
Ceklek...
suara pintu tertutup dari luar ruangan. Tere perlahan membuka matanya setelah memastikan bahwa ia sudah sendirian di ruangan itu. Setetes demi setetes air matanya tumpah membasahi wajahnya.
ia sudah terbangun sedari tadi, saat ketika Aldo memainkan jari jari tangannya. Pembicaraan Kak David dan Aldo kembali terngiang jelas di kepalanya.
"Gue gak ingin ngelupain lo Do..."
~~~
Sebuah gerakan pelan di rambutnya membangunkannya. Tadinya Aldo hanya memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, tidak menyadari jika tindakan kecil itu malah membuatnya jatuh tertidur.
ia segera mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang sedari tadi mengelus rambutnya, seketika bibirnya tertarik ke atas mengetahui siapa orang itu.
Aldo menggenggam tangan Tere yang sedari tadi mengusap pelan rambutnya.
"Ada yang sakit?"
Gadis itu menggeleng pelan, ia tersenyum menampilkan bahwa ia baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Jam menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit, untung saja hari ini hari minggu, sehingga Aldo tidak perlu pergi meninggalkan Tere di rumah sakit. David pulang sekitar jam 4 subuh tadi untuk ngambil baju Tere di rumah dan menjemput papa dan mamanya.
"Kamu laper?" tanya Aldo mencium punggung tangan Tere.
"Kamu?" Tere sedikit tergelitik mendengar Aldo yang aku-kamu an.
"Ya udah, lo laper?"
Gadis itu terkekeh lalu menganggukkan kepalanya.
Aldo mengambil sebuah mangkok bubur yang berada di atas nakas samping ranjang Tere, ketika hendak menyuapi, Tere menahan tangan Aldo.
"Aldo...."
"....gue boleh minta dua permintaan sama lo?" Aldo menaikkan satu alisnya.
"Boleh yaa," Tere mengerucutkan bibirnya.
"Lo juga boleh minta dua permintaan dari gue apa pun itu," lanjut Tere menawarkan.
"Jangan aneh aneh," ucap Aldo, Tere mengangguk cepat.
"Okey apa permintaan lo?" tanya Aldo sambil mulai menyuapkan sesuap bubur ke mulut Tere.
"Permin-"
"Telen dulu," potong Aldo.
Setelah memastikan tidak ada makanan di mulutnya Tere mulai berbicara lagi,
"Permintaan pertama...gue minta sama lo, supaya lo percaya bahwa gue sekarang baik baik aja dan nggak kenapa kenapa..."
"....percaya gue dan jangan khawatirin gue, gue baik baik aja dan akan selalu seperti itu."
Air matanya perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Aldo menganggukkan kepalanya dan menaruh mangkok bubur itu kembali ke atas nakas.
Ia menggunakan jari jempolnya untuk menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipi gadisnya ini.
"Tenang gue bakalan selalu percaya lo baik baik aja dan akan selalu seperti itu." Ia menarik gadis itu kedalam dekapannya. Setelah lama berpelukan, Aldo kembali mengambil mangkuk yang berada di atas nakas sebelumnya.
Setelah menunggu beberapa saat dan Tere belum membuka mulutnya,
"Ree, makan. biar cepet sembuh."
"Gue gak sakit Do."
Aldo menghela nafas panjang,
"Iya lo gak sakit sayang, tapi lo tetep butuh makan, kan?"
"Gue aja," kata gadis itu mencoba mengambil sendok dari tangan Aldo.
"Gak. gue suapin lu. cepet deh nih aaaa,"
Dengan terpaksa Tere pun membuka mulutnya menerima suapan dari Aldo. Baru saja lima suap Tere sudah berbicara, "Udah Do, mual nih."
"Satu suap lagi."
"Lo bohong, dari tadi satu suap mulu."
Aldo tersenyum geli, "Ya udah, minum obatnya."
Aldo memberi beberapa obat ke Tere yang diambilnya dari atas nampan di samping bubur tadi. Tere langsung memasukkan semua obat itu ke mulutnya dan menelannya dalam satu kali percobaan.
"Satu satu Re," tegur Aldo melihat Tere yang sekaligus memasukkan 4 butir obat ke dalam mulutnya.
"Ga enak, kalau satu satu rasa pahitnya malah kerasa banget."
Aldo kembali mengambil bubur bekas Tere yang ada di atas nakas. Dilahapnya dari tempat yang sama membuat Tere mengulum senyum. "Kok dimakan?"
Aldo menoleh, "Nanti mubazir." jawabnya kemudian melanjutkan lagi kegiatan makannya.
"Kakaaak," panggil Tere heboh ketika melihat wajah David muncul dari balik pintu ruang rawatnya, disusul Angga dan Ingrid.
Jam menunjukkan pukul 10 lewat 30 menit,
"Jangan teriak teriak gitu adikku sayang," David berjalan ke arah ranjang Tere dan langsung memeluk sayang adiknya itu.
"Kak David sih lama, Tere kangen tau," ucap Tere mengerucutkan bibirnya.
"Iya iya." David mengacak ngacak rambut adiknya yang lembut itu.
Mata Tere menangkap dua sosok yang berada di belakang tubuh David,
"Mama, Papa." Tere memanggil Angga dan Ingrid untuk mendekat kearahnya. Mereka berdua pun berjalan pelan ke arah ranjang Tere.
"Mama dan Papa lama banget sih, kan Tere bosen disini sama Aldo mulu." yang di sebut namanya langsung menatap tajam Tere.
"Untung untungan ada cowok setampan dan seimut gue yang setia nemanin lo."
"iyeiye maap om," Tere tertawa lepas, entah apa yang ia tertawakan.
See, gue gak kenapa kenapa.