MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
99



"Apa suara gue segitu miripnya dengan suara Tere?"


Aldo tersenyum miris, bukan Tere yang ia dapatkan, melainkan sahabatnya, Audri. Aldo hanya bisa menghela nafas berat, mungkin efek samping dari rindu yang terlalu berat ia rasakan, membuat pikirannya selalu terus menerus terisi oleh Tere seorang.


Gadis itu memilih untuk duduk di kursi dekat ranjang tempat Aldo duduk, ia memperhatikan wajah kusut Aldo sebelum bertanya.


"Lo nangis?"


"Nggak."


"Lo nangis?" tanya Audri ulang.


"Gue nggak nangis, gue cuma.... ngerasa nggak baik baik aja," jawab Aldo akhirnya, ia menyeka setetes air mata tiba tiba yang keluar dari ujung matanya.


"Lo mau sampai kapan sih kayak gini?" ucap Audri tiba-tiba.


"Gue heran sama lo, Ini udah ketiga kalinya gue ngunjungin lo dan lo tetap gini gini aja, muak gue lama-lama ngeliat lo kayak mayat idup mulu," lanjutnya.


"Harusnya gue yang heran sama lo, kok lo gak ngerasa sedih sama sekali saat sahabat lo pergi dari kehidupan lo?" sindir Aldo ke Audri yang sepertinya sama sekali tidak sedih dengan kepergian Tere.


Gadis itu mendengus panjang, lalu raut wajahnya berubah sendu. "Siapa bilang gue gak sedih? gue sedih, sedih banget malahan, satu satunya teman cewek gue yang cantik, baik, sekaligus oon pergi ninggalin gue...."


"Gue cuma mencoba ikhlas, ini keinginan dia, kalau emang dia bisa bahagia dengan pergi, kenapa kita disini malahan menangisinya?" ucap Audri dengan senyuman tipis.


Seketika perasaan bersalah menyelimuti dirinya.


'Maafin gue Do.'


Saat Tere meninggalkannya di rooftop, Audri langsung mengejarnya, ia tidak terima dengan permintaan Tere yang menyuruhnya untuk melupakan dirinya.


"*Stop!" Audri menahan tangan Tere.


"Lo pikir gue siapa?" lanjut gadis itu.


"...."


"Plis percaya gue Re, gue tau lo takut nerima pengkhianatan, tapi kali ini aja, percaya gue, gue sahabat lo dan gabakal khianatin lo." Ucapan Audri yang seketika bisa membuat Tere luluh dan memberi semua info tentang dirinya di Bandung*.


"Udah deh. Gue malah ngelupain tujuan utama gue kesini," ucap Audri sambil berdiri dari tempat dia duduk.


"Gue sama Bryan mau ngajak lo jalan jalan," ucap Audri.


"Gue mal-" potong Audri.


"Gak nerima penolakan, Bryan udah dari tadi nunggu di bawah. Cepet! gue tunggu lima menit, lo nggak keluar gue bakar kasur lo," ucap gadis itu galak sambil berjalan keluar dari kamar Aldo.


 ~~~


Gadis itu memilih duduk di sebuah bangku panjang seraya menatap anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran di depannya. Kemudian, pandangannya tertuju ke arah langit yang tampak cerah, ia pun menghela nafas panjang.


Ini sudah menginjak satu bulan sejak ia pindah ke bandung, tidak ada yang spesial, ia tiap hari hanya bangun, mandi, datang ke taman setelah home schooling selesai, setelah itu teleponan sama kakaknya lalu tidur. Hal itu terjadi terus menerus tiap hari.


Kedua orang tuanya yang workholic hanya sesekali menyapanya ketika berpas-pasan di ruang tamu.


Perasaan kosong masih terus menyelimuti dirinya, ia rasa bahwa dirinya pernah bahagia, sangat bahagia, tapi ia tidak tau kapan atau hal bahagia apa saja yang sudah terjadi.


Please lah seseorang, tolong ingatkan aku.


Tere menghela nafas panjang lalu berdiri dari kursi panjang itu, ia berniat kembali ke rumahnya yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari tempatnya berada sekarang.


Baru saja ia melangkahkan kakinya untuk pulang tiba tiba sebuah dorongan dari belakang membuatnya tersungkur ke depan, ponselnya terpental sejauh tiga meter dari tempatnya jatuh.


Ternyata ada salah seorang anak yang sedari tadi bermain kejar kejaran dan menabraknya.


Tere berdiri dan langsung membersihkan celananya, "Aduh dek, kalau main itu hati hati dong, jadi jatuhkan kakak." Tere merenggut kesal.


"Iya kak maaf." Anak itu meminta maaf ke orang yang sering ia jumpai duduk di kursi taman selama sebulan terakhir ini.


"Ya udah sekarang lanjut main lagi," ucap Tere mengibas ngibaskan tangannya mengusir anak itu dan mengambil ponselnya yang sudah berserakan di tanah.


Case, baterei, dan tutup ponsel itu sudah tidak ada lagi ditempat yang seharusnya, Tere menghela nafas panjang lalu berjongkok dan mengambil bagian bagian ponsel itu satu persatu.


Gerakannya terhenti saat melihat sebuah kertas yang terlipat lipat kecil menempel di bagian dalam casenya.


Kertas apa ini?


Seingatnya ia sama sekali tidak pernah menaruh kertas di dalam sana.


Gadis itu kemudian mengambil kertas itu lalu membaca tulisan cakar ayam yang terdapat di sana.


*Sekolah : SMA CriYa


Teman : Audri, Bryan.


Teman kakak : Wira, Fahri, Agit.


Jauhi : Bela dkk, Cila*.


Gadis itu mengerutkan dahinya.


'Apakah ini sedikit ingatan tentang dua tahun yang lalu?' Batin gadis itu.


Ia melangkahkan kakinya pelan, tangannya membalikkan kertas kecil itu dan terdapat sebuah tulisan di sana.


*To, Tere


Aldoni Reydirza,


Sahabat sekaligus orang yang kamu cintai.


Jangan melupakannya.


Jangan menyakitinya.


Ayo semangat kamu pasti bisa mengingatnya.


From, Tere*


Sebuah ingatan terlintas begitu saja di dalam otaknya, suara-suara bising mulai mengkrubutinya.


Gadis itu langsung menutup rapat matanya dengan nafas tersenggal-senggal, dadanya naik turun seirama dengan nafasnya yang tidak beraturan. Peluh peluh keringat membasahi kening dan pipinya.


Tere limbung dan jatuh terduduk ke tanah. Sekilas ingatan dan suara berisik itu mampu membuatnya diam dan tak berkutik.


"Kak..."


"Kakak kenapa?"


Anak yang baru baru saja tadi menabraknya langsung mendekat ke arah Tere yang terduduk.


Anak itu mendekat, menyentuh pundak Tere, namun gadis itu tidak bergeming, Anak lelaki itu menatap kedua mata Tere, mata itu kosong. Benar-benar kosong dan tidak berkedip.


Gadis itu nyaris seperti mayat hidup