My Teacher is an Agent

My Teacher is an Agent
Chapter 103



I'd spend 10,000 hours and 10,000 more


Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours


And I might never get there but I'm gonna try


If it's 10,000 hours or the rest of my life


I'm gonna love you (Ooh)


I'm gonna love you


Selama menyanyikan lagu itu, Samuel terus menatap ke arah gadis pujaannya sampai alunan lagu itu berakhir dengan sempurna. Bahkan tak sedikit para audiens yang memberikan standing applause. Mereka tak mengira kalau cowok sedingin bongkahan es itu bisa bersikap sangat manis. Jago bermain gitar pula! Benar-benar paket komplit.


"Please come here, Honey… I wanna give special something to you,"


Deg!


Deg!


Deg!


Suasana menghening sejenak. Mereka saling menunggu satu sama lain, siapa gerangan seseorang yang dimaksud Sang Pangeran Sekolah?? Apakah benar orang itu???


Ya… Walaupun beberapa dari mereka sudah bisa menebak, tetap saja banyak yang masih penasaran dengan kekasih Samuel yang sesungguhnya.


Namun setelah menunggu beberapa saat, sosok tersebut tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya dengan terpaksa Samuel beranjak dari atas stage dan melangkah menghampiri Zoey yang duduk sambil menatap tak percaya.


Dengan bertumpu pada satu lutut seraya tersenyum tipis, Samuel segera mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan mengarahkan isi kotak tersebut pada wanita di hadapannya.


"Tapi, Sam…"


"Ssttt… Jangan menolak! Aku tidak terima penolakan."


Selanjutnya Samuel mamasangkan sebuah cincin kecil di jari manis Zoey lantas mengecup mesra punggung tangan cewek itu. Tak tahan menerima perlakuan yang begitu manis, perlahan buliran air mata mengalir melewati pelipis mata Zoey.


"Hey… Kok nangis? Kamu nggak suka?" tanya Samuel lembut sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi sang pacar.


"Nope… It's just because I'm so happy..."


Tentu saja, cewek mana yang tidak bahagia mendapat pernyataan cinta se-romantis itu. Mungkin bagi remaja seusia Samuel hal seperti itu bisa dibilang lumrah. Namun akan menjadi suatu pengecualian kalau yang melakukan tindakan tersebut adalah Samuel.


Nyatanya ia bukanlah tipe cowok yang mau susah payah berbuat hal merepotkan semacam itu. Jangankan menyanyi di depan umum, flirting dengan cewek saja dia malas. Dan kini cowok duplikat es batu itu dengan sendirinya berlutut di hadapan Zoey sambil menawarkan sebuah cincin. Itu sama artinya dengan sebuah lamaran.


Hati Zoey ingin melompat keluar saking senangnya. Apakah cowok arogan itu serius melakukan semua ini? Membayangkannya saja mustahil.


"God job buat Samuel Paxon… Ternyata cewek yang beruntung malam ini adalah guru cantik kita… Waahhh… Selamat yaa… Buat kalian yang ngerasa sangat patah hati, lebih baik kita lewati pesta malam ini dengan bergembira bersama..."


DUARRR!!!


Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dan lampu di atas stage langsung mati seketika. Suasana mendadak berubah mencekam. Suara gaduh mulai terdengar di antara para siswa.


Namun tak berselang lama, ada sebuah cahaya terang menyorot ke tengah-tengah panggung dan memperlihatkan sesosok anak laki-laki bertubuh tambun tengah duduk di sebuah kursi sambil memegang dua buah boneka kayu antik.


Penampilannya yang terkesan horor itu langsung menyita perhatian para siswa dan guru di sana. Sebenarnya apa yang akan dilakukan bocah itu?