
"Reyhan, bentar malam lo mau makan apa?"
"Seafood?"
"Hmm pasta mungkin?"
"Rey jawab gue! kok lo diem aja sih dari tadi," geram gadis itu sambil mengguncang guncang tubuh lelaki yang duduk dihadapannya.
Lelaki itu hanya diam sambil menatap pasrah ke manik mata gadis itu.
"Gue kan capek kalo ngomong sendiri mulu, nanya sama lo kayak nanya sama tembok tau nggak Rey."
"Reyhan jawab gue!!" Gadis itu terus mengguncang bahu lelaki itu.
Lelaki akhirnya memegang tangan Tere yang berada di bahunya, sementara tangannya yang satu lagi memegang kursi tempatnya duduk.
"Re."
"Ini Kak David."
"Bukan Reyhan."
Sudah seminggu berada di rumah sakit keadaan Tere belum juga membaik, sifatnya kadang berubah ubah dengan cepat. Yang tadinya lembut seketika bisa langsung jadi galak dan langsung kembali lembut lagi. Yang tadinya sedang tertawa seketika bisa nangis dan langsung tertawa lagi.
David sudah berada dua jam disamping Tere, menggantikan posisi Aldo yang sedang pulang untuk mengistirahatkan badan setelah menemani Tere dan tidur di sofa selama satu minggu belakangan ini.
Ia duduk sambil terus mendengar kalimat sampah tidak bermakna yang sedari tadi Tere ucapkan.
Memanggilnya dengan nama Rey, menanyakan bagaimana cara mati yang nyaman, dan berbagai hal yang tak masuk akal lainnya.
'Gimana kabar Aldo yang tiap hari ada di samping kamu Re.'
"Kak, Tere kangen Reyhan."
"Sekarang kamu kembali tidur yah, kakak mau keluar cari minum dulu yah."
Gadis itu mengangguk dan membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang.
~~~
David sedang berjalan keluar dari kantin rumah sakit sambil membawa sebuah botol minuman di tangan kanannya, ia berjalan santai ke arah kamar inap adiknya, sebelum akhirnya dia mempercepat langkah kakinya ketika melihat segerombolan perawat disana yang menggedor-gedor pintu kamar itu.
Terdengar suara meraung-raung, indera pendengarannya yang cukup tajam itu membuatnya lari seketika.
Suara raungan itu semakin lama semakin jelas. Itu suara Tere yang ada di kamar inapnya.
David menggedor-gedor pintu kamar Tere dan meneriakkan nama gadis itu. Tetapi pintu tidak kunjung dibukakan.
"SEMUA PERGI! GUE GAK MAU HIDUP LAGI!" Tere berteriak dalam tangisannya.
"Re, buka pintunya dulu ini kakak, kita bicara baik baik," bujuk David, namun hanya terdengar suara tangisan dari dalam sana.
"Bicara baik baik apa lagi kak? Tere tau kakak mau hilangin ingatan Tere kan!? Kenapa kak? TERE GAK GILA AARRGHH!!" Terdengar kembali teriakan menyakitkan gadis itu.
"Gak Re, kamu gak gila. Jangan kayak gini."
"Kakak sayang sama kamu." David mengetuk ngetuk pelan pintu ruangan itu.
"Kakak bohong, Kakak gak sayang sama Tere, Kakak cuma kasihan sama Tere!"
Suara kaca pecah terdengar dari dalam ruangan membuat suasana di sana semakin mencekam.
*Prang.....
q q q q q q q q q q q q q q q q q q qq q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q*