
Selesai mengucapkan itu, detik berikutnya Samuel langsung melahap bibir ranum Zoey dengan sangat rakus. Ia tidak sedikitpun memberi kesempatan Zoey untuk bernapas. Ubun-ubunnya sudah dipenuhi dengan gairah yang meluap. Pastinya membutuhkan sebuah pelepasan yang panjang untuk menuntaskannya.
Dari bibir, ciuman Samuel beralih turun ke area leher. Ia berlama-lama bermain di situ. Ia juga mengukir beberapa tanda cinta yang pada akhirnya meninggalkan bekas kemerahan. Dengan gerakan secepat ninja, Samuel berhasil membuka seluruh kancing piyama yang dikenakan Zoey.
Cowok itu sungguh bersyukur karena ternyata sang pacar tidak mengenakan pembungkus payudara. Hal tersebut tentu sangat mendukung kelancaran aksinya. Pelan-pelan ia menggeser ciumannya ke arah dua bukit kenikmatan itu. Dan disitulah sebuah desahan nikmat dari bibir Zoey akhirnya terlontar.
"Aargghhh…"
Pertahanan Zoey luluh lantah. Ia tidak kuat lagi menahannya lebih lama. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin segera mendapatkan penuntasan. Dan semua itu salah Samuel.
Sepertinya bocah arogan satu ini sudah sangat hafal dimana titik-titik sensitif Zoey. Sehingga ia jadi begitu mudahnya terbuai dengan cumbuan maut Samuel. Cowok itu sungguh ahli mematahkan kewarasan otak Zoey.
Samuel tersenyum puas. Zoey masih saja menjadi candu paling nikmat untuk dirinya. Terlebih setiap desahan yang keluar semakin memacu adrenalin nya untuk bekerja.
Namun entah mengapa gerakan tangan Zoey seperti memintanya untuk berhenti. Berkali-kali cewek itu berusaha mendorong tubuh Samuel untuk menjauh yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh si cowok.
Sampai akhirnya Samuel mencekal kedua pergelangan Zoey lantas menguncinya di atas kepala. Ia segera menindih tubuh Zoey. Dengan posisi yang sangat intim itu, sukses membuat nafas keduanya semakin panas dan memburu.
Samuel tak segan menarik celana dalam Zoey dan langsung memainkan bagian inti cewek itu. Mendapat perlakuan nikmat seperti itu, spontan membuat tubuh Zoey menggelinjang. Desahannya sedikit tertahan, ia sadar kalau tindakan ini tidak seharusnya dilanjutkan.
Zoey terus meronta dari cekalan Samuel. Satu tangan berhasil bebas. Tapi hal itu tidak lantas membuat Samuel mundur. Matanya terlanjur ditutupi kabut nafsu. Ia ingin segera memasuki sangkarnya.
"Mendesahlah, Honey… Aku sangat suka desahan seksi itu." rancau Samuel sambil jarinya terus menelusup masuk ke dalam inti cewek itu.
"Hentikan, Sam! Kita sudah berkali-kali melakukannya tanpa pengaman. Bagaimana kalau itu sampai jadi?" Zoey mencoba menolak dan mendorong tubuh cowok itu.
"Tidak masalah. Aku mau itu. Karena dia akan menjadi calon pewaris ku." ucap Samuel tulus. Tidak terselip keraguan dari nada bicara itu.
Sesaat Zoey terhipnotis dengan ucapan Samuel. Kata-kata manis itu membuat dirinya tidak bisa berpikir dengan benar. Meski begitu, Zoey tetap bergeming dan tidak memberikan respon apa-apa.
"Jadi kamu tidak mau menerima benihku?" Tersirat kekecewaan dalam wajah Samuel. Ia berpaling dan membuang nafas dengan kesal. "Baiklah. Kita hentikan ini sekarang."
Samuel beranjak dari atas tubuh Zoey dan menghempaskan tubuhnya ke samping. Ia memejamkan mata sambil sesekali menghela nafas panjang.
Bagaimana ia tidak kesal, di saat gairah nafsu sudah berada pada puncaknya, tiba-tiba si partner ranjang menolak dan mencampakkan juniornya begitu saja. Bahkan setelah keinginan itu sedikit surut, si junior masih tetap berdiri dengan gagahnya. Shit!!! Haruskah Samuel mengakhirinya sendiri di kamar mandi?
"Tidurlah, Honey… Aku tidak akan menyentuh tubuh itu tanpa seijinmu."
Seolah mengerti maksud di balik bungkamnya mulut Zoey, cowok itu kembali bersikap lembut dan perhatian. Ia paham apa yang dikhawatirkan kekasihnya itu. Tentu ia akan menghormati keputusan Zoey. Ia tidak suka melakukan hal tersebut secara terpaksa.
"Let's do it, Sam! I trust you."
Tiba-tiba tangan Zoey meraih junior Samuel yang masih menegang. Tanpa menunggu diperintah, ia langsung memainkan benda tersebut dengan irama yang konstan.
Samuel yang semula berusaha meredam gairah nafsunya, seketika bangkit dan menarik tubuh Zoey untuk duduk di atasnya.
"Kamu yang pegang kendali, Honey..."