
Cahaya mentari pagi menelusup masuk di antara celah tirai yang terbuka. Hembusan semilir angin sesekali menyibakkan gorden pintu dan membawa udara dingin bertiup masuk ke dalam kamar.
Zoey yang masih diliputi rasa kantuk, kian merapatkan selimut tebal yang membungkusnya. Cewek itu menggeliat sebentar sembari menyipitkan mata karena merasa terganggu oleh cahaya mentari yang menyilaukan.
"Morning, Honey..." sapa Samuel dengan senyum cemerlang merekah di wajahnya.
Cowok itu sudah terlihat rapi mengenakan kemeja abu misty dan celana hitam. Ia berdiri di depan cermin sambil mengikatkan dasi yang menempel pada lehernya.
"Kamu mau kemana? Bukankah penampilanmu terlalu rapi?" sahut Zoey, suara cewek itu sedikit serak, khas orang bangun tidur.
Sekilas Zoey menatap bayangan Samuel pada cermin di kamarnya. Sungguh duplikat sempurna dari sesosok malaikat. Meski telah ratusan kali ia memandang wajah Samuel dan mengagumi ketampanannya, tapi Zoey tak pernah mengira kalau sang suami akan terlihat semakin menawan di usia yang tak lagi muda.
Zoey terkesiap. Tiba-tiba sebuah pikiran buruk datang memenuhi benaknya. Bagaimana kalau ada wanita lain yang juga menginginkan miliknya tersebut?
Pada titik ini bagian lain dari insting Zoey sebagai seorang istri telah memastikan, setidaknya ada bahaya lain di luar sana yang siap merenggut kebahagiaan mereka kapan saja. Otomatis ia harus ekstra waspada sekarang.
"Ada klien dari luar negeri yang minta bertemu hari ini."
Suara Samuel yang terdengar lembut serta-merta menyeret kesadaran Zoey yang sempat melayang. Ia bangkit dari ranjang, lalu meraih jas yang menggantung pada hanger stand dan memakaikan nya pada tubuh Samuel.
Cowok itu lantas berbalik dan mendaratkan sebuah kecupan mesra pada kening istrinya.
"Apa tidak terlalu pagi? Ini masih jam tujuh."
"Sebenarnya aku juga malas, Honey... Aku masih ingin melihatmu telanjang begini dari pada menemui orang itu." kelakar Samuel.
Ups! Zoey lupa kalau saat ini dirinya tengah tampil polos di depan suaminya. Ia bahkan tidak sempat meraih kimono tidur yang tergeletak di lantai kamar.
"Berangkatlah kalau begitu. Aku juga ada janji dengan Mama Andita untuk mengambil beberapa berkas." sahut Zoey sembari tangannya terangkat untuk merapikan dasi dan kerah kemeja sang suami.
"Kenapa, Honey? Apa kamu takut pada suami mu sendiri?" tanya Samuel sambil menyeringai nakal.
"Bukan itu yang aku takutkan. Aku hanya tidak suka jika mendadak klien mu itu mengganggu permainan kita," Zoey tersenyum, setengah meledek.
"Hahaha... Kamu mulai pintar menggoda sekarang." Samuel tergelak keras. Ingin sekali ia menerjang tubuh cewek itu kalau saja dirinya tidak sedang diburu waktu.
"Yah. Karena aku belajar langsung pada ahlinya."
Mendengar jawaban Zoey yang menggemaskan, seketika mencuatkan ide jahil pada otak Samuel.
Ia serta-merta melingkarkan tangannya di pinggang Zoey dan menarik cewek itu hingga jarak di antara keduanya kian menipis. Sangat dekat. Bahkan Zoey mampu merasakan hembusan nafas Samuel yang hangat menerpa permukaan kulitnya.
"Kalau begitu malam ini aku harus memberikan pelajaran baru yang lebih sulit. Bersiaplah!" bisik Samuel lirih.
"Aku tidak sabar menunggu nya."
Cup!
Samuel segera mendaratkan kecupan mesra pada bibir istrinya. Ia mencoba memperdalam ciuman mereka dengan menarik tengkuk Zoey dan mellumat bibir cewek itu penuh damba.
Rasanya ia seakan tidak pernah bosan mengulang kegiatan itu jutaan kali. Yang ada, keseksian bibir Zoey membuat dirinya semakin merasa candu dan mabuk kepayang.
"Bye Honey..."
