
Tere sudah sampai di sekolah sejak setengah jam yang lalu, namun keadaan sekolah masih sangatlah sepi, berhubung hujan yang turun juga cukup lebat.
Setelah seminggu tidak masuk sekolah akhirnya ia memutuskan untuk masuk sekolah walaupun masih dalam keadaan setengah sehat.
Ia merasa bersalah karena tidak menjawab telfon dari Audri, sudah membuat sahabatnya itu khawatir.
David sudah mengabari Tere tentang keadaan papa mereka, dan dalam beberapa hari kedepan David sudah bisa kembali lagi ke jakarta.
Tere lega mendengar bahwa papanya baik baik saja, ia hanya ingin David segera pulang dan melepaskan rindunya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menceritakan masalahnya ini ke David, karena seperti yang kalian ketahui Tere sama sekali tidak ingin menambah beban pikiran kakanya.
Ia mengetahui bahwa sebenarnya David hanya lah sosok yang sok kuat dan sok tegar di depannya, namun ia tau bahwa sebenarnya David adalah sosok yang rapuh dan juga masih butuh yang namanya kasih sayang.
David masih remaja yang berumur 17 tahun dan di depan Tere berlagak seperti orang dewasa yang berumur sudah puluhan tahun.
Gadis itu duduk di kursi panjang depan kelas, menatapi butir butir hujan yang jatuh membasahi tanah dan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
Hujan mengajariku arti
Betapa pun kamu meninggi
Ada saatnya kamu membumi.
Ia teringat sebuah kalimat yang pernah di ucapkan Aldo.
"Betapa kamu meninggi, ada saatnya kamu membumi." Kata Aldo sambil berkejaran dengan Tere di atas rooftop, memperebutkan bola basket yang sejak tadi menjadi fokus mereka.
"Hah? Maksud lo?" Tere berhenti berlari dan diam di tempat setelah mendengar perkataan Aldo.
"Maksudnya itu, lo itu seperti hujan pertamanya lo berada dilangit, dan kapan kapan saja lo bisa membumi, jatuh. Ada saatnya lo diatas tapi lo harus tau kalo suatu saat lo bakal dibawah," jelas Aldo panjang lebar.
"Tapi tenang aja, saat dimana lo membumi, gue pastiin. Gue bakalan ada disamping lo," kata Aldo sambil menampilkan senyuman khasnya.
"Idiwww, Sa ae lo anak iblis." Lalu mereka berdua tertawa bersama.
.
.
.
.
Tere masih duduk, enggan untuk beranjak dari tempat itu, jantungnya selalu saja sakit tiap mengingat Aldo. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, akhir-akhir ini ia sering merasa sesak di dadanya.
Ia menutup matanya, berusaha menghirup udara lebih banyak untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak, hingga seseorang yang tadinya berjalan kini berhenti tepat di hadapannya, membuat gadis yang mendengar suara sepatu berhenti itu membuka mata dan mendongak.
Aldo.
Cowok itu berdiri di depannya, menyodorkan sekotak bekal makan ke Tere.
Ia rindu wajah teduh lelaki didepannya ini,
Ya Tuhan, bisakah aku memeluknya lagi?
Kalau saat ini ia tidak bisa mengontrol dirinya sudah pasti ia akan menangis dan memeluk lelaki di depannya ini.
"Dimakan," ucap pria itu, Tere hanya menatapnya tidak bergerak.
Aldo menghela nafas,
"Makan ya," Aldo menaruh kotak bekal tadi ke atas paha Tere.
Hening.
Hingga Aldo memutuskan untuk berlalu.
"Buat apa?" tanya Tere dari tempat duduknya, membuat Aldo menghentikan langkahnya.
"Buat apa lo masih peduli sama gue."
"Ga perlu, gue ga butuh."
Aldo hanya bisa diam mendengar nada menyakitkan dari semua kata kata itu.