
Pikiran Samuel serasa hilang. Dia tak habis pikir, jadi selama ini Zoey hanya berpura-pura? Padahal tujuan sesungguhnya adalah menjadikan Samuel sebagai sandera. B*****t!!!
"Hahaha…"
Sebuah tawa menggelegar diiringi tepuk tangan, tepat saat semua lampu di ruangan itu menyala.
"Jadi ini calon menantu papa, Zoey?"
"APA?! CALON MANTU??? PAPA???" Samuel akhirnya buka suara.
"Ya. Saya papanya Zoey. Sekaligus calon mertua kamu kalau anak itu menginginkannya," jelas ayah Zoey sambil tersenyum menggoda pada si putri semata wayang.
Samuel menghembuskan nafas lega. Sangat lega. Jadi maksud Zoey tadi sebagai tawanan hati? Bukan tawanan dalam arti sesungguhnya. Samuel lantas berpaling menghadap Zoey sambil menunjukkan borgol yang masih melingkar di pergelangannya. Dia tersenyum nakal melihat wajah Zoey merona merah.
"Cukup, Pa. Kenapa terus-terusan menggoda Zoey?" tukas Zoey seraya membuka borgol di tangan Samuel.
"Nggak usah dibuka juga aku ikhlas kok." bisik Samuel sambil mencubit mesra pinggang Zoey.
"Hahaha… Maafkan papa. Oh iya, Nak, siapa nama kamu?"
"Nama saya Samuel Paxon, Om."
"Paxon?" ayah Zoey tertegun mendengar nama itu. "Kamu anaknya Andrew Paxon?"
"Om kenal sama papa saya?"
Sebuah senyum mengembang di wajah ayah Zoey. Dia langsung merengkuh Samuel dan mendekap cowok itu dengan erat.
"Dia sahabat dekat saya. Saya tidak menyangka kalau Andrew punya anak setampan kamu," jawab ayah Zoey seraya menepuk pelan kedua pipi Samuel.
"Jadi kamu anak pemilik sekolah?" tanya Zoey tak percaya.
Samuel hanya mengangguk dan tersenyum malu. Dia sebenarnya tidak suka menggembar-gemborkan status ayahnya. Tapi apa mau dikata, ayah Zoey ternyata sudah lebih dulu mengetahui fakta tersebut.
Ayah Zoey kembali memeluk Samuel dengan erat. Berbagai kenangan lama bersama Andrew Paxon ia ceritakan pada anaknya. Samuel juga senang kalau dirinya diterima sang calon mertua dengan terbuka. Mereka pun menjadi akrab dalam waktu yang singkat.
Zoey hanya menatap bingung setiap adegan di depan matanya. Ada sesuatu yang bergetar dalam hati. Mendadak organ tersebut terasa nyaman dan hangat melihat kebahagiaan itu.
Semenjak mendiang ibunya meninggal, Zoey sangat jarang melihat senyuman di wajah sang ayah. Sosok itu masih merasa terpukul dengan kepergian belahan jiwanya, bahkan ia selalu saja menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kematian istri tercinta. Ya, ibu Zoey meninggal saat beliau menjalankan sebuah misi bersama ayahnya. Karena memang ibu Zoey juga seorang agen rahasia.
"Kamu sebaiknya bermalam di sini. Saya ingin berbincang banyak dengan kamu. Zoey kamu juga temani papa."
"Tidak masalah, Om. Tapi cukup dengan saya saja. Biarkan Zoey istirahat. Bahunya masih terluka." jelas Samuel dengan tersenyum manis ke arah Zoey.
"Apa?! Bahu kamu terluka? Bagaimana bisa? Siapa yang melukai kamu? Apa orang itu…" ayah Zoey mendadak panik dan beralih mengamati putrinya dengan sorot mata bagaikan sinar X-ray.
Ok, Sam. Sejak kapan kamu mendadak sopan dan banyak bicara seperti ini. Batin Zoey yang kesal dengan ulah Samuel. Padahal dia sudah berniat menyembunyikan luka itu dari ayahnya. Dia tidak mau melihat sang ayah khawatir seperti sekarang.
"I'm fine, Pa. Tergores peluru sudah biasa buat Zoey. Ini juga cuma luka sedikit."
"What?!! Peluru??? B******n mana yang berani menodongkan senjata pada putri papa?!!"
"Sudahlah, Pa. Zoey baik…"
"Tidak bisa! Papa akan memburu orang itu dan membunuhnya! Dia harus membayar mahal karena sudah berani melukai putri seorang Aaron Kaniel…"
Zoey angkat tangan tanda bahwa dia menyerah kalau sang ayah sudah membara seperti itu. Dan Samuel hanya bisa menelan ludah, melihat kemarahan ayah pacarnya. Dia tidak akan selamat kalau sampai Zoey kenapa-napa, sekalipun cuma tergores ujung jarinya.