My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 63



Sore hari di kediaman Keluarga Paxon…


Ting… Tong…


Seorang pria berpakaian serba hitam menekan bel pintu yang melekat pada dinding teras sebuah rumah. Orang tersebut tampak sabar menunggu si pemilik rumah keluar. Sesekali si pria melirik ke arah kamera CCTV yang terpasang di sana sambil tersenyum. Meski kamera itu berukuran kecil, namun tidak sulit menyadari keberadaan benda tersebut bagi pria yang kesehariannya sering berhadapan dengan hal semacam itu.


Tak lama kemudian, seorang wanita berusia 30-an keluar dari dalam rumah dan menyambut tamunya dengan senyuman yang ramah.


"Selamat datang… Anda siapa? Dan ada keperluan apa di rumah saya?" tanya wanita itu dengan sopan.


"Bisa saya bertemu Tn. Paxon?"


"Tentu. Suami saya ada di dalam."


Merasa belum sepenuhnya diterima di rumah itu, si pria lalu tersenyum sejenak seraya memperkenalkan diri pada si nyonya rumah.


"Saya teman sekolah suami anda. Kami sudah lama tidak bertemu."


"Saya mengerti. Mari silahkan masuk…"


Keduanya lantas memasuki sebuah ruang tamu yang luas namun terlihat nyaman. Ruangan yang didominasi warna coklat muda tersebut terasa hangat saat disandingkan dengan furnitur berbahan kayu. Meskipun beberapa perabotannya terlihat kuno, tapi malah membuat suasana di ruangan itu menjadi klasik. Rasanya seperti bernostalgia dengan waktu.


"Silahkan duduk. Akan saya panggilkan Tn. Paxon."


Si Pria itu menangguk lalu mendudukkan dirinya di atas sofa. Ia melihat-lihat detail ruangan itu. Kemudian bibirnya tersenyum simpul saat arah matanya tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpajang pada salah satu sisi dinding.


"Kaniel???" sapa seseorang dari ujung ruangan dengan suara bariton yang khas.


"Paxon???" sahut pria tersebut sambil berjalan menghampiri si tuan rumah.


"Ya Tuhan… Kamu beneran Kaniel??? Ini bukan mimpi kan???"


"Tentu saja bukan…"


Kedua pria itu lantas saling memeluk erat untuk melepas rindu setelah sekian lama berpisah. Dulunya mereka sahabat yang sangat dekat. Namun setelah memiliki kehidupan masing-masing, keduanya menjadi jarang berkomunikasi dan akhirnya menghilang tanpa tahu kabar satu sama lain. Dan kini mereka dipertemukan kembali berkat hubungan anak-anak mereka.


Ya… Dua laki-laki itu adalah Aaron Kaniel dan Andrew Paxon. Lebih tepatnya lagi ayah si agen rahasia Zoey dan papa si bocah arogan Samuel.


"Tentu… Siapa pula yang lupa dengan si dokter cantik yang jadi incaran satu kampus. Hahaha…"


Mama Samuel tersipu malu mendengar sanjungan itu. "Anda berlebihan Tn. Kaniel… Saya tidak sepopuler itu waktu kuliah dulu."


"Ayolah… Jangan terlalu formal padaku. Aku ini bukan kolega bisnis suamimu."


"Oh ya, mana istrimu? Kenapa tidak kamu ajak ke sini?"


Aaron Kaniel tersenyum sejenak, "Dia sudah meninggal. Jadi yaa… Aku kembali single sekarang. Haha…"


Papa Samuel tersentak. Dia tidak mengira kalau akan mendengar jawaban seperti itu dari sahabatnya. Tiba-tiba ia merasa tidak enak.


"Kami turut berduka cita, Niel. Kami tidak pernah mendengar kabar tentang keluargamu semenjak kita lost contact. Terakhir aku dengar kamu sekeluarga pindah ke Kanada."


"Sudahlah… Aku tidak sesedih itu. Aku menikmati setiap waktu yang berjalan bersama putriku."


"Tenang saja, aku ada beberapa rekan bisnis yang masih single. Mereka masih muda dan juga cantik tentunya. Siapa tau kamu berminat."


Andrew Paxon mencoba sedikit bercanda untuk mencairkan mood di antara mereka. Dan nyatanya topik pembicaraan itu memang bekerja. Suara tawa kembali terdengar di ruangan tersebut.


"Hahaha… Aku tidak suka bisnis women, Ndrew. Aku lebih tertarik kalau istrimu mau memperkenalkan teman dokternya kepada ku."


"Tentu Tn. Kaniel… Kamu bisa datang ke rumah sakit tempat ku bekerja." kali ini Mama Samuel ikut andil suara.


"Hahaha…"


Ketiganya tertawa cukup lantang sampai membuat penghuni lain yang tidur di ruangan atas merasa terganggu. Seorang cowok yang baru saja memasuki alam tidurnya, dengan langkah berat keluar dari kamar dan mendatangi sumber keributan.


"Aduh! Pada berisik banget sih! Nggak nyadar ya udah gangguin orang tidur!" cowok itu menggerutu kesal sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


"Nah… Kebetulan dia bangun! Kenalkan dia ini…"


"PAPA??!"