan si Agen Rahasia???