MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
57



Gadis itu perlahan membuka matanya, dengan malas ia mendudukkan tubuhnya, sinar matahari yang masuk melalui celah celah horden membuatnya menyipitkan matanya.


"Sayang," panggil seseorang, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke orang itu.


"Mama?" ucapnya dengan mata yang melebar.


"Papa?" ucapnya kembali sesaat setelah ia melihat seorang pria masuk ke dalam kamarnya.


"Mama kangen banget sama kamu." Ingrid mendekat ke kasur Tere, lalu memeluk anaknya yang masih duduk di atas kasur.


Tere hanya diam saja, ia tidak bisa berkata kata ia hanya bisa membalas pelukan Ingrid.


Saat ini ia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia, bayangkan saja sudah berapa tahun ia tidak bertemu dengan Ingrid dan Angga. Ia mulai meneteskan air mata bahagianya.


"Mah, Tere kangen banget sama mama." Tere semakin mengeratkan pelukannya.


Melihat istri dan putrinya yang sedang berpelukan sambil menangis membuat Angga tersenyum dari ujung kasur.


"Anak papa yang cantik udah besar ya." Angga mendekat ke Tere dan mengelus sayang kepala anaknya ini.


"Iyalah pa, masa iya Tere kecil Terus." Kali ini pelukannya sudah ia pindahkan ke Angga.


Angga terkekeh mendengar perkataan Tere, kemudian tidak sengaja matanya menangkap wajah kebahagiaan yang sudah lama tidak ia lihat di wajah istrinya.


Ingrid menghapus air mata dari wajahnya dan berdiri dari kasur Tere,


"Tere laper?" Ia menangkup wajah Tere menggunakan kedua tangannya.


Tere mengangguk semangat.


"Ayo turun, mama dan kakak udah masak makanan yang banyak untuk kita berempat."


Ingrid menggandeng tangan Tere dan Angga untuk sama sama berjalan ke dapur di bawah.


Dari tangga sudah tercium jelas aroma masakan yang sangat menggugah selera Tere, perutnya sangat keroncongan, saat sampai di depan pintu dapur, Tere dapat melihat David yang tengah menyiapkan gelas sebanyak 4 biji di atas meja makan.


"Kakak." Tere berjalan mendahului papa dan mamanya dan langsung memeluk tubuh kakaknya.


David menerima pelukan Tere dengan tangan terbuka lebar, lalu mencium puncak kepala Tere dengan gemas.


"Manjanya gak ilang ilang ya, katanya tadi udah besar," ujar Angga sambil duduk di kursi meja makan, setelah menarik kursi untuk Ingrid dan mempersilahkannya duduk.


Tere tersenyum bahagia melihat perlakuan manis papanya ke mamanya.


"Ga papa, asal manjanya ke David doang," sahut David sambil mengusak puncak kepala Tere, membuat rambut adiknya itu berantakan.


"Udah udah, sekarang ayo makan, David udah lapar." David menarikkan kursi untuk adiknya itu lalu duduk di kursi sebelahnya.


Beberapa jam sebelumnya....


"Ma, pa, David mohon, kali ini saja, di depan Tere kalian harus terlihat saling menyayangi dan cinta satu sama lain." David menatap lekat kedua orang tuanya yang baru saja tiba dari Jakarta.


Ingrid dan Angga hanya bertatapan satu sama lain, saling meminta persetujuan dari permintaan anak tertua mereka.


Sampai akhirnya Angga membuka suara duluan.


"Baik, kami akan terlihat seperti sepasang suami istri bahagia di depan Tere."


"Makasih pa, ma." David memeluk kedua orang tuanya dan mencium pipi mereka secara bergantian.


"Iya...."


"Kalau gitu sekarang dimana Tere?" Tanya Ingrid sambil memegang kedua pundak David.


Ia sangat tau betapa hancurnya David sekarang, melihat adiknya yang kembali seperti dulu lagi, hal itu membuat hati seorang kakak ini hancur berkeping keping, menyalahkan dirinya sendiri atas ketidak becusannya menjaga adiknya.


Setelah mendapat telfon dari David kemarin tentang keadaan Tere saat ini, ia langsung mengajak suaminya bicara baik baik dan segera terbang menuju ke kota tempat kedua anaknya tinggal ini.


"Dia masih tidur di kamar, setelah semalaman histeris sambil meneriak neriakkan nama Reyhan," David berjalan duluan untuk memperlihatkan dimana kamar Tere.


"Kemarin aku sudah meminum kan beberapa obat yang di beri dokter, namun efeknya tidak terlalu mempan, ia hanya tenang sesaat lalu kembali histeris," David membuka pintu kamar Tere perlahan, takut membuat adiknya terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Mama janji akan buat Tere kembali seperti sedia kala," air mata Ingrid terjatuh karena baru pertama kali melihat putrinya setelah bertahun tahun tidak menemuinya, namun sekarang mereka di pertemukan dengan keadaan Tere yang seperti ini.


Angga yang melihat Ingrid menangis ingin menghapus air mata itu dari pipi Ingrid, namun egonya terlalu besar untuk melakukan hal itu.


"Iya ma," David memeluk tubuh mamanya, ia tau apa yang dirasakannya pasti sama dengan apa yang mamanya rasakan saat ini.


"Nanti tidur Tere terganggu, kita turun saja ke bawah," kata Angga, Ingrid pun.


David melepaskan pelukannya,


"sekarang kita masak aja, kalau Tere bangun dia pasti lapar."


David berjalan duluan menuju ke arah dapur diikuti dengan Ingrid dan Angga yang belum beranjak dari tempatnya. Ia menatap punggung istrinya yang semakin lama semakin mengecil dari pandangannya.


'Padahal aku benar benar mencintainya.'