
Perawat berlalu lalang keluar masuk dari ruang ECT, mempersiapkan terapi yang sebentar lagi akan mereka lakukan.
Gadis itu terbaring kaku di atas ranjang.
(Tere pov)
Tubuhku serasa remuk semuanya, aku ketakutan, bolehkah aku berteriak sekarang? serasa ada sesuatu di dalam tubuhku yang sedari tadi mendesak untuk keluar.
Aku menyesali memberi kesempatan Aldo untuk meminta dua permintaan dariku, tapi sekarang aku bisa apa? tubuhku bahkan tidak bisa ku gerakkan sendiri.
Aku dibaringkan di tempat yang permukaan rata dan cukup keras, tanpa bantal satu pun.
Aku melihat salah satu perawat mendekat padaku sambil membawa suntik, entahlah suntik apa itu. hmmm, sepertinya itu obat bius karena setelah di suntik, mata ku mulai tertutup tidak tahan dengan rasa kantuk yang menyerangku.
(POV author)
Gadis itu diberikan natrium metoheksital zat yang dipakai untuk menghasilkan koma ringan.
Seorang perawat memasukkan karet yang dibungkus kain ke dalam mulut gadis itu. Kedua pelipisnya sudah sudah ditempel elektroda yang dilapisi dengan kasa.
Beberapa perawat mendekat ke arahnya, menahan rahang bawah, bahu, siku, lutut dan pinggang Tere. Dan Terapi pun dimulai.
~~~
Aldo menapakkan kakinya di depan ruangan Tere. Ia menahan nafasnya melihat wajah gadis yang memucat dari balik jendela kecil ini, bibirnya nyaris membiru. Di sana, dokter dan para perawat berjejer untuk menjalankan tugasnya masing-masing.
Sementara Aldo di sini hanya bisa mematung, dengan perasaan sakit yang menyerang segala organ tubuhnya, hatinya berkedut nyeri.
Di sebelahnya ada David yang senantiasa memejamkan mata sambil merapalkan doa untuk sang adik, berharap sesuatu yang indah akan kembali di kehidupan adiknya.
Di luar sana, daun pun mulai berguguran, angin berhembus menerbangkan helai helai rambut manusia yang berlalu lalang. Sinar mentari mulai menghilang ditelan gelapnya malam, lampu lampu jalan mulai berkedipan di sana sini berkolaborasi dengan ranting pohon yang berayun ditinggal daunnya.
Di balik kaca jendela ini, Gadis itu terbaring, menggeliat sedikit, meregangkan otot\-ototnya yang terasa pegal seraya menghirup aroma khas rumah sakit, membuatnya mengernyit tak suka.
Tere mendudukkan pelan badannya dan bersandar di kepala ranjang, seketika perasaan kosong menghampirinya, ia merasa otaknya terasa lebih ringan? mungkin.
Ia mengedarkan pandangannya dan matanya langsung bertatapan dengan pria yang sedang duduk di sofa samping ranjangnya, membuatnya sedikit kaget.
Tere mengerutkan dahinya ketika mendapati pria itu hanya menatap kosong manik matanya.
"Kamu...."
"Siapa?"
Pria itu tidak menjawab.
Ia hanya memperlihatkan kehancurannya saat Tere menanyakan siapa dirinya.
Dadanya bergemuruh nyeri saat melihat tatapan menyedihkan dari mata pria itu. Tere tau pria itu terluka, dan ia ikut merasakannya.
Tanpa tau penyebabnya.
~~~
\(*Aldo Pov*\)
Aku masih setia menunggunya terbangun dari tidurnya, setelah terapi tadi siang Tere belum juga bangun dari tidurnya.
Berbagai pertanyaan menyelinap di kepalaku, apa yang selanjutnya akan terjadi? Apa yang akan aku lakukan ketika ia terbangun? Apakah ia masih mengingatku? Apakah ketika ia bangun aku masih bisa memeluknya?
Pergerakan di atas kasur membuat ku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi menunduk, nafas ku langsung tercekat, aku melihat Tere yang mendudukkan badannya di atas ranjang.
Pandangan kami bertemu tatkala ia mengedarkan pandangannya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Berjalan ke sana dan langsung memeluknya atau menyebutkan namanya saat ini juga.
Wait... Apakah ia masih mengingat ku?
"Kamu...siapa?" Dua kata itu langsung menjawab pertanyaanku dan hampir berhasil membuat air mata ku jatuh, namun aku masih bisa menahannya.
Ingatannya berhenti tepat sasaran, dua tahun yang lalu. Di saat ia masih normal, sebelum penyakitnya kambuh lagi.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan langsung mengambil ponsel dari saku bajuku, mengetikan sesuatu di sana dan mengirimnya.
Baru beberapa detik setelah aku mengirimkan pesan itu, pintu kamar rawat terbuka disusul wajah David yang muncul dari baliknya.
"Tere...." suara David terdengar lirih, ia berjalan mendekat ke ranjang adiknya, ia pasti sangat menunggu momen bahagia ini. Adiknya sudah sembuh.
Tere bergerak gelisah di atas kasurnya, ia seperti memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalanya yang harus dijawab oleh orang yang dia kenal.
Tanpa membuka suara menyadari posisiku, aku langsung beranjak berdiri dari dudukku, mendekat pada gadis itu mengusap puncak kepalanya dan berjalan keluar kamar.