MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
18



Tere terbangun dari tidurnya dan merasa ada tangan yang melingkar di perutnya, siapa lagi kalau bukan tangan Aldo.


'Kok gue di ranjang? Aldo ngangkat gue? Dasar bodoh' batin Tere


Aldo masih tertidur pulas, Tere menatap wajah pria itu.


"Tampan," Desis pelan Tere sambil menelusuri wajah Aldo dengan alis menyatu.


Aldo terlihat sangat tampan di saat tidurnya, Tere menyentuh ringan bulu mata lentik Aldo Dan dengan perlahan menyingkirkan tangan Aldo dari perutnya lalu menuruni ranjang.


Entah kenapa ia merasa bahagia.


Setelah 30 menit berlalu.


Sekarang ruang rawat Aldo sudah ramai lagi, David, Diana dan Novan sudah berada di ruangan itu.


Tere sedang di kamar mandi, sedang mandi setelah David datang membawakan bajunya dari rumah.


Setelah selesai mandi Tere segera bergabung dengan David dan Diana yang sedang berbincang-bincang di sofa. Novan sedang keluar membelikan makanan buat Tere.


Tere menceritakan kesehariannya dengan Aldo kepada Diana, mulai dari Aldo yang suka memaksanya agar mau digendong di punggung Aldo.


Aldo yang memaksanya makan sayuran yang sejatinya sangat tidak di sukai Tere, dan Aldo yang selalu menakut-nakuti Tere dan mengatakan kalau Tere bakalan di culik mba kunti dan mas ocong.


Setelah beberapa jam kemudian, David sudah pulang, setelah pamit ke Diana dan Tere.


Sebelum pulang David sudah mengajak Tere untuk ikut pulang bersamanya namun Tere tetap kekeh tidak mau meninggalkan Aldo. Akhirnya David menyerah dan pulang sendirian ke rumah.


Tersisa Diana dan Tere yang asik mengobrol, mereka tidak menyadari bahwa Aldo sudah dari tadi bangun dan ikut memperhatikan percakapan mereka.


Ekhemm...


Aldo berdeham membuat kedua manusia yang sedang asik cerita itu menoleh secara bersamaan ke sumber suara.


"Morning sayang," Diana mendekat ke ranjang Aldo lalu mengecup keningnya.


"Morning mah." Aldo tersenyum.


Diana membantu Aldo bersandar di kepala ranjangnya.


Setelah beberapa menit bercanda ringan dengan Aldo dan Tere, Diana permisi pergi ke kantor karena banyak urusan di kantor yang harus ia selesaikan. Diana pun beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Di ruangan tersebut sisa Aldo, Tere dan Novan yang sedang memainkan ponselnya.


"Iya," mengingat Aldo yang sama sekali tidak bisa menahan laparnya, Tere tersenyum.


Petugas catering rumah sakit masuk kedalam ruangan membawa troli makanan.


Tere mulai menyuapi Aldo dengan makanan rumah sakit yang sangat dibenci oleh Aldo. Walaupun sebenarnya ia tidak mau tetapi Tere memaksanya dan juga lagi pula ini untuk kesehatan dirinya juga.


"Kalian berdua udah berpacaran berapa lama?" tanya suster yang sedang mengecek kondisi Aldo.


Aldo langsung terdiam, raut wajahnya kebingungan menatap Tere dan suster itu secara bergantian.


Tere hanya terdiam, dia menunggu jawaban keluar dari mulut Aldo.


"Pacaran?" Aldo mengulang perkataan itu sebelum ia terkekeh pelan.


"Dia mah pembantu saya sus," Lanjutnya.


Tere langsung menatap sinis Aldo, yang dilanjutkan dengan kekehan suster itu.


"Sus," Tere memanggil suster itu, dengan wajah datar.


"Iya?" Suster tersebut mengangkat satu alisnya.


"Suntik mati, sus!" Tere mengatakannya sambil menunjuk Aldo menggunakan dagunya.


"Heh!" Aldo menarik rambut Tere yang duduk disampingnya spontan, namun setelah itu ia segera mengelus kepala Tere sambil cekikikan.


Suster itu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa melihat kelakuan Aldo dan Tere.


Novan pun hanya terkekeh pelan di belakang, kekehan Novan membua Tere berbalik dan menatapnya, namun pria itu langsung memasang muka datar dan kembali fokus ke ponselnya.


"Ck adik lo parah banget" Tere berbisik ke Aldo.


"Palingan lagi putus cinta." Aldo mengintip Novan dari balik badan Tere.


Novan yang mendengar itu lalu mendengus kesal.


"Gue nggak lagi putus cinta ya."


Lalu pergi berlalu dari ruangan itu.