
Perlahan Zoey membuka mata saat sinar matahari senja memasuki jendela kamarnya. Cewek itu menggeliat sebentar dan merasakan sakit yang teramat sangat di bahu sebelah kanan.
Tanpa sadar cewek itu memekik kesakitan, "Aaawww…"
Cowok yang terlelap di sampingnya seketika bangkit dan terlihat cemas, "Kenapa? Bahu kamu berdarah lagi?"
Pipi Zoey sedikit merona mendengar cowok itu mengucapkan kata 'kamu'. Ia lantas menggelengkan kepala dan tersenyum malu.
"Kamu tuh ya bikin khawatir aja," ucap Samuel sambil membelai lembut kepala Zoey.
Melihat pipi Zoey yang semakin merona membuat keisengan Samuel muncul. Ia ingin sekali menggoda cewek itu, "Jadi… Gimana? Puas nggak main sama si junior?"
Zoey kembali teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri. Seliar itukah dirinya kalau di atas ranjang? Aaaaggghhh…. Pekiknya dalam hati.
Samuel tidak lagi bisa menahan tawanya. Benarkah yang ada di depannya sekarang ini seorang agen rahasia? Dimana sorot mata membunuh itu? Bagi Samuel sosok yang sekarang sedang tertunduk malu ini tidak lebih dari gadis remaja yang sedang melewati masa pubernya.
Cowok itu lalu mendekap Zoey ke dalam dadanya. Sangat sangat menggemaskan. "Tenang honey mulai sekarang aku akan selalu bersikap manis sama kamu. Jadi bersiap saja kamu menghadapinya besok di sekolah." goda Samuel.
Hati Zoey seketika menghangat mendengar panggilan 'honey' yang keluar dari mulut Samuel. Apakah itu tandanya sekarang mereka punya hubungan khusus? Mendengar kata sekolah kembali mengingatkan Zoey tentang identitasnya. Cewek itu mendongak menatap wajah Samuel.
"Kamu beneran bisa pengang janji itu kan? Jangan sampai satu orang pun tahu tentang identitas ku." tegas Zoey dengan tatapan membunuh.
Samuel menelan kembali ludahnya. Seperti inikah sosok Zoey saat dirinya menjadi agen rahasia. "Tenang saja, membocorkan identitas kamu sama saja membahayakan nyawa kamu. Dan itu tindakan terbodoh yang tidak akan pernah aku lakuin. Aku tidak sudi satu goresan pun melukai kamu."
Zoey menghela nafas lega melihat kesungguhan di mata Samuel.
"Sekarang aku mau mandi jadi bisa tolong lepaskan pelukan kamu?"
Samuel hanya tersenyum jahil. Dan sedetik kemudian cowok itu menggendong Zoey ke kamar mandi dan membantunya membersihkan badan.
Selesai mandi dan berpakaian Zoey kembali merebahkan diri di atas ranjang yang langsung disusul Samuel di sampingnya. Dengan gerakan secepat kilat cowok itu langsung melingkarkan lengannya di atas perut Zoey. Sesaat ia menatap wajah cewek itu dan berniat untuk menciumnya. Sampai suara getar handphone milik Zoey menginterupsi keinginannya.
Dddrrttt… Dddrrttt…
"Agen Zero bertugas!" jawab Zoey dengan tegas. Cewek itu segera bangkit dan menjauh dari sisi Samuel.
"Papa menelpon kamu sebagai seorang ayah bukan sebagai komandan. Jadi bersikaplah selayaknya anak papa," sahut ayah Zoey
"Baik. Ada apa?" tanya Zoey sedikit melembut
"Papa dengar kamu hari ini mendapat serangan mendadak. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu terluka? Sekarang ada di mana? Tunggu dan jangan kemana-mana! Papa akan segera menje…"
Zoey gemas mendengar kekhawatiran ayahnya yang berlebihan. Seketika ia langsung memotong pembicaraan, "Zoey baik-baik saja. Tidak perlu menjemput." cewek itu lalu melirik Samuel sekilas. Paham dengan maksud lirikannya, Samuel langsung mengangguk. "Besok pagi aku pulang."
Terdengar hembusan kelegaan dari seberang telepon. Membuat Zoey ikut tersenyum lega.
"Baiklah. Segeralah pulang sayang, papa ingin tahu keadaan kamu secepatnya,"
"Rogger!"
Tuuttt… Ttuuttt… Panggilan terputus.
Zoey kembali menghampiri Samuel yang sedari tadi menatap dirinya. Dan tatapan itu menuntut penjelasan.
"Jadi, dia atasan kamu atau bagaimana? Sepertinya kamu sangat dekat dengannya, sampai kamu berbicara dengan lembut seperti itu,"
Ah! Dia cemburu. Batin Zoey dengan hati berbunga-bunga. Puas rasanya bisa membuat cowok itu cemburu.
"Yap. Dia atasan aku. Dan aku memang lumayan dekat dengannya," jawab Zoey dengan santai sambil kembali merebahkan diri dan mulai membuka laptop nya.
Samuel mendengus kesal mendengar jawab Zoey yang tampak tidak peduli. Apakah cintanya kini bertepuk sebelah tangan? Lantas apa alasan dari aktivitas panas tadi?
Zoey menatap tak percaya saat membaca hasil laporan yang dikirim rekan agennya melalui email. Mau tak mau malam ini ia harus kembali ke rumah dan segera membahas laporan itu dengan ayahnya.