Akhirnya ciuman itu terlepas. Zoey merasakan kehilangan yang ganjil. Jujur saja ia masih menginginkan lebih, tapi mengingat pekerjaan sang suami juga menjadi prioritas utama, akhirnya dengan berat hati ia melambaikan tangan dan menatap punggung Samuel yang telah menghilang di balik pintu.
"Take care, Sayang..."
Tak perlu menunggu lama, Zoey segera beranjak ke kamar mandi sambil membawa handuk. Mengguyur seluruh tubuh dengan air dingin adalah cara paling efektif untuk meredam hasrat yang tertahan. Dan itulah yang saat ini harus Zoey lakukan.
Begitulah kebiasaan si agen rahasia jika berada di rumah. Meski memiliki waktu senggang, tapi nampaknya Zoey enggan melewatkan satu detik pun tanpa bekerja. Selain menjadi seorang agen yang profesional, pribadi cewek itu juga mencerminkan seorang wanita workaholic.
Detik selanjutnya, terdengar dering ponsel Zoey. Sepertinya ada pesan masuk.
Tring!
1 new message.
+62-8xx-xxxx-x0
ya skuchayu po tebe, printsessa… ✔
(I miss you, Princess…)
Cewek itu spontan menghela nafas panjang tatkala melihat nomor si pengirim yang tak lagi asing baginya. Siapa lagi kalau bukan si pria brengsek yang saat ini tengah menjalin kerja sama dengan ayahnya.
Zoey mengernyit begitu membaca isi pesan tersebut. Rupanya sosok penguasa seperti Jade Scott tidak hanya gila, namun juga benar-benar telah kehilangan akal. Bagaimana tidak, pria itu terang-terangan menyatakan rindu kepada Zoey yang notabene telah bersuami.
Sejenak ingatan Zoey kembali terbayang pada hasil penyelidikan nya beberapa waktu lalu. Meski belum menyeluruh, setidaknya kini ia tahu kalau ternyata Jade Scott pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia.
Dan tentang hubungan keduanya, mungkin saja mereka telah saling mengenal sejak lama. Sebab, berdasarkan informasi yang berhasil diperoleh, baik Zoey maupun Scott pernah tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama. Itu artinya besar kemungkinan mereka berdua adalah teman sepermainan.
Tak lama kemudian, sosok yang sempat menyita kesadaran Zoey itu malah meneleponnya.
"Dobroye utro, printsessa… (Good morning, Princess…)" sapa seseorang di seberang telepon.
"Selamat pagi, Mr. J. Ada keperluan apa Anda menelepon saya?"
"Ayolah, Tuan Putri… Jangan bicara terlalu formal. Kamu bisa memanggil ku Scott. Bukankah kamu sudah tahu siapa aku."
Zoey mendengus kesal. Dari mana orang itu tahu kalau Zoey tengah menyelidiki dirinya.
"Baiklah, Scott, apa yang kamu inginkan?" tanya Zoey sinis.
"Hahaha… Bicara santai juga bukan berarti jutek begitu, Tuan Putri…" kelakar Jade Scott saat mendengar sahutan tak bersahabat dari wanita di seberang telepon.
"Zoey. Sekedar mengingatkan kalau saja kamu lupa namaku."
"Tapi bagiku kamu tetap seorang Tuan Putri. Dan aku lebih suka memanggilnya begitu."
Zoey memicingkan mata mendengar jawaban nyeleneh dari lawan bicaranya. Bisa-bisanya pria gila itu merayunya secara frontal. Menjijikkan!
"Ok, sepertinya tidak ada yang penting. Kita akhiri pembicaraan sampai disini. Dan perlu kamu ingat, Tuan Scott, jangan lagi menghubungi ku kalau bukan untuk membahas kerjasama kita."
"Tentu, Tuan Putri… Selanjutnya aku akan langsung menghubungi pimpinan Pax Group. Karena mulai hari ini aku akan menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan tersebut." tukas si pria gila sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Tut!
Ucapan terakhir si penelpon terus berdengung di telinga Zoey, mengganggu pikirannya. Apakah dirinya tidak salah dengar?? Pax Group??!!
DUAARRR!!!
Artinya pria gila itu akan sering bertemu dengan Samuel. Seketika perasaan was-was menyergap hati Zoey. Dadanya bergemuruh memikirkan hal-hal nekat yang mungkin dilakukan Jade Scott. Apakah lelaki gila itu tengah merencanakan sesuatu??? Semoga tidak.
Karena dari gelagatnya saja, Zoey sudah bisa menyimpulkan kalau pria tersebut adalah orang yang berbahaya.