MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
53



Pak Resi hanya bisa terdiam.


"Kenapa bapak diam? Bapak tidak tahu jawabannya?"


"Jelaslah....Karena bapak sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti saya, bapak tidak tau rasanya dipermalukan di depan umum kayak gimana, bapak nggak tau rasanya ditampar, dipukul, bahkan disiram dengan air pel, bapak gak tau...."


Sekarang kedua lututnya sudah merosot ke lantai, ia perlahan mengusap air matanya yang terus mengalir.


Tere menaruh kembali kompresan di atas meja dan berdiri.


"Terima kasih pak, saya kembali dulu permisi."


Tere keluar dari ruangan Pak Resi, ia berlari sambil menundukkan pandangannya, koridor kelas sepi, karena jam pelajaran pertama sudah dimulai setengah jam yang lalu.


Tiba-tiba sepasang sepatu berhenti di depannya membuat ia mau tidak mau menghentikan larinya dan langsung menubruk tubuh orang itu.


"Kak david." Tere terdiam tidak berani bergerak, ia hanya bisa melihat raut khawatir dari wajah kakak kesayangannya ini.


Bagaimana ini? Sekarang ia sudah menciptakan masalah baru untuk David.


David yang tidak melihat pergerakkan dari Tere menarik Tere ke dalam pelukannya, Tere pun membalas memeluknya dan menangis di dekapan kakaknya.


Akhirnya isakan yang dari tadi ia tahan, sekarang bisa ia keluarkan secara lepas, betapa sesaknya saat ia harus terlihat tegar, namun air matanya terus saja mengalir.


David menaruh dagunya di atas kepala Tere. Setelah mendengar dari Wira tentang perkelahian adiknya di area parkir, ia langsung berlari menuju ke ruang kepala sekolah.


"Kak."


"Tere nggak salah."


"Iya Tere nggak salah." David mengelus rambut adiknya.


"Dia duluan yang mulai, bukan Tere."


"Iya dia duluan yang mulai, bukan Tere."


"Tere cuma nggak sengaja mau ngebunuh dia."


Tubuh David menegang seketika.


Bunuh?


David melepaskan dekapannya dari sang adik, perkataan dari adiknya sangat ambigu.


"Tere cuma nendang dia, Tere gak bunuh dia kak," ucap Tere


"Iya, Tere gak bunuh siapa siapa kok." David mengusap punggung Tere, mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantong jasnya dan mengelap air mata Tere.


"Jangan kak."


"Jangan."


"Kenapa?"


"Tere gak mau duduk di kursi itu." Air mata gadis itu tiba-tiba mengalir lagi.


"Kenapa?" David bertambah heran, apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya saat ini.


"Nanti..."


"Tere ngelihat Reyhan lagi."


Badan David rasanya seperti di tusuk menggunakan seribu pisau, hal yang selama ini dia takutkan akhirnya terjadi lagi.


"Tere nggak mau, Tere takut."


David kembali memeluk tubuh adik kesayangannya ini, "Kapan terakhir kali Tere ngelihat Reyhan lagi?" tanya David hati-hati.


"Saat kaka masih di Bandung ."


****! Di saat gue gak ada di sampingnya.


Apa yang terjadi saat gue gak di Jakarta,


Apa yang harus gue lakuin sekarang?


David membiarkan Tere memeluknya sampai adiknya itu tenang.


Tere melepaskan pelukannya dari David, ia mengelap air matanya menggunakan ujung dasinya.


"Udah tenang?"


"Udah kak." Tere menjawab sambil sesegukan.


"Sekarang kamu ke kelas, jangan mikir macam macam, kalau kamu butuh sesuatu tinggal telfon kakak."


Tere hanya mengangguk patuh.


"Pulang nanti langsung temuin kaka di parkiran."


Tere mengangguk, David mengusak rambut Tere, dan menggenggam tangannya, mengantar adik kesayangannya sampai ke dalam kelas.


"Semua ini harus segera ditangani."